Jumat, 20 MARET 2026 • 09:53 WIB

Benteng De Verwachting, Jejak Sejarah Kolonial di Pulau Sanana

Author

Benteng De Verwachting saksi sejarah (wisatasula.blogspot.com)

MALUKU - Pulau Sanana merupakan salah satu wilayah yang berada di gugusan Kepulauan Sula, tepatnya di sebelah selatan Pulau Mangole. Secara administratif, kawasan ini termasuk dalam Provinsi Maluku Utara, sebuah daerah yang dikenal luas dengan kekayaan alam bahari, pantai eksotis, serta sejarah panjang yang mengakar kuat sejak masa kerajaan hingga kolonialisme.

Selama ini, Maluku Utara sering dikaitkan dengan pulau-pulau besar seperti Pulau Halmahera, Pulau Ternate, Pulau Tidore, dan Pulau Bacan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah rempah Nusantara. Namun, di balik popularitas tersebut, Pulau Sanana juga menyimpan peninggalan sejarah yang tak kalah penting, salah satunya adalah Benteng De Verwachting.

Benteng De Verwachting terletak di Kelurahan Sanana, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula. Letaknya sangat strategis karena berada tepat di depan pelabuhan utama Sanana, yang hingga kini masih menjadi pusat aktivitas masyarakat. Posisi ini menunjukkan bahwa sejak awal, benteng tersebut dibangun dengan tujuan penting, yakni sebagai titik pengawasan jalur laut sekaligus benteng pertahanan di kawasan pesisir.

Sejarah awal benteng ini bermula pada tahun 1623. Berdasarkan catatan yang ditemukan di lokasi, masyarakat dari Ternate diperkirakan membangun sebuah benteng kecil bernama Het Klaverblad. Pada masa itu, Kesultanan Ternate merupakan salah satu kekuatan besar di kawasan Maluku yang memiliki pengaruh luas dalam perdagangan rempah-rempah dan jalur pelayaran.

Meski dibangun sejak awal abad ke-17, keberadaan Het Klaverblad baru tercatat secara lebih jelas dalam dokumen sejarah pada tahun 1688. Catatan tersebut menyebutkan bahwa benteng ini berada di Kepulauan Sula, tepatnya di Pulau Sanana. Hal ini menandakan bahwa wilayah Sanana telah memiliki peran strategis dalam jaringan perdagangan dan pertahanan sejak masa itu.

Perubahan signifikan terjadi pada 24 Desember 1736, saat masa pemerintahan Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin. Ia merupakan Sultan Ternate ke-14 yang dikenal memiliki pengaruh kuat dalam menjaga stabilitas wilayah kekuasaannya. Pada masa kepemimpinannya, benteng Het Klaverblad diperbarui dan diperluas, kemudian diberi nama baru, yakni De Verwachting.

Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin lahir di Ternate pada tahun 1680 dan dikenal dengan berbagai gelar, di antaranya Kaicil Sehe dan Raja Laut. Ia adalah putra tertua Sultan sebelumnya dari istri keempat bernama Sayira. Kepemimpinannya menandai upaya penguatan wilayah pertahanan, termasuk melalui pembangunan dan pemugaran benteng di berbagai titik strategis.

Pemugaran Benteng De Verwachting dilakukan di bawah pengawasan seorang perwira dari Vereenigde Oostindische Compagnie, yakni Victor Moll. Kehadiran VOC dalam proses pembangunan ini menunjukkan adanya keterlibatan kekuatan kolonial dalam sistem pertahanan wilayah tersebut.

Menariknya, pengerjaan benteng ini melibatkan tenaga masyarakat Ternate. Mereka tidak hanya berperan sebagai pekerja, tetapi juga memberikan sentuhan budaya lokal melalui pahatan dan ornamen pada dinding benteng. Hiasan-hiasan tersebut memperlihatkan perpaduan antara arsitektur kolonial dengan seni tradisional Ternate, sehingga menjadikan benteng ini memiliki nilai estetika sekaligus historis yang tinggi.

