Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 27 JANUARI 2026 • 10:38 WIB

Masjid Raya Al Fatah Ambon Terbesar di Maluku Ternyata Dibangun Sejak Era Soekarno

Masjid Raya Al Fatah Ambon Terbesar di Maluku Ternyata Dibangun Sejak Era SoekarnoMasjid Raya Al Fatah Ambon (Instragram/@ssc.amboina)

MALUKU - Masjid Raya Al Fatah Ambon dikenal sebagai masjid terbesar dan paling representatif di Provinsi Maluku. Keberadaannya bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol sejarah, toleransi, dan identitas umat Islam di Ambon. Terletak di pusat kota, masjid ini berdiri di kawasan strategis yang berdekatan dengan pasar dan pelabuhan, tepatnya di Jalan Sultan Babullah, Kota Ambon.

Lokasi Masjid Raya Al Fatah berada persis di samping Masjid Jami’ An-Nur, salah satu masjid tertua di Ambon yang hingga kini masih dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Secara historis, Masjid Raya Al Fatah merupakan hasil pengembangan dari Masjid Jami’ An-Nur yang kapasitasnya tidak lagi mampu menampung jumlah jamaah Muslim yang terus meningkat. Perluasan tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan ruang ibadah yang lebih luas seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas keagamaan di Kota Ambon.

Baca juga: Akad Nikah Rio Rasmin dan Nuryani Banapon Jadi Edukasi Pentingnya Nikah Sah dan Tercatat di Waplau

Posisi masjid yang berada di tengah kota menjadikannya mudah diakses oleh siapa saja. Tidak hanya oleh warga sekitar, tetapi juga oleh pendatang, pedagang, hingga para pelintas yang ingin beristirahat sejenak. Selepas waktu salat Zuhur, misalnya, suasana masjid tampak hidup. Jamaah terlihat duduk bersantai di dalam masjid maupun di emperan, ada yang berbincang santai, ada pula yang sekadar menghabiskan waktu dengan gawai mereka. Masjid ini menjadi ruang publik religius yang terbuka dan ramah.

Masjid Raya Al Fatah juga memiliki halaman yang cukup luas dan relatif nyaman bagi jamaah yang datang menggunakan kendaraan. Meski demikian, pada momen-momen tertentu seperti pelaksanaan salat Jumat, area parkir sering kali tidak mampu menampung seluruh kendaraan jamaah. Hal ini menjadi konsekuensi dari letaknya yang berada di kawasan padat aktivitas ekonomi dan transportasi.

Baca juga: Pesan Kapolda Maluku di Seram Bagian Barat: Jaga Budaya Pela Gandong !

Di sisi lain, lokasi strategis di pusat kota juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait aspek keamanan. Menyadari kondisi tersebut, pengelola Masjid Raya Al Fatah memasang sejumlah kamera pengawas (CCTV) di berbagai sudut masjid. Selain itu, pada jam kerja, khususnya pagi hingga siang hari, seluruh pintu gerbang masjid ditutup dan dikunci. Jamaah yang hendak masuk diwajibkan meminta izin terlebih dahulu kepada petugas keamanan atau satpam yang berjaga.

Secara historis, Masjid Raya Al Fatah memiliki nilai penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, pada 1 Mei 1963. Masjid ini kemudian diberi nama “Al Fatah” yang berarti “kemenangan”. Penamaan tersebut tidak terlepas dari konteks sejarah nasional, yakni kembalinya Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai hasil akhir dari Trikora yang dipimpin Jenderal Soeharto.

Baca juga: Buka Pameran Budaya dan UKM, Bupati Ozan Serukan Spirit 'Masohi Bersaudara'

Meski pembangunannya dimulai pada era Presiden Soekarno, Masjid Raya Al Fatah baru diresmikan penggunaannya pada tahun 1984 oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Seiring berjalannya waktu, masjid ini terus mengalami pembenahan dan renovasi. Salah satu renovasi besar dilakukan pada tahun 2010 dalam rangka menyambut dan menyukseskan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-24 yang digelar di Kota Ambon.

Lebih dari sekadar bangunan fisik, Masjid Raya Al Fatah memiliki peran sosial yang sangat penting, terutama dalam situasi krisis. Ketika konflik sosial meletus di Ambon pada tahun 1999, masjid ini menjadi tempat pengungsian bagi masyarakat Muslim yang terdampak. Pada masa itu, Masjid Raya Al Fatah berfungsi sebagai ruang perlindungan, tempat berlindung, sekaligus simbol keteguhan umat Islam di tengah situasi yang penuh ketegangan.

Dalam kehidupan beragama, Masjid Raya Al Fatah dikenal sebagai representasi Islam Ambon yang ramah, moderat, dan toleran terhadap budaya lokal serta pemeluk agama lain. Masjid ini sering disebut sebagai “rumah dan benteng” Islam Ambon yang mampu menjaga jarak dari pengaruh paham keislaman yang keras dan cenderung intoleran. Nilai-nilai lokal dan semangat hidup berdampingan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari praktik keberagamaan di masjid ini.

Baca juga: Police Goes To School di SMA Negeri 9 Ambon, Siswa Dapat ‘Ceramah’ Kamtibmas

Secara organisasi, Islam yang dijalankan di Masjid Raya Al Fatah tidak berafiliasi dengan organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah. Namun secara ritual, praktik keagamaannya merujuk pada ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Hal ini tercermin dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari, mulai dari pembacaan qunut pada salat Subuh, azan dua kali saat salat Jumat, hingga pembacaan tarhim sebagai penanda waktu salat sebelum azan dikumandangkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnalfuf.uinsa.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Masjid Raya Al Fatah Ambon Terbesar di Maluku Ternyata Dibangun Sejak Era Soekarno

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!