Selasa, 31 MARET 2026 • 09:30 WIB

Siasat dan Diplomasi di Tanah Hitu: Menelusuri Jejak Nakhoda Tuban Hingga Misteri Pinang Perdana Djamilu

Author

Hitu dibangun lewat diplomasi, bukan perang

MALUKU – Menggali sejarah Maluku seolah membuka kotak pandai yang penuh dengan intrik, kearifan lokal, dan strategi politik tingkat tinggi. Jika sebelumnya kita mengenal versi Imam Rijali, kali ini kita akan membedah "Ceritera Orang Kaya Hila". Versi ini memberikan detail yang lebih kaya, nama-nama tokoh yang lebih spesifik, serta kisah "perang saraf" yang melibatkan kecerdikan para leluhur di Jazirah Leihitu, Pulau Ambon.

Pulau Ambon, khususnya wilayah Hitu, telah lama menjadi titik temu berbagai peradaban. Menurut Orang Kaya Hila dan Imam Hasan Soleman (Raja Hila bergelar Orang Kaya Bulan), kedatangan para leluhur di Ambon terbagi dalam gelombang-gelombang besar yang membawa misi politik dan pencarian tempat tinggal baru.

Berbeda dengan versi umum, rombongan kedua yang berasal dari Tuban, Jawa Timur, dipimpin oleh seorang nakhoda bernama Pati Kawa. Rombongan ini membawa tiga orang bersaudara yang memiliki ambisi besar. Perjalanan mereka adalah misi pencarian wilayah kekuasaan yang terencana:

  1. Singgah di Hutumuri sebelum mencapai Hitu, mereka pertama kali mendarat di Jazirah Leitimor, tepatnya di pantai Hutumuri. Di sini, salah satu anggota rombongan turun dan diangkat menjadi raja pertama di negeri tersebut.
  2. Negeri Tial dan Pasir Putih perahu kemudian berlayar menuju Pasir Putih (Negeri Tial). Salah satu kawan karib Pati Kawa turun dan menjadi Orang Kaya di sana. Keturunan dari pemimpin ini diyakini mendirikan Mataruma Lilobessy yang masih ada hingga saat ini.
  3. Misteri Bawang dan Pisang saat tiba di utara (Leihitu), terjadi peristiwa unik yang mirip dengan kisah Kiai Tuli. Namun, dalam versi Hila, di leher anjing yang ditangkap tidak digantungkan buah, melainkan setangkup bawang. Ketika anjing itu kembali dari dalam hutan, di lehernya sudah terikat buah pisang, menandakan adanya peradaban agraris di pedalaman hutan Ambon.

Gelombang ketiga dalam versi ini memberikan perspektif berbeda mengenai sosok Perdana Djamilu. Menurut Orang Kaya Hila, Djamilu bukanlah penduduk asli, melainkan putra sulung dari Raja Jailolo di Maluku Utara yang bermigrasi sekitar tahun 1425.

Kisah ini berawal dari rasa kecewa. Saat Djamilu dan dua adiknya sedang bersenang-senang di Pulau Bacan, sang ayah justru mengangkat putra bungsunya sebagai Raja Jailolo. Merasa dikhianati dan diperlakukan tidak adil, ketiga pangeran ini bersumpah tidak akan kembali ke Jailolo.

Mereka berlayar ke selatan, menuju Pulau Seram. Di sana, mereka berpencar:

  1. Adik pertama turun di pantai Batu Kalawai dan menjadi Patih pertama di Negeri Lisabatta.
  2. Adik kedua turun di Waiputih dan menjadi Orang Kaya pertama di sana.
  3. Perdana Djamilu, sebagai putra sulung, melanjutkan pelayaran hingga ke pantai Hitu. Di sana, ia bertemu dengan dua kekuatan besar yang sudah menetap lebih dulu: Pati Kawa (dari Tuban) dan Pati Selang Binaur (dari Seram).

