Senin, 30 MARET 2026 • 14:35 WIB

Diculik Nenek Luhu: Misteri Hilangnya Gubernur Jenderal Limburg Stirum di Hutan Soya

Author

Gubernur diculik, Nenek Luhu penyamar asli

MALUKU – Ambon di awal abad ke-20 bukan hanya pusat pemerintahan kolonial Belanda di timur Nusantara, tetapi juga tanah yang sarat dengan kabut mistis. Salah satu peristiwa paling menggemparkan yang pernah tercatat dalam lembaran sejarah nyata bahkan sempat memuncaki tajuk utama surat kabar masa itu adalah hilangnya secara misterius sosok penguasa tertinggi Hindia Belanda Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum.

Kisah ini terjadi pada tahun 1919, sebuah tahun di mana logika Barat berbenturan keras dengan kekuatan gaib tanah Maluku yang tak kasat mata.

Sebagai pejabat tertinggi, kunjungan Graaf van Limburg Stirum ke Ambon adalah peristiwa kenegaraan yang sangat dijaga ketat. Sang Gubernur Jenderal datang bersama istrinya dan sejumlah staf kepresidenan, menginap di sebuah rumah dinas mewah di kawasan Batu Gajah. Rumah tersebut adalah prototipe hunian elit Eropa: besar, megah, dengan taman luas yang dihiasi air mancur serta kolam teratai yang menyejukkan mata. Namun, di balik keasrian taman itu, sebuah kekuatan purba sedang mengintai.

Tragedi bermula pada suatu pagi yang cerah. Limburg Stirum sedang duduk santai di teras depan, menikmati udara segar Maluku sebelum memulai agenda kerjanya. Pandangannya kemudian tertuju pada sosok perempuan di taman yang ia yakini sebagai istrinya. Sang "istri" tampak berjalan perlahan di antara bunga-bunga, lalu menoleh dan melemparkan senyum manis yang mengajak sang Gubernur untuk ikut berjalan-jalan.

Tanpa curiga, Limburg Stirum bangkit dan mengikuti langkah perempuan itu. Mereka berjalan beriringan, melintasi batas taman, masuk ke rimbunnya pepohonan, hingga tanpa sadar langkah kaki sang Jenderal telah membawanya jauh meninggalkan peradaban Batu Gajah. Sang "istri" terus membimbingnya masuk semakin dalam ke arah perbukitan, hingga suasana berubah menjadi hening dan mencekam.

Di saat yang sama, suasana di rumah dinas berubah menjadi chaos. Istri Gubernur Jenderal yang asli muncul di ruang makan dan menanyakan keberadaan suaminya. Para pelayan dan staf kebingungan; sang Gubernur lenyap begitu saja dari lingkungan rumah. Landraad (pemerintah daerah) dan kepolisian segera dikerahkan.

Situasi ini menjadi skandal besar: bagaimana mungkin pejabat tertinggi di Hindia Belanda hilang di tengah kota saat masih mengenakan piyama dan belum sempat sarapan pagi? Seluruh penjuru Ambon digeledah, namun hingga sore hari, tidak ada satu pun saksi mata yang melihat ke mana arah perginya sang Jenderal. Ambon gempar, dan spekulasi mulai bermunculan.

Sementara pencarian besar-besaran dilakukan, Limburg Stirum tiba-tiba "terbangun" dari pengaruh magis yang menyelimutinya. Sosok istri yang tadinya membimbingnya lenyap seketika. Ia terkejut bukan main saat menyadari dirinya berdiri seorang diri di tengah hutan lebat Negeri Soya, yang jaraknya kurang lebih 9 kilometer dari Batu Gajah.

Ia berada di antara semak belukar dan pepohonan sagu yang berduri. Menyadari dirinya tersesat di tengah hutan antah-berantah hanya dengan pakaian tidur, rasa takut yang luar biasa menyerang mental sang Jenderal. Tekanan batin itu membuatnya jatuh pingsan di tengah kesunyian hutan Soya.

Takdir mempertemukan Limburg Stirum dengan seorang warga lokal dari Keluarga Nussy. Pria ini adalah seorang penyadap pohon aren (tifar mayang) yang baru saja hendak kembali dari hutan. Ia tertegun melihat seorang pria berkulit putih dengan wajah pucat pasi dan ketakutan berdiri di antara semak-semak.

Terjadi sebuah momen unik di mana dua dunia bertemu: sang Jenderal yang hanya bisa berbahasa Belanda dan sang penyadap aren yang hanya bisa berbahasa Melayu Ambon. Tanpa kata-kata, melalui bahasa isyarat tangan, Limburg Stirum memohon untuk diantarkan pulang. Sebelum dievakuasi, sang penyadap aren melapor terlebih dahulu kepada Raja Soya sebagai pemegang otoritas wilayah. Kedatangan Limburg Stirum kembali ke Batu Gajah disambut dengan tangis haru dan keheranan luar biasa oleh seluruh stafnya yang sudah mencari selama sehari semalam.

Pemerintah Belanda tidak melupakan jasa Keluarga Nussy. Sebagai imbalan atas penyelamatan tersebut, anak-anak dari keluarga penyadap aren itu disekolahkan oleh pemerintah Belanda hingga ke jenjang pendidikan tinggi di negeri kincir angin. Ini adalah bentuk kompensasi atas peristiwa yang nyaris merenggut nyawa sang penguasa tertinggi.

Namun, bagi penduduk asli Ambon, peristiwa ini bukanlah sebuah "tersesat" biasa. Masyarakat setempat sangat percaya bahwa Graaf van Limburg Stirum telah diculik secara gaib oleh Nenek Luhu. Legenda menyebutkan bahwa Nenek Luhu adalah putri Raja Soya yang menghilang secara misterius di masa lalu dan sering menampakkan diri dengan cara mengubah wajahnya menjadi orang-orang terdekat korban.

Dalam kasus ini, Nenek Luhu diyakini telah bersalin rupa menjadi istri sang Gubernur Jenderal untuk membawanya masuk ke "alamnya" di hutan Soya. Peristiwa tahun 1919 ini tetap menjadi salah satu bukti paling autentik dalam sejarah kolonial tentang bagaimana kekuatan mistis lokal mampu menyentuh sosok yang paling berkuasa sekalipun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU