MALUKU - Maluku Utara tak hanya kaya akan panorama alam dan sejarah kesultanan, tetapi juga menyimpan tradisi adat yang sarat makna filosofis. Salah satu ritual yang masih lestari hingga kini adalah Eik Bet-Bet, upacara penyambutan tamu kehormatan yang menjadi kebanggaan masyarakat Weda, Kabupaten Halmahera Tengah.
Ritual Eik Bet-Bet atau yang juga dikenal sebagai upacara “injak tanah” bukan sekadar seremoni adat. Ia merupakan simbol penghormatan kepada tamu, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus doa untuk keselamatan dan keberkahan dalam setiap fase kehidupan baru.
Secara harfiah, Eik berarti injak dan Bet-Bet berarti tanah. Dalam bahasa masyarakat Weda, tanah disebut sebagai “nono betbet” atau ibu tanah. Tanah dipandang sebagai rahim kehidupan, tempat manusia berasal sekaligus sumber segala kekayaan alam yang menopang kehidupan.
Kepercayaan ini berakar dari pandangan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Oleh karena itu, setiap pijakan pertama di suatu tempat harus diawali dengan penghormatan. Ritual injak tanah menjadi simbol kesadaran manusia atas asal-usulnya, sekaligus bentuk penghargaan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.
Eik Bet-Bet biasanya dilaksanakan saat menyambut tamu kehormatan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di suatu wilayah. Upacara ini menjadi pembuka dari berbagai acara resmi, terutama kegiatan yang menghadirkan tamu kenegaraan maupun tokoh kesultanan.
Menariknya, tradisi injak tanah tidak hanya dikenal di Weda. Di berbagai wilayah Maluku Utara, ritual ini memiliki penyebutan berbeda sesuai bahasa lokal setempat. Di Ternate dikenal dengan sebutan joko kaha, di Tidore disebut joko hale, di Kepulauan Sula dikenal sebagai baka yab hai, sementara di Weda disebut Eik Bet-Bet.
Perbedaan istilah tersebut menunjukkan betapa luasnya pengaruh tradisi ini dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara. Meski berbeda nama, esensinya tetap sama, yakni penghormatan terhadap tamu dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Ritual ini merupakan bentuk akulturasi nilai-nilai religius dan adat yang berkembang di masyarakat. Unsur keagamaan dan budaya berpadu harmonis, menjadikan Eik Bet-Bet bukan hanya tradisi adat, tetapi juga ekspresi spiritualitas.
Eik Bet-Bet tidak terbatas pada penyambutan tamu kenegaraan atau pejabat. Dalam praktiknya, ritual ini juga dilakukan dalam momentum penting kehidupan seseorang.
Salah satunya adalah bagi bayi laki-laki yang telah dikhitan atau disunat. Ketika bayi berusia 44 hari dan siap keluar rumah untuk pertama kalinya, ritual injak tanah dilakukan sebagai bentuk doa dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Secara esensial, Eik Bet-Bet diperuntukkan bagi siapa pun yang akan memulai fase atau periode baru dalam hidupnya. Baik itu tamu yang memasuki wilayah baru, anak yang memulai perjalanan hidup di luar rumah, maupun individu yang memulai peran sosial baru di tengah masyarakat.
Ritual ini menjadi simbol harapan agar perjalanan hidup yang baru tersebut senantiasa diberkahi dan dilindungi.
Eik Bet-Bet tidak dapat dipisahkan dari nilai dasar fagogoru tiga negeri atau gamrange yang menjadi sumber adat istiadat masyarakat Weda. Nilai fagogoru menjadi pedoman dalam memuliakan tamu dan menjaga harmoni sosial.
Ada empat nilai utama dalam fagogoru, yaitu:
- Ngaku re rasai, yakni pengakuan akan kehadiran manusia kepada Sang Pencipta serta membangun hubungan kemanusiaan antar sesama.
- Budi re bahasa, yaitu implementasi nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
- Sopan re hormat, sikap kesantunan dan penghormatan yang diwujudkan dalam interaksi sosial.
- Mtat re mimoi, landasan etis untuk menjaga martabat dan harga diri manusia.
Nilai-nilai ini menjadi fondasi dalam setiap pelaksanaan Eik Bet-Bet. Ketika tamu disambut dengan ritual injak tanah, masyarakat tidak hanya menjalankan adat, tetapi juga mengamalkan nilai sopan santun, penghormatan, serta persaudaraan.
Dalam konteks sosial, Eik Bet-Bet berfungsi sebagai pengikat hubungan antarindividu dan antarwilayah. Penyambutan tamu dengan ritual adat menunjukkan keterbukaan sekaligus penghargaan terhadap siapa pun yang datang.
Tradisi ini juga menegaskan bahwa masyarakat Weda menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setiap tamu dianggap sebagai saudara yang harus dihormati dan dimuliakan.
Keberadaan nilai dasar fagogoru bertujuan untuk mengatur kehidupan sosial agar tetap aman, tenteram, dan sejahtera. Ritual injak tanah menjadi salah satu wujud konkret dari sistem nilai tersebut.
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan zaman, Eik Bet-Bet tetap dipertahankan oleh masyarakat Weda. Upacara ini masih dilaksanakan dalam berbagai kegiatan resmi yang melibatkan banyak orang.
Keberlanjutan ritual ini menunjukkan kuatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya. Tradisi bukan sekadar simbol masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang terus hidup.
Bahkan dalam konteks pemerintahan dan kegiatan formal, Eik Bet-Bet sering dijadikan pembuka acara sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan doa untuk kelancaran kegiatan.
Salah satu makna terdalam dari Eik Bet-Bet adalah filosofi tanah sebagai ibu kehidupan. Tanah bukan hanya tempat berpijak, tetapi sumber segala rezeki dan keberlangsungan hidup manusia.
Dengan menyebut tanah sebagai nono betbet atau ibu tanah, masyarakat Weda menempatkan alam pada posisi terhormat. Sikap ini mencerminkan kesadaran ekologis yang telah ada sejak lama dalam tradisi lokal.
Menghormati tanah berarti menghormati kehidupan itu sendiri. Ritual injak tanah menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh sombong dan harus senantiasa bersyukur atas karunia alam.
Eik Bet-Bet kini tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga identitas budaya masyarakat Weda dan Halmahera Tengah. Tradisi ini menjadi simbol kearifan lokal yang membedakan mereka dari daerah lain.
Bagi generasi muda, memahami makna Eik Bet-Bet berarti memahami jati diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang menjunjung tinggi nilai penghormatan dan persaudaraan.
Pelestarian ritual ini menjadi tanggung jawab bersama, baik tokoh adat, pemerintah daerah, maupun masyarakat secara keseluruhan. Dengan menjaga tradisi, masyarakat turut menjaga nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan sosial.
Ritual Eik Bet-Bet bukan sekadar prosesi formal yang dilakukan saat menyambut tamu. Ia adalah cerminan filosofi hidup, ungkapan syukur, serta doa untuk keselamatan dan keberkahan.
Di balik setiap langkah injakan tanah, tersimpan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap awal yang baru harus dimulai dengan rasa hormat dan kesadaran akan asal-usul.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Weda dan menyaksikan langsung ritual Eik Bet-Bet, pengalaman tersebut bukan hanya menyentuh sisi budaya, tetapi juga sisi spiritual. Di sanalah terlihat bagaimana adat dan agama berpadu dalam harmoni, menjaga kehidupan masyarakat tetap aman, tenteram, dan penuh makna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Https://ejournal.unsrat.ac.id