Makam Rat Ohoivuur (Humas / ADPIM)
MALUKU - Desa Wisata Letvuan Paradise di Kabupaten Maluku Tenggara menyimpan sebuah situs bersejarah yang menjadi tujuan ziarah masyarakat setempat, yakni Makam Rat Ohoivuur. Makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan seorang tokoh penting, tetapi juga simbol perjalanan panjang keluarga Kasdew yang hidup pada abad ke-15 dan ke-16. Kisah mereka penuh dengan nilai sejarah, adat, dan spiritual yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Kei.
Awal Perjalanan Keluarga Kasdew
Sekitar tahun 1500-1600, seorang tokoh bernama Halaai Kasdew bersama istrinya Dit Ratngil dan keempat anak mereka Tebtut, Atmaan, Fadirsamai, serta Alte Ni Dit berlayar menuju barat Pulau Kei Kecil. Kapal yang mereka tumpangi berlabuh di Teluk Marangan atau Marang Ohoi Vuur. Saat melihat teluk tersebut, Kasdew merasa bentuknya mirip dengan sebuah teluk di Surabaya. Sejak itu, teluk tersebut dinamakan kembali sebagai Teluk Surbay.
Baca juga: Wisata Religi di Tomalehu Barat, Maluku: Jejak Sejarah Kapitan Jongker dan Tradisi Masyarakat
Keluarga Kasdew kemudian menetap di kampung tua sebelah utara Letvuan, yakni Ohoi Lekil, yang saat itu dihuni keluarga Renleew. Setelah beberapa waktu, mereka berpindah ke dataran tinggi Ohoi Vuur (Woma Rer) dan hidup bersama keluarga El. Dari sinilah pembangunan Ohoi Vuur dimulai, menjadi salah satu pusat sejarah masyarakat Kei.
Perjalanan ke Bali dan Kembali ke Kei
Setelah membangun Ohoi Vuur, Kasdew sempat kembali ke Bali untuk urusan tertentu. Ia kembali bersama Halaai Jangra dan puterinya Dit Somar. Namun perjalanan mereka penuh tantangan: badai dan hujan lebat menghadang di selat Nirun. Jangra membawa 30 tombak yang kemudian disandarkan pada pohon beringin di Udar, sementara Kasdew membawa kelewang Suruk Aferak dan kembali ke Ohoi Vuur.
Seiring bertambah usia, Kasdew mengangkat putra sulungnya, Tebtut, sebagai raja di Ohoi Vuur dengan gelar Kurkur Mas Dir U. Dari sinilah garis kepemimpinan keluarga Kasdew berlanjut.
Keturunan Tebtut dan Sosok Dit Sakmas
Tebtut menikah dengan Dit Masik/Mesit, dan dari perkawinan ini lahir sepuluh anak: tiga laki-laki (Kuding, Mar’i, Faliu) dan tujuh perempuan. Dari ketujuh putri, sosok Dit Sakmas dikenal paling kuat, berani, dan tegar. Ia rajin berkebun dan bekerja layaknya laki-laki, sehingga ayahnya memilihnya untuk menjalankan misi ke timur, bertemu dengan Arnuhu Suarubun di Danar.
Baca juga: Kapolda Pimpin Upacara Sertijab Pejabat Polda Maluku Termasuk Kapolres Maluku Tenggara dan Tanimbar
Dalam perjalanannya, Dit Sakmas bertemu Halaai Matan Vuun Sutra dari Bali di Desa Wain. Mereka berdua mengikat janji persaudaraan di Matan Bum, dengan perjanjian bahwa kelak jenazah Dit Sakmas akan dikuburkan di bawah pohon beringin (Vavu Dit). Kisah ini menjadi bagian penting dalam tradisi ziarah masyarakat Kei.
Peristiwa Perampasan dan Lahirnya Hukum Lar Vul
Saat melanjutkan perjalanan ke Danar, perbekalan Dit Sakmas dirampok. Meski demikian, ia tetap bertemu Arnuhu Suarubun yang sedang membuat perahu di pantai. Setelah tinggal beberapa waktu di Danar, Dit Sakmas kembali ke Ohoi Vuur dan melaporkan peristiwa tersebut kepada ayahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jadesta.kemenpar.go.id