Jumat, 27 MARET 2026 • 14:27 WIB

Takdir di Balik Badai: Kisah Pangeran Bacan dan Diplomasi Ikan Hiu di Tanah Hitu

Author

Kisah Pangeran Bacan dan Diplomasi Ikan Hiu di Tanah Hitu

MALUKU – Menelusuri sejarah Jazirah Leihitu di Pulau Ambon seolah membuka lembaran epik penuh petualangan dan takdir yang tak terduga. Jika sebelumnya kita telah mengenal rombongan perintis dari Seram dan bangsawan dari Tuban, kini narasi sejarah kita beralih ke gelombang ketiga yang tak kalah dramatis. Berdasarkan penuturan luhur dari Raja Negeri Hitulama, gelombang ini membawa putra-putra mahkota dari Kerajaan Bacan di Maluku Utara, yang terdampar di pesisir Ambon akibat amukan alam, namun justru menjadi pilar penting bagi peradaban lokal.

Inilah kisah tentang Nusa Tapi, pangeran dari Bacan yang "dihanyutkan" takdir hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah besar Hitulama.

Sejarah Pulau Ambon adalah potret nyata bahwa persaudaraan seringkali lahir dari peristiwa yang tidak terduga. Menurut sumber dari Raja Hitulama, kedatangan rombongan ketiga ini terjadi hampir bersamaan dengan tibanya Pati Kawa dan para bangsawan Tuban di Jazirah Leihitu. Saat itu, laut Maluku sedang menunjukkan kekuatannya, mengirimkan angin kencang dan badai yang mengubah jalur pelayaran dua putra Raja Bacan yang tengah meluncur ke arah selatan.

Dikisahkan bahwa dua putra Raja Bacan sedang melakukan pelayaran diplomatik atau pengembaraan menuju wilayah selatan Maluku. Namun, di tengah laut, perahu mereka terperangkap oleh badai besar. Angin kencang dan arus laut yang kuat menyeret kapal mereka jauh dari jalur aslinya. Alih-alih mencapai tujuan awal, perahu tersebut terbawa arus ke arah pesisir utara Pulau Seram, tepatnya di Negeri Lisabatta.

Di tempat persinggahan darurat ini, salah satu dari putra raja tersebut memutuskan untuk turun dan menetap. Karisma kepemimpinannya yang kuat membuat masyarakat lokal di Lisabatta menerimanya dengan tangan terbuka, hingga ia pun diangkat menjadi Orang Kaya (pemimpin) pertama di negeri tersebut. Peristiwa ini menjadi bukti bagaimana bangsawan dari Maluku Utara menyebarkan pengaruh kepemimpinan mereka ke wilayah-wilayah di Maluku Tengah melalui jalur yang "dipandu" oleh alam.

Sementara saudaranya memilih menetap di Seram, putra mahkota lainnya yang bernama Bakar atau yang lebih dikenal dengan gelar Nusa Tapi memilih untuk melanjutkan perjuangan. Bersama para pengikut setianya, ia kembali menantang ombak hingga akhirnya berhasil mencapai Jazirah Leihitu dan membuang sauh di Pelabuhan Hitulama.

Nusa Tapi dan pengikutnya tidak datang sebagai penakluk, melainkan sebagai pendatang yang ingin hidup berdampingan. Mereka membangun pemukiman dan mulai beradaptasi dengan tatanan sosial yang sudah ada di Hitu. Sosok Nusa Tapi digambarkan sebagai pemimpin yang rendah hati namun memiliki wibawa pangeran yang tak luntur, membuatnya cepat dihormati baik oleh rombongan Pati Kawa (Tuban) maupun Pati Selang Binaur (Seram) yang sudah menetap lebih dulu.

Salah satu fragmen paling menarik dalam Hikayat Raja Hitulama ini adalah momen pertemuan Nusa Tapi dengan rombongan dari Negeri Gorom (Seram Timur). Perjumpaan ini terjadi di Pantai Hatunuku, dekat sungai Waiulong, ketika rombongan Gorom sedang melabuhkan perahu mereka untuk beristirahat.

Nusa Tapi, yang baru saja kembali dari laut setelah menjaring ikan, menunjukkan sikap kedermawanan yang sangat tinggi. Ia membagikan hasil tangkapannya berupa beberapa ekor ikan lema kepada para awak kapal dari Gorom. Namun, yang paling berkesan adalah hadiah khusus bagi sang nakhoda rombongan Gorom: Nusa Tapi memberikan seekor Ikan Hiu. Dalam simbolisme budaya pesisir, memberikan ikan hiu (predator laut yang kuat) kepada seorang nakhoda adalah bentuk pengakuan atas keberanian, kekuatan, dan kehormatan.

Hadiah ikan hiu tersebut ternyata menjadi pintu pembuka bagi hubungan diplomatik yang sangat erat antara pangeran asal Bacan dengan para pelaut dari Gorom. Mereka menyadari bahwa di tanah baru ini, mereka membutuhkan aliansi yang kuat untuk bertahan hidup dan membangun kekuatan.

Untuk mengunci persahabatan tersebut agar tidak lekang oleh zaman, Nusa Tapi mengambil langkah strategis yang lazim dilakukan para bangsawan masa itu. Ia menikahkan putrinya dengan salah seorang pemimpin dari rombongan Gorom. Pernikahan ini menjadi simbol penyatuan dua kekuatan besar: garis keturunan raja-raja Maluku Utara (Bacan) dan para pelaut ulung dari Maluku Timur (Gorom). Aliansi inilah yang nantinya ikut memperkuat posisi Hitulama sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan yang disegani di Pulau Ambon.

Hikayat Kedatangan Rombongan Ketiga ini menegaskan bahwa Jazirah Leihitu adalah titik temu takdir. Badai yang menyeret perahu Nusa Tapi ternyata menjadi cara alam untuk mempertemukan para pemimpin terbaik dari Bacan, Gorom, Jawa, dan Seram di satu titik yang sama.

Kisah Nusa Tapi mengajarkan kita tentang filosofi "Diplomasi Ikan" bahwa pemberian kecil yang tulus dan pengakuan terhadap kehormatan orang lain (seperti pemberian ikan hiu kepada nakhoda) dapat melahirkan persaudaraan yang kokoh hingga ke anak cucu. Hingga saat ini, jejak keturunan Nusa Tapi dan aliansinya dengan Gorom tetap menjadi bagian dari kebanggaan identitas masyarakat Hitulama sebagai negeri yang dibangun di atas keramahtamahan dan kehormatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU