Hitu lahir dari sinergi empat suku.
MALUKU – Sejarah Jazirah Leihitu di Pulau Ambon kembali menyuguhkan narasi yang penuh dengan kecerdikan politik dan tuntunan spiritual. Setelah kita menelusuri gelombang perintis dari Seram, bangsawan Tuban, dan pangeran Bacan, kini kita sampai pada fragmen terakhir yang melengkapi struktur kepemimpinan legendaris "Empat Perdana Hitu".
Berdasarkan Hikayat Raja Hitulama, gelombang keempat ini melibatkan kedatangan rombongan dari Gorom (Seram Timur) yang diwarnai dengan ujian batin melalui siasat pernikahan yang sangat masyhur dalam ingatan kolektif masyarakat Maluku.
Sejarah besar sering kali ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil yang penuh hikmat. Kedatangan rombongan keempat di Jazirah Leihitu dimulai ketika Bakar Perdana Djamilu (putra dari Halmahera yang telah menetap di Hitu) mendengar kabar tentang kehadiran sekelompok orang dari Gorom di wilayah Kaitetu. Sebagai seorang pemimpin yang visioner, Djamilu menyadari bahwa kekuatan Hitu hanya bisa tegak jika seluruh pendatang dari berbagai penjuru bersatu dalam satu payung kepemimpinan.
Awalnya, ajakan Bakar Perdana Djamilu agar orang-orang Gorom tinggal bersama di negerinya sempat menemui penolakan. Orang-orang Gorom yang dikenal sebagai pelaut tangguh dan memiliki harga diri tinggi tidak serta-merta mau tunduk atau bergabung begitu saja. Namun, Djamilu tidak berputus asa.
Ia menggunakan "diplomasi kasih sayang" dengan menjanjikan sebuah ikatan darah: ia akan menikahkan putrinya dengan pemimpin rombongan Gorom, yaitu Patih Gorom. Janji pernikahan ini akhirnya melunakkan hati orang-orang Gorom, dan mereka pun setuju untuk berpindah ke negeri Djamilu.
Sesuai dengan gelarnya yang dikenal bijaksana namun penuh siasat, Perdana Djamilu tidak ingin memberikan putrinya kepada sembarang orang tanpa sebuah ujian. Pada hari pernikahan, Djamilu menjalankan rencana yang licik namun cerdas. Ia memerintahkan salah seorang hamba perempuannya untuk mengenakan pakaian pengantin yang sangat mewah, sementara putri kandungnya sendiri disuruh mengenakan pakaian lusuh layaknya seorang pelayan.
Patih Gorom, yang saat itu belum pernah melihat wajah calon istrinya, dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan. Secara visual, siapa pun akan memilih wanita yang berpakaian megah. Namun, Patih Gorom bukanlah pria biasa; ia memiliki ketajaman batin dan firasat bahwa ada tipu daya yang sedang dilancarkan oleh calon mertuanya tersebut.
Ketegangan memuncak saat ritual sirih pinang dimulai. Patih Gorom dengan halus menolak suguhan sirih pinang dari Djamilu, sebuah tindakan yang sempat membuat Djamilu heran. Patih Gorom justru mengeluarkan pinang yang dibawanya sendiri dari rumah. Sambil mengunyah pinang tersebut, ia merapal doa dalam hati, memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk menunjukkan mana putri raja yang sebenarnya.
Ia kemudian melemparkan sepah pinang (ampas pinang) ke arah kedua perempuan di hadapannya. Secara ajaib, sepah pinang itu meluncur dan jatuh mengenai tubuh perempuan yang berpakaian pelayan. Patih Gorom tersenyum dan menyatakan dialah calon istrinya.
Terperangah dengan ketajaman mata batin Patih Gorom, Perdana Djamilu akhirnya mengakui kekalahannya dalam bersiasat dan merestui pernikahan tersebut. Sejak saat itu, orang-orang Gorom resmi menetap dan menjadi bagian dari kekuatan inti Hitu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk di Jazirah Leihitu semakin membengkak. Kedatangan orang-orang Nuan Samaulu dari Pulau Seram yang bermukim di pegunungan Mamala semakin menambah keragaman. Menyadari perlunya tatanan hukum yang tunggal, seluruh pemimpin suku sepakat untuk memilih seorang raja yang akan berkuasa di sepanjang wilayah tersebut.
Melalui proses pemilihan yang sakral, terpilihlah Paturi (pangeran asal Tuban) sebagai Raja pertama. Untuk menjalankan roda pemerintahan, Paturi dibantu oleh empat orang pembantu raja yang dikenal sebagai Empat Perdana:
Paturi kemudian memperkuat silsilah kerajaan dengan menikahi kemenakannya, dan keturunan mereka terus memegang tampuk kekuasaan di Negeri Hitu secara turun-temurun. Dengan terbentuknya struktur ini, berakhirlah masa migrasi besar dan dimulailah era keemasan Kerajaan Hitu.
Kisah ini menegaskan bahwa identitas manusia Ambon, khususnya di Jazirah Leihitu, merupakan perpaduan harmonis dari empat akar besar: Huamual (Pulau Seram), Tuban (Pulau Jawa), Jailolo (Pulau Halmahera), dan Gorom (Seram Timur). Persatuan ini bukan karena paksaan militer, melainkan karena kecerdikan diplomasi, ujian batin, dan kesadaran bersama untuk hidup rukun dalam perbedaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah