Kampung Geser Maluku dan Tradisi Ramadan yang Unik (Humas / ADPIM)
MALUKU - Kampung Geser yang terletak di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih menjaga kuat tradisi keagamaan berbasis budaya lokal. Setiap memasuki bulan suci Ramadan, suasana kampung ini berubah menjadi lebih hidup dan sarat makna. Beragam tradisi turun-temurun dijalankan oleh masyarakat sebagai bentuk penyambutan sekaligus penghayatan terhadap bulan penuh berkah tersebut.
Bagi masyarakat Kampung Geser, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum mempererat hubungan sosial, memperkuat nilai kebersamaan, serta menjaga harmoni antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai tradisi yang masih lestari hingga kini.
Baca juga: Masjid Raya Al Fatah Ambon Terbesar di Maluku Ternyata Dibangun Sejak Era Soekarno
Jalan Aiwat, Tradisi Kebersamaan Menyambut Ramadan
Menjelang datangnya bulan Ramadan, masyarakat Kampung Geser melaksanakan tradisi tahunan yang dikenal dengan sebutan “Jalan Aiwat”. Tradisi ini menjadi salah satu penanda bahwa bulan puasa akan segera tiba. Seluruh warga kampung, tanpa memandang usia, ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, warga berjalan bersama mengelilingi kampung sambil melantunkan doa dan zikir. Jalan Aiwat dimaknai sebagai simbol pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum menjalani ibadah puasa. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan serta mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Suasana kebersamaan begitu terasa selama prosesi berlangsung. Warga saling menyapa, berjalan beriringan, dan menumbuhkan semangat persaudaraan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai religius dan sosial berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Kampung Geser.
Baca juga: Ramah Tamah Purna Bhakti, Kapolda Maluku Ajak Pensiunan Polri Terus Jadi Teladan di Masyarakat
Masjid sebagai Pusat Aktivitas Ramadan
Memasuki bulan Ramadan, masjid di Kampung Geser berperan sebagai pusat berbagai aktivitas keagamaan. Selain menjadi tempat pelaksanaan salat lima waktu secara berjamaah, masjid juga menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat.
Setiap hari, warga datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah dengan penuh khidmat. Kehadiran jamaah yang konsisten menciptakan suasana religius yang kuat. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan warga Kampung Geser selama Ramadan.
Tradisi Tunggu Batal Menjelang Berbuka Puasa
Salah satu tradisi unik yang selalu dinantikan saat Ramadan di Kampung Geser adalah “Tunggu Batal”. Tradisi ini dilakukan menjelang waktu berbuka puasa. Warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, berkumpul di luar pagar masjid atau di beberapa titik tertentu di kampung.
Baca juga: Wakil Gubernur Maluku Ajak Siswa Jadi Contoh Teladan, Kenapa ?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkotkampungmaluku.id