Rabu, 04 MARET 2026 • 09:50 WIB

Tradisi Coka Iba dan Fanten, Warisan Religius Halmahera Tengah yang Sarat Makna

Author

Tradisi Coka Iba (Rajif Duchlun/jalamalut)

MALUKU - Kabupaten Halmahera Tengah di Maluku Utara dikenal memiliki kekayaan budaya yang unik dan sarat nilai religius. Di antara sekian banyak tradisi yang masih lestari hingga kini, Tradisi Coka Iba dan Fanten menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi wujud kecintaan masyarakat terhadap Nabi Muhammad SAW yang dirayakan setiap 12 Rabiul Awal.

Perayaan Maulid Nabi di Halmahera Tengah memiliki warna tersendiri. Jika di banyak daerah tradisi Maulid identik dengan pembacaan Barzanji, pengajian, dan pembagian hidangan khas, maka di Halmahera Tengah, semarak itu dipadukan dengan tradisi unik berupa zikir semalam suntuk serta tarian Coka Iba yang penuh simbolisme.

Tradisi ini tidak hanya menjadi momentum religius, tetapi juga ruang ekspresi budaya yang memperkuat identitas masyarakat setempat.

Coka Iba dan Fanten dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada malam 12 Rabiul Awal, masyarakat berkumpul di masjid atau balai pertemuan untuk melantunkan zikir dan shalawat. Suasana sakral terasa ketika lantunan pujian kepada Rasulullah menggema hingga larut malam.

Kegiatan ini mencerminkan betapa kuatnya tradisi Islam di Halmahera Tengah. Zikir dan shalawat yang dilakukan secara bersama-sama bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Anak-anak, remaja, hingga orang tua turut ambil bagian dalam perayaan ini.

Semangat kebersamaan menjadi inti dari tradisi Fanten, di mana masyarakat menunjukkan rasa syukur dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW melalui doa dan pujian. Nilai religius inilah yang menjadi fondasi utama dari tradisi Coka Iba dan Fanten.

Salah satu bagian paling menarik dari tradisi ini adalah tarian Coka Iba. Tarian ini memiliki ciri khas yang berbeda dari tarian-tarian daerah lainnya di Indonesia. Para penari mengenakan topeng menyerupai wajah setan atau makhluk menyeramkan, lengkap dengan kostum yang mencolok dan gerakan yang dinamis.

Tarian Coka Iba biasanya ditampilkan pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Saat pertunjukan berlangsung, para penari akan berkeliling kampung, mencari warga yang berada di luar rumah. Mereka akan mengejar orang-orang, bahkan memukul ringan atau mencubit sebagai bagian dari atraksi.

Meski terlihat menyeramkan, aksi tersebut bukanlah bentuk kekerasan, melainkan bagian dari simbol dan tradisi turun-temurun. Bagi masyarakat setempat, kejar-kejaran dan cubitan tersebut dimaknai sebagai bentuk teguran atau pengingat agar masyarakat turut meramaikan perayaan Maulid dan tidak berdiam diri di rumah.

Tradisi ini menciptakan suasana yang semarak sekaligus mengundang tawa. Anak-anak biasanya berteriak dan berlari saat melihat penari bertopeng datang mendekat. Orang dewasa pun tak jarang ikut terlibat dalam suasana riuh tersebut.

Penggunaan topeng menyerupai setan dalam tarian Coka Iba tentu menimbulkan pertanyaan bagi orang luar. Namun, dalam konteks budaya lokal, simbol tersebut memiliki makna tersendiri.

Topeng yang menyeramkan dianggap sebagai representasi sifat buruk atau hawa nafsu manusia yang harus dikendalikan. Dalam peringatan Maulid Nabi, umat Islam diajak untuk meneladani akhlak Rasulullah dan meninggalkan sifat-sifat tercela. Kehadiran sosok bertopeng dalam tarian ini menjadi simbol peringatan agar manusia selalu waspada terhadap godaan dan keburukan.

Dengan demikian, tradisi Coka Iba tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan spiritual. Unsur religius dan budaya berpadu dalam satu pertunjukan yang sarat makna.

Coka Iba dan Fanten dapat dijumpai di wilayah Halmahera Tengah maupun Halmahera Timur. Kedua daerah ini memiliki kedekatan sejarah dan budaya, sehingga tradisi tersebut tetap lestari di tengah perubahan zaman.

Masyarakat di kedua wilayah itu masih memegang teguh nilai-nilai adat dan agama yang diwariskan leluhur. Meski zaman terus berkembang, tradisi Coka Iba tetap dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari identitas kolektif.

Kini, selain dilaksanakan dalam konteks religius, tarian Coka Iba juga kerap ditampilkan dalam berbagai festival budaya di Maluku Utara. Kehadirannya di panggung festival menjadi bentuk adaptasi agar tradisi ini tetap dikenal generasi muda dan wisatawan.

Keunikan tradisi Coka Iba dan Fanten menjadikannya salah satu daya tarik wisata budaya di Maluku Utara. Wisatawan yang berkunjung pada momen Maulid Nabi dapat menyaksikan langsung perayaan yang berbeda dari daerah lain.

Suasana kampung yang semarak, suara shalawat yang menggema, serta aksi para penari bertopeng menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan. Bagi pecinta wisata budaya dan religi, tradisi ini menawarkan sudut pandang baru tentang bagaimana Islam berakulturasi dengan budaya lokal.

Kehadiran Coka Iba dalam festival juga membuka peluang promosi budaya daerah. Pemerintah daerah dan komunitas adat dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Halmahera kepada khalayak yang lebih luas.

Namun demikian, pelestarian tradisi tetap harus memperhatikan nilai sakral yang melekat. Jangan sampai unsur hiburan semata mengaburkan makna religius yang menjadi inti perayaan.

Di era modern, banyak tradisi lokal yang mulai ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan masa kini. Namun, masyarakat Halmahera Tengah dan Halmahera Timur menunjukkan bahwa tradisi bisa tetap hidup jika dijaga bersama.

Coka Iba dan Fanten menjadi bukti bahwa agama dan budaya dapat berjalan seiring. Perayaan Maulid Nabi bukan hanya ritual formal, tetapi juga ruang ekspresi budaya yang memperkuat identitas masyarakat.

Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian tradisi ini. Dengan memahami makna filosofis di balik setiap gerakan dan simbol, mereka dapat meneruskan warisan tersebut tanpa kehilangan esensinya.

Tradisi Coka Iba dan Fanten bukan sekadar tontonan unik dengan topeng menyeramkan dan aksi kejar-kejaran. Ia adalah representasi cinta kepada Nabi Muhammad SAW, simbol peringatan moral, sekaligus wujud kebersamaan masyarakat Halmahera.

Di tengah arus globalisasi yang kian deras, tradisi ini menjadi pengingat bahwa identitas lokal adalah kekuatan. Melalui Coka Iba dan Fanten, Halmahera Tengah menunjukkan bahwa warisan leluhur dapat tetap hidup, relevan, dan membanggakan.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan langsung perayaan Maulid Nabi dengan nuansa berbeda, berkunjung ke Halmahera Tengah atau Halmahera Timur pada 12 Rabiul Awal bisa menjadi pengalaman budaya yang tak terlupakan. Di sana, Anda akan menemukan perpaduan religiusitas, seni, dan kearifan lokal dalam satu perayaan yang penuh makna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Baronda.haltengkab.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU