Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 31 MARET 2026 • 08:20 WIB

Kendi Pusaka dan Perahu Ajaib: Hikayat Eksodus Bangsawan Tuban Menuju Tanah Hitu

Kendi Pusaka dan Perahu Ajaib: Hikayat Eksodus Bangsawan Tuban Menuju Tanah Hituasal-usul penduduk Pulau Ambon

MALUKU  – Sejarah kepulauan Maluku sering kali berkelindan antara fakta empiris dan kekuatan mitologi yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu versi yang paling memikat tentang asal-usul penduduk Pulau Ambon datang dari penuturan Raja Hitulama, yang merupakan keturunan langsung dari Pati Kawa, bangsawan asal Kerajaan Tuban.

Jika Imam Rijali dan Orang Kaya Hila memberikan perspektif diplomasi, versi Raja Hitulama membawa kita pada narasi yang lebih emosional: tentang kutukan kendi pusaka, kekuatan doa seorang pangeran, dan diaspora besar-besaran yang melahirkan negeri-negeri di Jazirah Leihitu hingga Leitimor.

Pulau Ambon, khususnya Jazirah Hitu, bukanlah sekadar tanah yang ditemukan secara tidak sengaja. Bagi masyarakat Hitulama, keberadaan mereka adalah hasil dari perjalanan spiritual dan fisik para putra raja dari Jawa Timur yang mencari martabat baru setelah sebuah insiden tragis di istana mereka.

Kisah ini bermula di Kerajaan Tuban. Raja Tuban dikisahkan memiliki enam orang putra dan seorang putri cantik bernama Nyai Mas. Konflik besar meletus ketika putra bungsu yang bernama Paturi melakukan kesalahan fatal yang tidak disengaja: ia memecahkan Kendi Pusaka milik ayahnya saat hendak mengambil air.

Pecahnya kendi tersebut bukan sekadar kerusakan barang, melainkan simbol retaknya hubungan keluarga. Kemurkaan sang ayah membuat Paturi merasa terbuang. Dengan hati hancur, ia memohon izin ibundanya untuk pergi merantau, meninggalkan kemewahan istana demi menebus rasa bersalah.

Di tepi pantai Tuban, Paturi menunjukkan keajaiban pertama. Ia menggambar sebuah perahu layar lengkap dengan anak buahnya di atas pasir. Sambil berdoa, ia berucap: "Jika aku benar-benar keturunan raja Tuban, biarlah saat ini ada perahu yang membawaku berlayar jauh." Seketika, laut bergejolak dan sebuah perahu nyata muncul persis seperti gambaran di pasir tersebut. Keajaiban ini menjadi legalitas ilahi bahwa perjalanan Paturi direstui oleh alam semesta.

Melihat adik bungsunya bersiap pergi, dua saudaranya, Pati Kawa dan Nyai Mas, merasa tidak tega. Meskipun telah dibujuk untuk pulang, Paturi tetap teguh pada pendiriannya. Alih-alih membiarkan adik mereka pergi sendiri, Pati Kawa dan Nyai Mas memutuskan untuk ikut serta dalam pelayaran yang belum diketahui tujuannya itu.

Ketiga bersaudara ini, bersama para pengikut setia, akhirnya membelah samudra menuju arah timur. Perjalanan ini bukanlah pelarian biasa, melainkan sebuah misi diaspora yang nantinya akan "menebar" benih-benir peradaban di sepanjang rute yang mereka lalui.

Perahu ajaib Paturi tidak langsung menuju Ambon. Sepanjang perjalanan, beberapa anggota rombongan turun dan membangun pemukiman baru. Hal ini menjelaskan mengapa banyak keterikatan nama dan silsilah antara Jawa dan Maluku:

  1. Pulau Manipa singgahan pertama adalah Pulau Manipa (dekat Pulau Buru). Di sini, sebagian anak buah kapal turun dan membangun sebuah negeri yang mereka beri nama Tuban, sebagai bentuk kerinduan pada tanah kelahiran mereka.
  2. Negeri Lima rombongan kemudian mencapai Jazirah Hitu dan singgah di Negeri Lima. Beberapa orang kembali turun untuk menetap di sana.
  3. Penasehat di Latea saat beristirahat di pantai Hitu, dua pengikut bernama Tukang dan Sopalio memutuskan menetap. Hanya dalam hitungan bulan, keduanya diangkat menjadi penasehat penting di Negeri Latea.
  4. Jazirah Leitimor (Hutumuri) perjalanan berlanjut ke sisi selatan Ambon. Di pantai Hutumuri, beberapa kru kapal masuk ke hutan untuk mencari kayu dan memutuskan tidak kembali karena menemukan kecocokan dengan lahan tersebut. Pemimpin mereka, Pati Tunawa, kemudian diangkat menjadi raja pertama di Hutumuri.
  5. Tial, Suli, dan Hatusua jejak mereka pun tertanam di Pasir Putih (Negeri Tial) dengan pemimpin bernama Lillobessy, serta di Negeri Suli. Bahkan, pelayaran ini mencapai pesisir selatan Seram (Hatusua), di mana tokoh Toma Ela Pelu dan Tahalele menjadi kepala Soa.

Puncak dari hikayat ini adalah ketika perahu kembali membuang jangkar di Jazirah Hitu. Pati Kawa, yang turun ke darat, melakukan eksperimen unik untuk memastikan apakah wilayah tersebut subur dan berpenghuni.

Berbeda dengan versi lain, Pati Kawa menangkap seekor anjing dan mengalungkan bungkusan berisi bawang, lada, dan garam (simbol peradaban dapur yang dibawa dari Jawa). Setelah anjing itu dilepaskan dan masuk ke hutan, ia kembali dengan kalungan buah-buahan segar seperti pisang, jambu, dan langsat.

Bagi Pati Kawa, ini adalah sinyal bahwa tanah Hitu adalah "Tanah Perjanjian" yang sangat subur. Penangkapan anjing tersebut dilakukan oleh Besi, inang pengasuh Paturi. Akhirnya, setelah mendapat izin dari penguasa setempat yang bernama Tomuwolon, rombongan bangsawan Tuban ini menetap secara resmi di Hitu.

Ceritera dari Raja Hitulama ini mempertegas posisi Hitu sebagai melting pot (titik temu) kebudayaan nusantara. Kehadiran Pati Kawa, Paturi, dan Nyai Mas memberikan warna baru pada struktur kemasyarakatan yang sebelumnya telah dibuka oleh Pati Selang Binaur dari Seram.

Kisah kendi yang pecah menjadi metafora tentang bagaimana sebuah kehancuran di satu tempat (Tuban) bisa menjadi awal mula pembangunan di tempat lain (Ambon). Keberadaan negeri-negeri seperti Hutumuri, Tial, dan Suli yang dikaitkan dengan rombongan ini menjadi bukti betapa eratnya pertalian darah dan sejarah antara Jawa dan Maluku yang dijaga dalam memori kolektif hingga ratusan tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kendi Pusaka dan Perahu Ajaib: Hikayat Eksodus Bangsawan Tuban Menuju Tanah Hitu

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!