Tarian Tradisional Cakalele Warisan budaya paling ikonik dari Maluku (Humas / ADPIM)
MALUKU – Pesona Tarian Cakalele yang Mendunia. Pulau Ay, sebuah pulau kecil di Kabupaten Maluku Tengah, mungkin belum setenar destinasi wisata lain di Indonesia. Namun bagi para pencinta budaya dan sejarah, pulau ini menyimpan pesona yang tak kalah memikat. Selain panorama laut biru dan hamparan pasir putih yang menenangkan, Pulau Ay juga dikenal sebagai rumah bagi salah satu warisan budaya paling ikonik dari Maluku: Tarian Tradisional Cakalele.
Baca juga: Camping, Healing Budaya, hingga Sunset Cantik: 3 Desa Wisata Hits Maluku Utara
Cakalele bukan sekadar tarian. Cakalele adalah simbol keberanian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Awalnya, tarian ini digunakan sebagai tarian perang, menggambarkan semangat juang masyarakat Maluku dalam mempertahankan tanah dan kehormatan. Seiring berjalannya waktu, Cakalele bertransformasi menjadi pertunjukan adat yang ditampilkan dalam berbagai upacara penting, mulai dari penyambutan tamu, perayaan adat, hingga festival budaya.
Dari Tarian Perang ke Identitas Budaya
Sejarah mencatat bahwa Cakalele lahir dari tradisi masyarakat Maluku yang menjunjung tinggi nilai keberanian. Gerakan-gerakan dalam tarian ini meniru aksi para prajurit di medan perang: hentakan kaki yang kuat, ayunan senjata yang tegas, serta sorakan lantang yang membangkitkan semangat.
Namun, perubahan zaman membawa makna baru bagi Cakalele. Kini, tarian ini tidak lagi sekadar simbol peperangan, melainkan juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya. Bagi masyarakat Pulau Ay, Cakalele adalah wujud kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Cakalele bukan hanya tarian, tapi juga doa dan penghormatan kepada leluhur,” ungkap salah satu tokoh adat Pulau Ay dalam sebuah wawancara. “Setiap gerakan punya makna, setiap kostum punya simbol.”
Formasi Penari yang Sakral
Keunikan Cakalele di Pulau Ay terlihat jelas dari formasi penarinya. Tarian ini biasanya dibawakan oleh lima orang dengan susunan khusus: dua Kapitan, satu Hulubalang, dan dua Malesi.
Kapitan adalah pemimpin pasukan, membawa tombak dan parang. Mereka mengenakan Kapsete, penutup kepala khas dengan hiasan naga dan burung cendrawasih, melambangkan kekuatan dan keagungan.
Baca juga: Penyidikan Kasus Kekerasan dan Pengrusakan di Kantor DPD Golkar, Polda Maluku tahan Tiga Tersangka
Hulubalang berperan sebagai panglima perang, membawa senjata Parang Salawaku yang menjadi simbol pertahanan dan keberanian.
Malesi adalah prajurit pendamping, mengenakan penutup kepala putih yang menambah kesan gagah sekaligus sakral.
Kostum berwarna merah dan kuning yang mencolok semakin memperkuat aura magis tarian ini. Warna merah melambangkan keberanian, sementara kuning mencerminkan kejayaan dan harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jadesta.kemenpar.go.id