Kehadiran tiga kelompok besar di Hitu kelompok Seram, kelompok Tuban, dan kelompok Jailolo memicu ketegangan. Perselisihan kecil antar pengikut Pati Kawa dan Pati Selang Binaur akhirnya meletus menjadi peperangan dahsyat.

Di sinilah peran Perdana Djamilu sebagai diplomat ulung muncul. Kedua pihak yang bertikai secara diam-diam meminta bantuan militer kepada Djamilu. Alih-alih memihak salah satu, Djamilu menjalankan siasat "Pintu Terbuka":

Ia menjanjikan bantuan kepada Pati Kawa, namun di saat yang sama, ia membocorkan rencana serangan itu kepada Pati Selang Binaur. Ia menyarankan Selang Binaur untuk membuka semua pintu masuk negeri agar musuh bisa "dikurung". Namun, saat pasukan Pati Kawa masuk, mereka tidak disambut oleh pedang, melainkan oleh kehadiran Djamilu yang sudah berdiri di tengah-tengah.

Sebelum pertumpahan darah terjadi, Djamilu berteriak, "Jangan kita saling menyerang! Lebih baik kita duduk makan bersama dan menyelesaikan semua perselisihan ini." Kata-kata ini meredam emosi kedua belah pihak. Mereka akhirnya berunding di atas meja makan, dan sejak saat itu, kedamaian abadi tercipta di antara para pendiri Hitu.

Rombongan keempat dipimpin oleh Patih Gorom bernama Mata Liam. Perdana Djamilu yang cerdik ingin mengikat Mata Liam dalam aliansi kekuasaan dengan cara menikahkannya dengan putrinya. Namun, Djamilu ingin menguji apakah Mata Liam benar-benar pria yang bijaksana atau hanya pria biasa yang mudah tertipu.

Djamilu menukar posisi putrinya:

  1. Sang Putri asli dipakaikan baju budak yang kusam dan disuruh menyapu halaman.
  2. Seorang budak perempuan dipakaikan baju mewah layaknya putri raja.

Djamilu berpikir, jika Mata Liam memilih yang berbaju mewah, maka Mata Liam adalah orang yang dangkal dan mudah dikendalikan. Namun, Mata Liam mendapatkan firasat bahwa ini adalah jebakan. Ia mengunyah pinang dan berdoa memohon petunjuk Tuhan. Ia melemparkan sepah pinang tersebut, dan atas kuasa ilahi, pinang itu jatuh tepat di tubuh perempuan yang sedang menyapu halaman (Putri Djamilu yang asli). Djamilu pun terpaksa menepati janjinya, dan Mata Liam resmi menjadi bagian dari keluarga besar penguasa Hitu.

Kisah ini ditutup dengan pelajaran tentang etika kepemimpinan. Sepuluh tahun setelah pemukiman stabil, seorang saudara Pati Kawa dari Tuban datang dan diangkat menjadi Raja. Namun, sebuah pertanda buruk terjadi: saat ia sedang duduk di kursi kebesarannya, sebuah sepah pinang jatuh tepat di atas kepalanya.

Dalam tradisi setempat, ini adalah simbol penghinaan atau hilangnya wibawa. Benar saja, tak lama kemudian kekuasaannya dikurangi. Ia tidak lagi memerintah atas seluruh negeri, melainkan hanya di wilayah terbatas milik saudaranya sendiri.

Dari Ceritera Orang Kaya Hila, kita belajar bahwa Pulau Ambon dibangun melalui Logika dan Diplomasi, bukan sekadar kekuatan otot. Sosok Perdana Djamilu muncul sebagai perlambang kebijaksanaan (gelar "Bijaksana" yang ia sandang memang terbukti dari cara ia mendamaikan perang).

Kisah ini mengajarkan bahwa perdamaian di Maluku adalah hasil dari kemampuan para leluhur untuk menekan ego, duduk makan bersama di tengah konflik, dan ketajaman mata batin dalam melihat kebenaran di balik penampilan fisik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU