Minggu, 29 MARET 2026 • 13:00 WIB

Joseph Kam, Rasul Maluku yang Mengabdikan Hidup untuk Pelayanan di Timur Indonesia

Author

Joseph Kam Rasul Maluku inspiratif

MALUKU  — Nama Joseph Kam dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Kekristenan di Maluku. Sosoknya bukan hanya dihormati sebagai pendeta, tetapi juga dikenang sebagai “Rasul Maluku” karena dedikasi dan semangatnya dalam menyebarkan ajaran Injil hingga ke pelosok wilayah kepulauan.

Joseph Kam lahir pada September 1769 dari keluarga keturunan Swiss yang menetap di Belanda. Kakeknya, Peter Kam, merupakan seorang tentara bayaran asal Swiss yang kemudian menetap di Belanda setelah menikah. Ayahnya, Jost Kam, dikenal sebagai tabib sekaligus pedagang kulit yang sukses. Sejak kecil, kehidupan Joseph Kam tidak lepas dari kerja keras. Ia harus membantu usaha keluarga, sehingga pendidikannya sempat terhambat.

Meski demikian, Kam dikenal sebagai pribadi yang religius. Ia aktif mengikuti kegiatan gereja sejak usia muda. Kehidupan pribadinya tidak selalu berjalan mulus. Pada awal 1800-an, ia mengalami berbagai cobaan berat, mulai dari kehilangan kedua orang tuanya, wafatnya istri, hingga meninggalnya anaknya yang masih bayi. Usaha keluarga yang diwariskan kepadanya pun mengalami kebangkrutan. Serangkaian peristiwa ini justru menguatkan tekadnya untuk mengabdikan diri sebagai pekabar Injil.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kam menempuh pendidikan teologi di Belanda dan Inggris. Ia mulai belajar di Rotterdam pada tahun 1811 dan kemudian melanjutkan studinya ke London. Setelah melalui proses panjang, ia akhirnya ditahbiskan sebagai pendeta pada tahun 1813. Bagi Kam, momen ini menjadi titik awal pengabdian hidupnya dalam pelayanan keagamaan.

Kesempatan untuk menjalankan misi datang ketika ia mendengar kebutuhan tenaga pekabar Injil di wilayah Hindia Belanda, termasuk Indonesia. Bersama beberapa rekannya, Kam memulai perjalanan panjang menuju Nusantara. Perjalanan laut yang ditempuh memakan waktu sekitar empat bulan. Ia tiba di Anyer pada Mei 1814, lalu melanjutkan ke Batavia atau Jakarta, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris.

Di Batavia, Kam mulai aktif dalam kegiatan pelayanan gereja. Kondisi gereja saat itu cukup memprihatinkan, namun dukungan dari pemerintah Inggris di bawah kepemimpinan Thomas Stamford Raffles memberikan ruang bagi Kam untuk mengembangkan pelayanannya. Dari sinilah ia kemudian ditugaskan untuk melanjutkan misi ke Maluku.

Perjalanan menuju Ambon tidak mudah. Kam harus singgah di beberapa kota seperti Surabaya, Sumenep, dan Pasuruan. Di setiap tempat yang disinggahi, ia aktif memimpin ibadah dan memberikan semangat baru bagi jemaat. Pelayanannya disambut antusias oleh masyarakat yang merindukan penguatan iman.

Akhirnya, pada 3 Maret 1815, Joseph Kam tiba di Ambon. Dua hari kemudian, ia langsung memimpin ibadah di gereja besar setempat. Sejak saat itu, Kam mulai menjalankan tugasnya sebagai pekabar Injil di Maluku dengan penuh dedikasi.

Salah satu kisah menarik dari kehidupan Kam adalah ketika ia menempati sebuah rumah kosong di kawasan Tanah Tinggi. Rumah tersebut dikenal angker dan tidak pernah ditempati sejak pemiliknya meninggal. Namun, Kam tidak gentar. Ia tetap tinggal di sana, bahkan ketika konon mengalami peristiwa supranatural. Diceritakan bahwa sosok gaib yang menghuni rumah tersebut akhirnya “menyerah” dan meninggalkan tempat itu setelah mengetahui Kam adalah utusan Tuhan. Harta yang ditemukan di rumah tersebut kemudian diserahkan Kam untuk kepentingan gereja dan membantu masyarakat miskin.

Setelah itu, Kam pindah dan membangun pusat kegiatan pelayanan di kawasan baru. Ia mendirikan rumah, tempat pertemuan, gereja kecil, hingga fasilitas pendidikan dan penginapan. Di tempat ini pula ia melanjutkan pelayanannya bersama istrinya yang kedua, Sara Maria Timmerman, yang dinikahinya pada tahun 1815. Meski masih muda, sang istri turut aktif mendukung kegiatan pelayanan, termasuk mengelola panti asuhan.

Tak hanya menetap di Ambon, Joseph Kam juga aktif melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Maluku, seperti Saparua, Haruku, Seram, hingga Maluku Tenggara. Ia berkeliling untuk memperkuat iman jemaat, mendirikan pelayanan baru, serta mendorong perkembangan pendidikan dan kehidupan gereja.

Semangatnya dalam menjangkau daerah terpencil menunjukkan komitmen luar biasa. Ia tidak hanya melayani di pusat kota, tetapi juga menjangkau pulau-pulau yang sulit diakses. Baginya, tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk menyampaikan kabar baik.

Pada tahun 1833, dalam salah satu perjalanan pelayanannya ke wilayah timur seperti Kepulauan Aru dan Kei, kondisi kesehatan Kam mulai menurun. Ia mengalami sakit yang cukup serius saat perjalanan kembali. Meski telah mendapatkan perawatan, kesehatannya terus memburuk setelah tiba di Ambon.

Pada 18 Juli 1833, Joseph Kam menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di kawasan Belakang Soya, Ambon. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan besar bagi masyarakat Maluku.

Julukan “Rasul Maluku” yang disematkan kepadanya bukan tanpa alasan. Kam dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat luar biasa dalam pelayanan. Ia tidak hanya melanjutkan apa yang sudah ada, tetapi juga membuka jalan baru bagi perkembangan gereja dan pendidikan di Maluku.

Warisan yang ditinggalkannya masih terasa hingga kini. Kisah hidup Joseph Kam menjadi inspirasi tentang ketekunan, pengorbanan, dan dedikasi dalam melayani sesama. Ia membuktikan bahwa satu orang dengan tekad kuat dapat membawa perubahan besar bagi banyak orang.

Melalui perjalanan hidupnya, Joseph Kam tidak hanya dikenang sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai bagian penting dari sejarah Maluku. Kisahnya terus hidup, menjadi pengingat bahwa pelayanan sejati membutuhkan keberanian, ketulusan, dan iman yang teguh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU