Senin, 30 MARET 2026 • 11:15 WIB

Misteri 'Perkawinan' Tanjung Alang dan Nusaniwe: Legenda Kutukan Syahwat yang Menjaga Pintu Masuk Teluk Ambon

Author

Misteri 'Perkawinan' Tanjung Alang dan Nusaniwe
MALUKU  – Pulau Ambon, sang permata dari Kepulauan Maluku, tidak hanya dianugerahi kekayaan rempah yang pernah mengguncang dunia atau keindahan lautnya yang menakjubkan. Terkepung oleh perairan dalam Laut Banda di selatan, Laut Buru di barat, dan Laut Seram di utara, pulau berbentuk menyerupai bumerang ini menyimpan khazanah pra-sejarah, sejarah kolonial, dan legenda urban yang berkelindan menjadi identitas masyarakatnya.

Salah satu kisah yang paling ikonik, mistis, sekaligus melegenda hingga hari ini adalah kisah tentang dua tanjung yang menjaga pintu masuk Teluk Ambon yaitu Tanjung Alang di sisi utara dan Tanjung Nusaniwe di sisi selatan.

Bagi para pelaut, nakhoda kapal Pelni, hingga nelayan tradisional, kedua tanjung ini adalah penanda vital. Mereka adalah "gerbang" alami yang harus dilewati sebelum kapal dapat membuang sauh dengan aman di Pelabuhan Yos Sudarso, Kota Ambon. Namun, di balik peran geografisnya yang penting, bersemayam sebuah tragedi kuno tentang cinta, keputusasaan, kemurkaan leluhur, dan fenomena alam yang dianggap sebagai simbol syahwat abadi.

Legenda ini bermula di masa lampau, jauh sebelum ajaran agama-agama samawi (Islam dan Kristen) masuk dan dipeluk secara resmi oleh penduduk jazirah Leihitu maupun Leitimur. Pada masa itu, masyarakat Ambon hidup dalam tatanan adat yang kental, menyembah roh-roh leluhur atau yang biasa disebut Datuk-Datuk. Hormat kepada alam dan leluhur adalah hukum tak tertulis yang bersifat mutlak.

Alkisah, tinggallah sepasang suami-istri di wilayah tersebut. Pada awalnya, kehidupan mereka digambarkan sangat rukun, harmonis, dan penuh kedamaian. Sayangnya, kebahagiaan itu terasa tidak lengkap. Bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga, berbulan-bulan berganti kalender, tanda-tanda kehadiran seorang buah hati tak kunjung tiba. Rahim sang istri tetap kering, dan rumah mereka tetap sepi dari tawa anak-anak.

Keputusasaan mulai menggerogoti fondasi cinta mereka. Suasana damai perlahan berubah menjadi ketegangan. Pertengkaran menjadi menu harian. Alih-alih saling menguatkan, mereka mulai terjebak dalam lingkaran setan saling menyalahkan. Suami menuding istri mandul, dan istri membalas dengan keraguan atas kejantanan suaminya.

Hingga pada satu titik, dalam puncak kekesalan dan rasa frustrasi yang mendalam, mereka melakukan dosa terbesar pada masa itu: mereka berhenti menghormati Datuk-Datuk. Mereka berhenti memberikan sesajian, berhenti memuja, dan justru berbalik menuding bahwa roh-roh leluhurlah yang kejam karena telah mengutuk mereka menjadi pasangan yang tak bisa memiliki keturunan.

Sikap jumawa dan penghinaan terhadap tradisi itu menyulut kemurkaan leluhur. Datuk-Datuk yang murka menjatuhkan hukuman yang sangat berat dan ironis atas keputusasaan mereka mengenai keturunan dan syahwat.

Pasangan tersebut dikutuk menjadi batu, namun bukan batu biasa. Bentuk batu mereka diwujudkan sesuai dengan apa yang menjadi pangkal pertengkaran mereka organ reproduksi. Sang suami dikutuk menjadi batu berbentuk kelamin laki-laki (phallus), sedangkan sang istri dikutuk menjadi batu berbentuk kelamin perempuan.

Dendam dan hukuman Datuk-Datuk tidak berhenti sampai di situ. Agar mereka merasakan penderitaan perpisahan abadi, kedua batu ini dipisahkan oleh lautan yang luas. Batu sang suami ditempatkan di ujung utara, yang kini dikenal sebagai Tanjung Alang (masuk dalam petuanan desa Alang). Sementara batu sang istri dibiarkan tetap berada di ujung selatan, di Tanjung Nusaniwe (terletak di desa Latuhalat). Sebuah selat yang dalam kini memisahkan wujud fisik mereka.

Meskipun terpisah secara fisik oleh lautan dan wujud batu, legenda menyebutkan bahwa ikatan batin dan spiritual sebagai suami-istri tidak pernah putus. Cinta dan mungkin syahwat mereka tetap membara, melawan kutukan perpisahan. Masyarakat lokal percaya bahwa pada waktu-waktu tertentu, pasangan ini menemukan cara untuk "bertemu" dan melepaskan kerinduan mereka.

Inilah fenomena mistis yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai "Tanjung Kaweng" (Tanjung Kawin atau bersetubuh).

Menurut cerita turun-temurun, terutama yang diyakini oleh masyarakat Latuhalat dan Alang, ada momen-momen konon sering terjadi di bulan Desember di mana Tanjung Alang dan Tanjung Nusaniwe seolah-olah bergerak saling mendekat, menyatu, dan menutup total jalan masuk ke Teluk Ambon.

Peristiwa ini ditandai dengan perubahan alam yang drastis dan mengerikan. Laut di sekitar mulut teluk yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi ganas, bergelora keras, dan berarus liar. Kabut tebal yang aneh tiba-tiba turun menyelimuti Pulau Ambon, menggelapkan pandangan. Bagi pandangan mata mistis, dua tanjung itu terlihat melingkar menjadi satu, membentuk seperti sebuah cincin abadi atau benteng kokoh yang tak tertembus.

Fenomena "Tanjung Kaweng" adalah momen yang sangat ditakuti sekaligus dihormati oleh para pelaut yang sering lalu lalang di perairan tersebut. Ketika tanda-tanda alam itu muncul, kapal-kapal baik perahu nelayan kecil maupun kapal dagang besar akan menghentikan laju mereka. Mereka tidak berani memaksakan diri masuk ke Teluk Ambon, karena secara fisik maupun spiritual, "jalan" sedang ditutup.

Masyarakat percaya, memaksakan diri masuk saat kedua tanjung sedang "berhubungan" adalah tindakan tidak sopan yang akan mengundang kemarahan roh pasangan batu tersebut. Akibatnya bisa fatal: kapal bisa tiba-tiba dihantam ombak misterius hingga tenggelam, atau ada awak kapal yang tiba-tiba jatuh ke laut dan tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi.

Untuk menghindari petaka dan sebagai bentuk penghormatan mistis, para pelaut kuno memiliki tradisi unik. Serentak dengan berhentinya kapal, mereka akan melepaskan kemeja atau baju yang sedang mereka pakai dan membuangnya ke laut.

Ritual ini bukanlah simbol porno, melainkan sebuah bentuk "diplomasi spiritual". Melemparkan baju diartikan sebagai tindakan sopan untuk memberikan penutup tubuh kepada pasangan suami-istri yang sedang melakukan hubungan intim tersebut, seolah-olah para pelaut berkata "Kami tidak melihat kelancangan kalian, ini baju untuk menutupi rasa malu kalian." Setelah kemeja dibuang, tak lama kemudian alam biasanya akan kembali tenang, kabut hilang, dan kedua tanjung kembali terpisah, membiarkan kapal berlayar kembali.

Hingga detik ini, di era GPS dan satelit, legenda Tanjung Alang dan Nusaniwe masih hidup dan berdenyut di hati masyarakat Ambon, khususnya Latuhalat dan Alang. Bagi mereka, ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Legenda ini adalah peringatan tentang bagaimana hubungan manusia dengan alam dan leluhur harus dijaga dengan hormat.

Keputusan Datuk-Datuk memisahkan mereka dengan laut, namun membiarkan mereka "bertemu" dalam bentuk fenomena alam, dianggap sebagai simbol keseimbangan alam yang rapuh. Fenomena "Tanjung Kaweng" kini tidak hanya dilihat sebagai pertemuan syahwat, tetapi juga dianggap sebagai mekanisme pertahanan mistis Pulau Ambon.

Konon, masyarakat adat Latuhalat dan Alang memiliki kemampuan untuk mengadakan upacara adat tertentu guna "memanggil" leluhur dan "mempertemukan" kedua tanjung tersebut secara sengaja. Hal ini dilakukan bukan untuk kepuasan mistis, melainkan dalam situasi darurat, seperti saat ada ancaman keamanan serius atau Issu penyerangan yang membahayakan keselamatan pulau. Dengan menutup teluk, Ambon seolah-olah terlindungi oleh benteng gaib dari persekutuan Alang dan Nusaniwe.

Hingga saat ini, jejak fisik legenda ini masih dicari. Batu berbentuk kelamin laki-laki diyakini telah ditemukan di wilayah desa Alang. Namun, batu pasangan perempuannya di desa Latuhalat belum pernah ditemukan secara pasti, menambah misteri dari kisah ini. Keberadaan satu batu dan hilangnya batu yang lain seolah menegaskan perpisahan tragis mereka yang belum usai.

Kisah Tanjung Alang dan Tanjung Nusaniwe tetap menjadi legenda hidup yang kaya. Ia tidak hanya menawarkan kisah mistis tentang kutukan, tetapi juga menjadi cermin bagi generasi sekarang tentang pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga, menghormati adat istiadat leluhur, dan memahami bahwa alam memiliki kekuatannya sendiri yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika modern. Di setiap deburan ombak yang menghantam pintu Teluk Ambon, bergema kisah abadi tentang kutukan, cinta, dan gerbang mistis yang dijaga oleh kerinduan syahwat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU