MALUKU - Ternate tidak hanya dikenal sebagai kota sejarah dan rempah, tetapi juga sebagai surga geowisata yang menyimpan jejak letusan gunung berapi ratusan tahun silam. Salah satu destinasi yang wajib masuk dalam daftar kunjungan adalah Geowisata Batu Angus. Terletak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Ternate, Maluku Utara, kawasan ini menghadirkan pemandangan dramatis berupa hamparan batuan vulkanik hitam yang membentang hingga ke pesisir laut.
Lokasinya berada di kaki Gunung Gamalama dan menghadap langsung ke Samudra Pasifik. Akses menuju kawasan ini terbilang mudah. Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, dengan kondisi jalan yang sudah diperbaiki sehingga lebih nyaman dilalui. Kombinasi lanskap gunung dan laut menjadikan Batu Angus sebagai destinasi yang unik dan berbeda dari kebanyakan objek wisata alam lainnya di Ternate.
Baca juga: Hidden Gem Ternate untuk Liburan Keluarga, Ini Daya Tarik Agrowisata Loto
Nama “Batu Angus” bukan tanpa alasan. Sebutan ini merujuk pada hamparan batu berwarna hitam pekat yang terlihat seperti sisa-sisa kebakaran besar. Batuan tersebut merupakan hasil dari aliran lava Gunung Gamalama saat meletus pada tahun 1907. Letusan dahsyat itu mengalirkan lava panas dari puncak gunung hingga ke wilayah pesisir, kemudian membeku dan membentuk lanskap yang kini menjadi daya tarik utama kawasan ini.
Aliran lava yang mengeras menciptakan permukaan batuan dengan tekstur kasar, bergelombang, bahkan retak-retak. Jejaknya membentang dari kaki gunung hingga ke bibir pantai, seolah menjadi bukti bisu kekuatan alam yang luar biasa. Dari kejauhan, batu-batu hitam tersebut tampak kontras dengan hijaunya vegetasi dan birunya laut, menciptakan panorama yang eksotis dan dramatis.
Batu Angus bukan sekadar destinasi wisata biasa. Kawasan ini merupakan contoh nyata lanskap vulkanik yang memperlihatkan proses geologi masa lampau. Formasi batuannya mencerminkan proses pembekuan lava yang terjadi secara alami dan membentuk pola unik.
Di sini, pengunjung dapat menemukan jenis lava pahoehoe yang permukaannya relatif halus dan bergelombang, serta lava aa yang memiliki tekstur lebih kasar dan tajam. Kombinasi dua jenis lava ini tergolong jarang ditemukan dalam satu kawasan terbuka yang mudah diakses wisatawan. Tak heran jika Batu Angus sering menjadi lokasi penelitian bagi para akademisi dan peneliti geologi.
Keunikan inilah yang membuat kawasan ini sedang diusulkan menjadi bagian dari Geopark Nasional. Jika terealisasi, status tersebut akan semakin memperkuat posisi Batu Angus sebagai destinasi geowisata unggulan sekaligus kawasan konservasi yang memiliki nilai ilmiah tinggi.
Baca juga: Gelora Kie Raha, Stadion dengan View Terindah di Indonesia yang Jadi Kebanggaan Malut United
Selain sisi edukatifnya, Batu Angus juga menawarkan pemandangan yang memikat mata. Kontras antara hitamnya batuan vulkanik, hijau vegetasi yang mulai tumbuh di sela-sela batu, serta birunya laut menciptakan komposisi warna yang sangat fotogenik.
Gunung Gamalama yang berdiri gagah di latar belakang semakin memperkuat kesan megah kawasan ini. Wisatawan kerap memanfaatkan lokasi ini untuk berburu foto, baik untuk kebutuhan dokumentasi pribadi, konten media sosial, hingga fotografi profesional.
Salah satu momen terbaik untuk menikmati keindahan Batu Angus adalah saat matahari terbenam. Cahaya jingga keemasan yang menyentuh permukaan batu hitam menciptakan efek visual yang dramatis. Siluet Gunung Gamalama dan kilau laut di kejauhan membuat suasana senja di sini terasa magis dan menenangkan.
Batu Angus juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi wisata edukasi, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang mempelajari geologi serta vulkanologi. Di kawasan ini, pengunjung dapat belajar secara langsung bagaimana aktivitas vulkanik membentuk lanskap yang ada saat ini.
Papan informasi yang tersedia membantu wisatawan memahami proses terbentuknya batuan, jenis-jenis lava, hingga sejarah letusan Gunung Gamalama. Dengan pendekatan wisata berbasis edukasi, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru tentang dinamika bumi.
Potensi edukatif inilah yang menjadikan Batu Angus bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan ruang belajar terbuka yang mempertemukan sains dan keindahan alam dalam satu kawasan.
Ada berbagai aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Geowisata Batu Angus. Trekking ringan menjadi salah satu pilihan favorit wisatawan. Jalur yang tersedia memungkinkan pengunjung menyusuri hamparan batuan vulkanik sambil menikmati pemandangan sekitar.
Bagi pecinta fotografi, setiap sudut kawasan ini menawarkan objek yang unik. Tekstur batuan yang tidak beraturan, garis-garis alami hasil pembekuan lava, serta perpaduan warna alam menjadi daya tarik tersendiri.
Wisatawan juga dapat menikmati piknik santai di beberapa area teduh yang telah disediakan. Gazebo dan tempat duduk memungkinkan pengunjung beristirahat sambil menikmati semilir angin laut. Suasana yang relatif tenang menjadikan tempat ini cocok untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Bagi yang gemar eksplorasi, menyusuri jejak lava hingga mendekati garis pantai memberikan pengalaman tersendiri. Setiap langkah menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana alam membentuk lanskap yang begitu unik.
Tak hanya menyimpan nilai geologi, Batu Angus juga memiliki dimensi budaya yang menarik. Masyarakat setempat mengaitkan kawasan ini dengan cerita rakyat dan mitos turun-temurun. Salah satu kisah yang berkembang menyebutkan bahwa hamparan batu tersebut merupakan sisa pertempuran para leluhur.
Baca juga: Gamalama Spices, Surga Kuliner Rempah di Tanah Legendaris Cengkeh Afo
Cerita-cerita tersebut menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Perpaduan antara fakta ilmiah dan narasi budaya menciptakan pengalaman wisata yang lebih kaya dan bermakna.
Sebagai destinasi yang terus berkembang, Batu Angus telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung. Area parkir yang luas memudahkan wisatawan yang datang dengan kendaraan pribadi. Jalur trekking yang jelas dan relatif aman membantu pengunjung menjelajahi kawasan tanpa khawatir tersesat. Tersedia pula gazebo, tempat duduk, serta papan informasi yang menjelaskan formasi geologi di sekitar area.
Untuk waktu kunjungan, pagi hari menjadi pilihan ideal bagi yang ingin trekking dan eksplorasi dengan udara yang lebih sejuk. Sementara itu, sore hari merupakan waktu terbaik untuk menikmati panorama matahari terbenam yang spektakuler.
Geowisata Batu Angus adalah destinasi yang memadukan kekuatan alam, keindahan visual, nilai edukasi, dan cerita budaya dalam satu kawasan. Bagi pecinta alam, fotografi, maupun wisata berbasis pengetahuan, tempat ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan. Di hamparan batu hitam yang membeku itu, tersimpan kisah tentang letusan, perubahan, dan keindahan yang lahir dari kedahsyatan alam Ternate.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wonderful.ternatekota.go.id