Selain itu, tulisan-tulisan yang terdapat pada gerbang dan dinding benteng menggunakan bahasa Melayu. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu pada masa itu telah menjadi lingua franca yang digunakan dalam komunikasi resmi maupun sehari-hari, termasuk dalam lingkungan pemerintahan dan militer.

Memasuki akhir abad ke-18, sekitar tahun 1790-an, catatan sejarah VOC menyebut benteng ini dengan nama Benteng Alting. Nama tersebut diambil dari seorang pejabat tinggi VOC yang menjabat sebagai wali antara tahun 1780 hingga 1797. Perubahan nama ini mencerminkan pengaruh kolonial yang semakin kuat di wilayah tersebut pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, fungsi benteng ini mengalami perubahan. Dari yang semula sebagai benteng pertahanan dan pengawasan, kemudian beralih menjadi fasilitas militer pada masa setelah kemerdekaan Indonesia. Benteng De Verwachting pernah digunakan sebagai markas Koramil dan Kodim Sanana, yang menunjukkan bahwa bangunan ini tetap memiliki nilai strategis hingga era modern.

Namun, saat ini fungsi militer tersebut sudah tidak lagi digunakan. Benteng ini telah dialihfungsikan menjadi bagian dari ruang publik dan pemerintahan daerah. Dua bangunan penunjang yang terdapat di dalam kompleks benteng kini digunakan sebagai Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sula.

Sementara itu, area di sekitar benteng, khususnya bagian depan, dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana olahraga dan aktivitas sosial. Hal ini menunjukkan bahwa benteng tidak hanya menjadi peninggalan sejarah yang pasif, tetapi juga tetap hidup dan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dari segi arsitektur, Benteng De Verwachting memiliki luas sekitar 2.750 meter persegi. Struktur bangunannya masih relatif utuh dengan empat bastion yang berada di setiap sudutnya serta dua menara pengintai. Dinding benteng memiliki tinggi sekitar empat meter, cukup untuk memberikan perlindungan dan pengawasan terhadap wilayah sekitarnya.

Pintu masuk benteng berbentuk lengkung, yang merupakan ciri khas arsitektur benteng pada masa kolonial. Desain ini tidak hanya berfungsi sebagai akses keluar-masuk, tetapi juga memiliki nilai estetika yang memperkuat karakter bangunan.

Upaya pelestarian benteng ini telah dilakukan oleh pemerintah. Pada tahun 2007, Pemerintah Republik Indonesia melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Maluku Utara melakukan pemugaran awal. Kemudian pada tahun 2013, Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate kembali melakukan renovasi yang berlangsung dari September hingga Desember.

Renovasi tersebut mencakup berbagai perbaikan fisik, seperti plester dinding, perbaikan dudukan meriam, pemasangan paving block pada jalur patroli, rabat beton pada dinding luar, serta pembenahan bangunan penunjang di dalam area benteng. Meski demikian, proses pemugaran tetap mempertahankan bentuk asli bangunan agar nilai historisnya tidak hilang.

Benteng De Verwachting bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di tepi laut. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah panjang yang melibatkan kekuatan lokal Kesultanan Ternate dan pengaruh kolonial Belanda. Dari sebuah benteng kecil bernama Het Klaverblad hingga menjadi bangunan megah bernama De Verwachting, tempat ini menyimpan cerita tentang kekuasaan, strategi, budaya, dan identitas.

Keberadaan benteng ini juga memperkaya potensi wisata sejarah di Pulau Sanana. Di tengah dominasi wisata alam, kehadiran situs bersejarah seperti Benteng De Verwachting memberikan alternatif pengalaman bagi wisatawan untuk memahami masa lalu daerah ini.

Dengan segala nilai yang dimilikinya, Benteng De Verwachting layak menjadi salah satu ikon sejarah di Kepulauan Sula. Pelestarian dan pengelolaan yang baik diharapkan dapat menjadikan benteng ini tidak hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber edukasi dan kebanggaan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kekunaan.blogspot.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU