Ilustrasi permainan tradisional Leng Kali Leng Maluku
MALUKU - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak masa kini semakin akrab dengan gadget dibanding permainan tradisional. Padahal, permainan tradisional menyimpan nilai budaya, kebersamaan, hingga pembentukan karakter yang sangat penting. Salah satu permainan khas dari Maluku yang sarat makna tersebut adalah Leng Kali Leng.
Permainan ini mungkin terdengar unik dari namanya, bahkan tidak banyak yang mengetahui asal-usul pasti dari istilah “Leng Kali Leng”. Namun, justru di situlah letak kekhasannya ia tumbuh dari tradisi lisan masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi tanpa catatan tertulis, tetapi tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Leng Kali Leng merupakan permainan kelompok yang dimainkan oleh banyak anak. Tidak memerlukan alat khusus, hanya membutuhkan ruang terbuka dan kain untuk menutup mata salah satu pemain. Kesederhanaan ini menjadi ciri khas permainan tradisional yang mudah dimainkan kapan saja dan di mana saja.
Dalam permainan ini, satu orang akan berperan sebagai “Cina Buta” atau pemain yang matanya ditutup. Sementara pemain lainnya membentuk lingkaran dengan saling berpegangan tangan, mengelilingi si buta yang berada di tengah.
Permainan dimulai dengan menyanyikan lagu khas:
leng kali leng
kali leng cina buta
awas anak kecil
ditangkap cinta buta, buta…
Lagu ini dinyanyikan sambil para pemain berputar mengelilingi si buta. Suasana riang dan penuh tawa biasanya langsung terasa sejak awal permainan.
Saat lagu mencapai bagian akhir “buta” para pemain akan berteriak sambil mengacak rambut si buta. Setelah itu, mereka segera berpencar untuk menghindari tangkapan.
Di sinilah tantangan dimulai. Dengan mata tertutup, si buta harus berusaha menangkap salah satu pemain. Tidak hanya itu, setelah berhasil menangkap, ia juga harus menebak siapa pemain yang ditangkapnya.
Jika tebakannya benar, maka pemain tersebut akan menggantikan perannya sebagai si buta. Namun jika salah, permainan akan diulang dan ia tetap menjadi si buta.
Permainan ini menghadirkan keseruan yang berbeda. Anak-anak tidak hanya berlari dan menghindar, tetapi juga berusaha mengecoh si buta agar tidak mudah dikenali.
Meski terlihat sederhana, Leng Kali Leng mengandung banyak nilai penting. Salah satunya adalah keberanian. Menjadi si buta bukanlah hal mudah dibutuhkan keberanian untuk bergerak tanpa melihat dan menghadapi ketidakpastian.
Selain itu, permainan ini juga mengajarkan kejujuran. Saat si buta menebak identitas pemain, tidak ada wasit yang mengawasi. Semua bergantung pada kejujuran pemain yang tertangkap.
Nilai kebersamaan juga sangat terasa. Permainan ini tidak bisa dimainkan sendiri. Dibutuhkan banyak pemain untuk menciptakan suasana yang hidup dan menyenangkan. Interaksi sosial yang terbangun menjadi bagian penting dari pengalaman bermain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Budaya-indonesia.org