Minggu, 29 MARET 2026 • 11:00 WIB

Legenda Haman Pardidu: Arwah Pengembara dari Tanah Soya Ambon

Author

Legenda Haman Pardidu penuh pesan moral

MALUKU  — Di tengah kekayaan cerita rakyat yang berkembang di Ambon, tersimpan kisah mistis yang masih dikenang hingga kini, yakni legenda Haman Pardidu. Cerita ini bukan sekadar kisah seram, tetapi juga mengandung pesan moral yang kuat tentang hubungan anak dan orang tua, serta akibat dari perbuatan buruk semasa hidup.

Konon, Haman Pardidu berasal dari seorang laki-laki bernama Haman Semper, yang dikenal sebagai anak yang durhaka kepada ibunya. Ia kerap melawan, bahkan tidak segan memukul ibunya dengan tongkat. Meski demikian, sang ibu tetap menyayanginya dan terus berusaha menasihati agar Haman berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, segala nasihat itu tidak pernah dihiraukan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Haman semakin bertindak kasar, hingga berani mengancam ibunya dengan senjata tajam.

Hari demi hari, perilaku Haman semakin memburuk. Ia tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun atas tindakannya. Hingga pada suatu titik, kesabaran sang ibu pun habis. Dengan hati yang terluka, ia akhirnya mengutuk anaknya sendiri karena perbuatan yang sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Tak lama setelah itu, Haman meninggal dunia. Namun, kematian tidak serta-merta mengakhiri kisahnya.

Menurut cerita yang berkembang, jasad Haman tidak dapat diterima oleh bumi. Setiap kali kuburan digali, selalu dipenuhi air, seolah menolak tubuhnya untuk dikuburkan. Hingga akhirnya, peti jenazahnya dibiarkan begitu saja di atas tanah. Hal ini diyakini sebagai akibat dari dosa-dosa yang terlalu besar semasa hidupnya.

Sejak saat itu, arwah Haman dipercaya tidak pernah tenang. Ia mulai mengembara pada malam hari, terutama di kawasan sekitar Soya, termasuk daerah Pulo Gangsa dan Wai Tomu. Masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Haman Pardidu, di mana “Pardidu” berasal dari bahasa Portugis yang berarti mengembara.

Dalam pengembaraannya, Haman digambarkan membawa tungku arang panas di atas kepalanya sebagai simbol penderitaan atas dosa-dosanya. Ia sering terdengar berteriak meminta air karena kehausan. Namun, setiap kali masyarakat mencoba menyediakan air, panas yang menyelimuti tubuhnya membuat air tersebut langsung menguap sebelum sempat diminum. Fenomena ini semakin menambah ketakutan warga yang tinggal di sekitar wilayah tersebut.

Kehadiran Haman Pardidu pun menimbulkan keresahan. Banyak warga merasa terganggu dengan kemunculannya yang tidak menentu. Bahkan pada masa kolonial, pemerintah Belanda sempat menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang mampu menangkap atau menenangkan arwah tersebut. Namun, upaya itu tidak pernah berhasil. Salah satu kisah menyebutkan bahwa seorang tawanan yang mencoba menangkap Haman justru meninggal dunia karena tidak kuat menghadapi panas yang luar biasa dari sosok tersebut.

Kisah ini terus berlanjut hingga akhirnya muncul sosok yang diyakini mampu menghentikan pengembaraan Haman Pardidu, yaitu Joseph Kam, seorang pendeta yang dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Kristen di Maluku. Saat mendengar tentang gangguan yang ditimbulkan oleh Haman, ia memutuskan untuk menghadapi arwah tersebut.

Dalam pertemuan itu, Joseph Kam berdoa dengan penuh keyakinan, memohon agar kuasa Tuhan mengakhiri penderitaan dan pengembaraan Haman. Konon, setelah doa tersebut dipanjatkan, terdengar suara dahsyat dan tungku arang yang dibawa Haman pun hancur. Arwah Haman akhirnya menyerah dan mengakui kekuatan doa tersebut.

Setelah peristiwa itu, Haman Pardidu tidak lagi mengganggu masyarakat. Jenazahnya pun akhirnya dapat dikuburkan secara layak di pemakaman Belakang Soya. Sejak saat itu, kisahnya menjadi bagian dari legenda yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Ambon.

Legenda Haman Pardidu tidak hanya menghadirkan nuansa mistis, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menghormati orang tua dan menjauhi perbuatan buruk. Kisah ini mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan penyesalan yang datang terlambat tidak selalu dapat memperbaiki keadaan.

Hingga kini, cerita tentang Haman Pardidu masih sering diceritakan sebagai bagian dari warisan budaya lisan masyarakat Maluku. Di balik kisah menyeramkannya, tersimpan nilai moral yang mendalam, menjadikannya salah satu legenda yang tetap relevan lintas generasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU