Negeri Tomalehu Barat di Pulau Manipa: Jejak Kapitan Jongker dan Kearifan Lokal yang Tetap Bersinar
MALUKU - Di gugusan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, berdiri sebuah negeri adat yang masih teguh memelihara warisan leluhur. Namanya Tomalehu Barat, atau yang juga dikenal dengan sebutan Henakanama yang dimaknai sebagai “negeri pertama”.
Bukan sekadar desa biasa, Tomalehu Barat menyimpan kisah heroik yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Dari tanah inilah dipercaya lahir seorang jawara legendaris Maluku yang namanya pernah menggema hingga ke Negeri Kincir Angin, Belanda: Kapitan Jongker.
Bagi masyarakat Pulau Manipa, Kapitan Jongker bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol keberanian, keteguhan, dan perlawanan terhadap penjajahan.
Dalam tradisi tutur yang masih kuat di Pulau Manipa, Kapitan Jongker digambarkan sebagai sosok heroik yang tak terkalahkan. Sebagian masyarakat bahkan meyakini ia tidak pernah benar-benar wafat, melainkan menghilang dan menjelma menjadi seekor burung. Misteri tentang wajah dan sosok aslinya pun hingga kini tidak pernah benar-benar terungkap.
Nama Kapitan Jongker tercatat dalam sebuah akta tahun 1664 dengan sebutan “Joncker Jouwa de Manipa”. Catatan ini menguatkan keyakinan bahwa ia memang berasal dari Pulau Manipa, tepatnya dari Tomalehu Barat.
Keberaniannya begitu melegenda hingga pada masa kolonial, hampir tidak ada nama lain yang lebih dimitoskan oleh serdadu Belanda selain dirinya. Kisah tentangnya diwariskan secara turun-temurun, membentuk identitas kolektif masyarakat Tomalehu Barat sebagai negeri para pejuang.
Tomalehu Barat berada di Kecamatan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Untuk mencapai negeri ini dari Kota Ambon, perjalanan laut menggunakan speed boat memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam.
Sementara dari Kecamatan Kepulauan Manipa menuju Kota Piru ibu kota Kabupaten Seram Bagian Barat perjalanan menggunakan kapal feri memakan waktu sekitar 4 jam.
Meski aksesnya membutuhkan waktu dan kesabaran, perjalanan menuju Tomalehu Barat akan terbayar dengan panorama laut biru, perbukitan hijau, serta suasana desa yang masih alami dan tenang.
Tomalehu Barat memiliki luas wilayah sekitar 32 km², dengan kawasan hutan mencapai 29 km². Hutan-hutan ini menjadi sumber kehidupan sekaligus penyangga ekosistem desa.
Di dalamnya tumbuh berbagai sumber daya alam bernilai ekonomi tinggi seperti damar, minyak kayu putih, sagu, kelapa, pala, kopi, kakao, cengkeh. Selain itu, masyarakat juga membudidayakan tanaman produksi seperti kenari, durian, langsat, manggis, mangga, jeruk, dan berbagai tanaman perkebunan lainnya.
Hasil lautnya pun tidak kalah menjanjikan. Perairan sekitar Manipa kaya akan ikan layang, ikan dasar, dan berbagai biota laut bernilai ekonomi tinggi. Ekosistem laut yang masih terjaga menjadi harapan besar bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1.473 jiwa yang terdiri dari 297 kepala keluarga, kehidupan masyarakat Tomalehu Barat masih terbilang tradisional.
Dalam hal konsumsi pangan, warga masih mengandalkan makanan lokal seperti sagu, singkong, dan umbi-umbian. Pola hidup ini bukan hanya soal tradisi, tetapi juga bentuk kearifan dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Masyarakat setempat menggantungkan hidup pada sektor perkebunan dan hasil laut. Cengkeh, pala, dan kelapa menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan masa depan ekonomi desa.
Salah satu nilai luhur yang masih terjaga di Tomalehu Barat adalah tradisi gotong royong yang dikenal dengan istilah “masohi”.
Masohi bukan sekadar kerja bersama, melainkan simbol kebersamaan, solidaritas, dan persatuan. Tradisi ini diwariskan oleh para leluhur dan menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Pulau Manipa.
Kerja sama masohi diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pembangunan rumah, kegiatan adat, hingga kerja kebun dan aktivitas sosial lainnya. Nilai ini membuat masyarakat hidup rukun, aman, dan nyaman.
Pulau Manipa sendiri dijuluki sebagai Pulau Huherina atau “Pulau Bersinar”, yang menggambarkan harapan akan kemakmuran dan persatuan masyarakatnya.
Dalam menjaga adat dan budaya, masyarakat Pulau Manipa memiliki forum adat bernama Haikalima Henaluaka.
Forum ini menjadi wadah penyatu tujuh negeri di Pulau Manipa. Perannya sangat penting dalam menjaga harmoni, menyatukan keputusan adat, serta mengoordinasikan berbagai kegiatan yang bersifat lokal maupun lintas negeri.
Keberadaan forum ini menunjukkan bahwa adat bukan hanya simbol seremonial, melainkan sistem sosial yang hidup dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain kisah Kapitan Jongker, Tomalehu Barat juga menyimpan sejumlah lokasi bersejarah dan situs adat yang masih bisa dijumpai hingga kini, di antaranya Bukit Angka Muka, Air Kapitan Jongker, Belo Kapitan Jongker, Makam penyiar Islam dari Tuban, Jawa Timur. Keberadaan makam penyiar Islam menunjukkan bahwa Pulau Manipa pernah menjadi bagian dari jalur penyebaran Islam di Maluku dan situs-situs penyiar Islam lainnya
Jejak-jejak sejarah ini memperkaya identitas Tomalehu Barat sebagai negeri yang bukan hanya kuat dalam legenda perlawanan, tetapi juga dalam perjalanan spiritual dan budaya.
Keindahan alam yang berpadu dengan kekuatan adat dan sejarah menjadikan Tomalehu Barat berpotensi besar sebagai destinasi wisata budaya di Maluku.
Wisatawan dapat menikmati panorama laut dan perbukitan, kehidupan masyarakat tradisional, tradisi masohi yang unik, cerita legenda Kapitan Jongker, situs sejarah dan makam penyiar Islam
Jika dikelola dengan baik, desa ini dapat menjadi destinasi wisata edukatif berbasis sejarah dan kearifan lokal. Di tengah arus modernisasi, Tomalehu Barat tetap berdiri dengan identitasnya. Adat istiadat tidak ditinggalkan, tradisi tidak dilupakan, dan kisah para leluhur tetap diceritakan.
Legenda Kapitan Jongker bukan hanya cerita masa lalu, tetapi simbol semangat yang terus hidup dalam diri masyarakat. Tomalehu Barat adalah bukti bahwa sebuah negeri kecil di timur Indonesia mampu menyimpan sejarah besar, kekayaan alam melimpah, dan budaya yang kokoh.
Di Pulau Manipa, Maluku, negeri ini tetap bersinar seperti julukannya, Pulau Huherina menjadi pengingat bahwa warisan leluhur adalah fondasi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Maluku.jadesta.com