Selasa, 14 JULI 2026 • 20:39 WIB

Tim Survei Temukan Bisnis Kopi Keliling Milik Dua Pelajar SMA di Ternate

Author

Kisah inspiratif pelajar membangun bisnis kopi keliling sejak sekolah

MALUKU - Fenomena budaya ngopi yang semakin digemari generasi muda melahirkan kisah menarik di Kota Ternate. Dua siswa kelas XI SMA memanfaatkan tren tersebut dengan merintis usaha kopi keliling bernama "Kopi Nyasar", yang kini mulai dikenal di kalangan anak muda.

Usaha kreatif itu diketahui saat tim survei UMKM dan Ekonomi Kreatif dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku Utara melakukan pendataan lapangan. Tim mengaku cukup terkejut setelah mengetahui bahwa penggagas bisnis tersebut masih berstatus sebagai pelajar aktif.

Salah satu pendiri, Afelay, mengatakan ide bisnis itu berawal dari kebiasaan berkumpul bersama teman-temannya setiap malam Minggu.

"Awalnya cuma ingin mencari suasana nongkrong yang berbeda. Kami sering berpindah-pindah kafe, lalu muncul ide membuat konsep kopi yang juga bisa berpindah lokasi agar lebih dekat dengan teman-teman," ujar Afelay.

Melihat banyaknya teman sebaya yang menyukai kopi, mereka kemudian mencoba mengembangkan ide tersebut menjadi peluang usaha.

Untuk memulai bisnis, keduanya mengandalkan tabungan dari uang saku yang disisihkan sedikit demi sedikit. Modal itu digunakan membeli bahan baku kopi, botol kemasan, hingga mencetak stiker produk.

Mereka juga memanfaatkan perlengkapan yang sudah ada di rumah agar biaya operasional tetap hemat. Coolbox bekas dicat ulang agar tampil lebih menarik, sementara meja dan kursi lipat dipinjamkan oleh orang tua sebagai bentuk dukungan terhadap usaha tersebut.

"Kami ingin belajar bagaimana rasanya menjalankan usaha sejak masih sekolah. Pengalaman ini sangat berharga buat kami," kata Afelay.

Memanfaatkan libur sekolah, Kopi Nyasar rutin berjualan di kawasan Taman Film Benteng Oranje yang ramai dikunjungi masyarakat saat agenda nonton bareng turnamen sepak bola. Lokasi tersebut dipilih karena menjadi tempat berkumpul anak muda, sehingga berpotensi menjangkau lebih banyak pelanggan.

Bagi Afelay dan rekannya, keuntungan bukan menjadi tujuan utama. Mereka menganggap usaha ini sebagai wadah untuk belajar membangun mental, melatih kemampuan berwirausaha, sekaligus menambah pengalaman.

"Harapan kami, dari langkah kecil ini nanti bisa menjadi bekal untuk membangun usaha yang lebih besar di masa depan," tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dispar.malutprov.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU