Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 11:21 WIB

Benteng Oranje Ternate, Situs Bersejarah Saksi Kejayaan Perdagangan Rempah Dunia

Benteng Oranje Ternate, Situs Bersejarah Saksi Kejayaan Perdagangan Rempah DuniaBenteng Oranje Ternate (Humas/Wonderful Ternate)

MALUKU - Ternate bukan hanya dikenal sebagai kota dengan panorama Gunung Gamalama yang megah, tetapi juga sebagai pusat sejarah perdagangan rempah dunia. Salah satu situs paling ikonik yang menjadi saksi bisu era tersebut adalah Benteng Oranje. Terletak di jantung Kota Ternate, Maluku Utara, benteng ini menjadi landmark bersejarah yang merekam dinamika kolonialisme dan perebutan pengaruh atas komoditas paling berharga pada masanya: pala dan cengkih.

Sebagai salah satu peninggalan penting era VOC, Benteng Oranje tidak hanya menghadirkan nilai historis, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Di sinilah jejak perdagangan rempah yang pernah menghubungkan Maluku dengan pasar global masih terasa kuat hingga kini.

Benteng Oranje dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matelieff de Jonge, seorang laksamana Belanda. Pembangunannya dilakukan tidak lama setelah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil menancapkan pengaruhnya di Ternate. Benteng ini didirikan di atas lokasi benteng Portugis sebelumnya, yang kemudian dimanfaatkan kembali oleh Belanda untuk memperkuat dominasi mereka di wilayah Maluku.

Pada abad ke-16 hingga ke-17, Maluku dikenal sebagai satu-satunya sumber cengkih dan pala di dunia. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi di pasar Eropa, sehingga memicu persaingan ketat antarbangsa kolonial seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda. Dalam konteks inilah Benteng Oranje memegang peranan strategis.

Benteng ini berfungsi sebagai markas besar VOC di Kepulauan Maluku sekaligus pusat pengendali monopoli perdagangan rempah. Dari tempat inilah kebijakan ekonomi dan politik VOC dijalankan, termasuk pengaturan distribusi rempah dan pengawasan wilayah kekuasaan.

Benteng Oranje juga menjadi saksi berbagai konflik antara kekuatan kolonial Eropa dan kesultanan-kesultanan lokal, terutama Kesultanan Ternate. Keberadaannya melambangkan peralihan kekuasaan dari Portugis ke Belanda di wilayah Maluku.

Perubahan dominasi tersebut tidak terjadi tanpa perlawanan. Kesultanan Ternate sebagai kekuatan lokal memiliki peran penting dalam dinamika politik regional. Benteng ini menjadi simbol bagaimana kolonialisme berusaha mengokohkan pengaruhnya, sekaligus pengingat akan ketahanan masyarakat lokal dalam mempertahankan kedaulatan.

Dalam sejarah Indonesia, periode ini menandai bab penting kolonialisme yang berdampak besar pada sistem ekonomi, politik, dan sosial di Nusantara. Benteng Oranje menjadi salah satu bukti fisik yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Secara arsitektur, Benteng Oranje memiliki bentuk persegi dengan dinding batu tebal yang mengelilinginya. Di setiap sudut terdapat bastion atau menara pertahanan yang dirancang untuk mengantisipasi serangan. Struktur ini mencerminkan gaya arsitektur militer khas Belanda pada awal abad ke-17.

Di bagian tengah benteng terdapat halaman luas yang dahulu digunakan untuk berbagai aktivitas militer dan administrasi. Di dalam kompleksnya terdapat bangunan-bangunan yang dulunya berfungsi sebagai barak prajurit, gudang penyimpanan rempah, serta kantor administrasi VOC.

Material utama yang digunakan dalam pembangunan benteng adalah batu lokal dan karang, yang membuat strukturnya tahan lama. Meski beberapa bagian telah mengalami restorasi, sebagian besar keaslian arsitekturnya masih terjaga. Hal ini memungkinkan pengunjung merasakan atmosfer kolonial yang autentik saat memasuki kawasan benteng.

Benteng Oranje bukan sekadar simbol kekuasaan kolonial Belanda. Di sisi lain, ia juga menjadi pengingat akan sejarah perlawanan masyarakat lokal, khususnya Kesultanan Ternate, dalam menghadapi dominasi asing.

Sejarah benteng ini erat kaitannya dengan posisi Ternate sebagai pusat perdagangan rempah global. Pada masanya, kota ini menjadi titik temu berbagai bangsa dari Eropa, Timur Tengah, hingga Asia. Interaksi tersebut membentuk dinamika sosial dan budaya yang kompleks.

Mengunjungi Benteng Oranje berarti menelusuri jejak sejarah ekonomi dunia, ketika pala dan cengkih menjadi komoditas yang mampu menggerakkan ekspedisi besar lintas samudra. Dari Maluku, rempah-rempah tersebut mengubah peta perdagangan internasional dan memengaruhi hubungan antarnegara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wonderful.ternatekota.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Benteng Oranje Ternate, Situs Bersejarah Saksi Kejayaan Perdagangan Rempah Dunia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!