Selasa, 19 MEI 2026 • 12:34 WIB

Panen Perdana Udang Vaname di Tuada Capai 1,5 Ton, Pemprov Malut Dorong Ekonomi Nelayan

Author

Panen udang vaname Malut capai 1,5 ton (Humas/Adpim)

MALUKU – Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus mendorong penguatan sektor kelautan dan perikanan melalui pengembangan budidaya udang vaname. Upaya tersebut ditandai dengan panen perdana udang vaname yang digelar di Desa Tuada, Kabupaten Halmahera Barat, Jumat (15/5).

Program yang dijalankan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara bersama BUMDes Jiko Banau itu berhasil memanen sekitar 1,5 ton udang vaname berkualitas menggunakan sistem budidaya semi intensif.

Hasil panen tersebut rencananya akan dipasarkan dengan harga sekitar Rp100 ribu per kilogram. Keberhasilan ini menjadi langkah awal dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, mengatakan pengembangan budidaya udang vaname memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara berkelanjutan.

Menurutnya, sektor budidaya perikanan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru bagi masyarakat desa, khususnya wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber daya laut melimpah.

“Budidaya udang vaname tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga menjadi sarana edukasi masyarakat dalam membangun usaha yang produktif dan berkelanjutan,” ujar Sarbin.

Ia menilai Maluku Utara memiliki potensi kelautan besar yang harus diimbangi dengan pengelolaan modern serta dukungan akses pasar agar produk perikanan lokal mampu bersaing.

Sarbin juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi nelayan secara terintegrasi, sejalan dengan program pemerintah pusat dalam pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Sementara itu, Wakil Bupati Halmahera Barat, Djufri Muhammad, menyebut budidaya udang vaname menjadi peluang baru dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tuada yang selama ini dikenal sebagai desa nelayan.

Menurut Djufri, pengembangan sektor budidaya perikanan dapat membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

“Desa Tuada sejak lama dikenal sebagai desa nelayan dan program ini sejalan dengan arah pembangunan desa nelayan yang produktif,” katanya.

Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara, Fauzi Momole, menjelaskan sistem semi intensif yang digunakan dalam budidaya tersebut memadukan penggunaan pakan buatan dengan pemanfaatan produktivitas alami seperti fitoplankton.

Metode itu juga didukung aerasi mekanik menggunakan kincir atau circulator sehingga mampu meningkatkan produktivitas tambak tanpa memerlukan sistem intensif penuh.

Menurut Fauzi, sistem semi intensif cocok diterapkan bagi petambak yang ingin meningkatkan hasil produksi dengan biaya operasional yang masih relatif terjangkau.

“Metode ini menggunakan padat tebar sedang dengan kedalaman tambak sekitar 80 hingga 100 sentimeter serta dukungan aerasi,” jelasnya.

Keberhasilan panen perdana ini diharapkan menjadi contoh bagi desa-desa lain di Maluku Utara dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis kelautan melalui program ketahanan pangan desa yang produktif.

Selain mendukung ekonomi masyarakat, pengembangan budidaya udang vaname juga menjadi bagian dari komitmen Pemprov Maluku Utara dalam memperkuat pembangunan ekonomi biru berbasis potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Melalui program tersebut, pemerintah berharap sektor perikanan budidaya dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Malutprov.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU