Desa Eliasa di Pulau Selaru (Fidmas)
MALUKU - Pulau Selaru di Kabupaten Kepulauan Tanimbar menyimpan pesona alam yang belum banyak dikenal. Salah satu destinasi yang menarik perhatian adalah Desa Eliasa, sebuah desa yang terletak di ujung wilayah Indonesia dan berbatasan langsung dengan Australia. Letaknya yang berada di tapal batas negara menjadikan Desa Eliasa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi juga ruang pertemuan antara alam, identitas, dan kebanggaan nasional.
Bagi para pencinta wisata alam, Desa Eliasa dikenal sebagai salah satu spot terbaik menikmati senja di kawasan selatan Indonesia. Pemandangan matahari terbenam di desa ini menawarkan suasana yang berbeda, menghadirkan ketenangan dan keindahan yang sulit ditemukan di daerah perkotaan.
Sebagai wilayah paling selatan Indonesia, Desa Eliasa memiliki posisi strategis karena lokasinya yang berbatasan dengan Australia menjadikan desa ini sebagai salah satu gerbang terluar Nusantara. Meski berada jauh dari hiruk-pikuk kota besar, Desa Eliasa justru menyuguhkan lanskap alam yang masih alami dan suasana yang tenang.
Baca juga: Kohu-kohu, Kuliner Khas Kota Ambon yang Sederhana tapi Kaya Rasa
Keberadaan desa di tapal batas negara ini memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan. Berkunjung ke Desa Eliasa bukan hanya soal menikmati pemandangan alam, tetapi juga merasakan pengalaman berada di ujung Indonesia, tempat garis imajiner negara berakhir dan laut lepas terbentang luas.
Salah satu daya tarik utama Desa Eliasa adalah panorama sunset yang memukau. Menjelang sore hari, langit perlahan berubah warna, dari biru cerah menjadi semburat jingga dan keemasan. Pantulan cahaya matahari di permukaan laut menciptakan pemandangan yang menenangkan sekaligus dramatis.
Banyak wisatawan memilih duduk santai sambil menunggu matahari terbenam, menikmati semilir angin laut dan suasana sunyi khas daerah pesisir. Momen senja di Desa Eliasa sering dianggap sebagai waktu terbaik untuk meresapi keindahan alam sekaligus merefleksikan perjalanan ke wilayah terluar Indonesia.
Tak jauh dari titik menikmati sunset, berdiri sebuah mercusuar yang menjadi ikon Desa Eliasa. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda navigasi laut, tetapi juga menjadi simbol keberadaan Indonesia di wilayah perbatasan. Mercusuar tersebut kerap menjadi latar favorit bagi wisatawan yang ingin mengabadikan momen kunjungan mereka.
Keberadaan mercusuar menambah kesan dramatis saat matahari mulai tenggelam. Siluet bangunan yang berpadu dengan cahaya senja menciptakan pemandangan yang ikonik dan berkesan, menjadikan Desa Eliasa sebagai destinasi yang layak dikunjungi bagi pencinta fotografi alam.
Perjalanan menuju Desa Eliasa memang membutuhkan usaha lebih, namun pengalaman yang didapat sebanding dengan perjalanan yang ditempuh. Untuk mencapai Pulau Selaru, wisatawan harus memulai perjalanan dari Saumlaki, ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dari Saumlaki, perjalanan dilanjutkan menggunakan speedboat reguler yang melayani rute menuju Pulau Selaru. Perjalanan laut ini menjadi bagian dari pengalaman wisata tersendiri, karena wisatawan dapat menikmati pemandangan laut lepas yang membentang luas selama perjalanan.
Desa Eliasa menawarkan wisata yang masih alami dan jauh dari kesan komersial. Minimnya pembangunan besar membuat lingkungan desa tetap terjaga. Hal ini menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan pengalaman wisata yang lebih autentik.
Suasana desa yang sederhana dan ramah menjadikan kunjungan ke Desa Eliasa terasa hangat. Wisatawan dapat merasakan kehidupan masyarakat pesisir yang berjalan selaras dengan alam, tanpa hiruk-pikuk wisata massal.
Sebagai wilayah perbatasan, Desa Eliasa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Keindahan alam, posisi geografis yang unik, serta ikon mercusuar menjadi daya tarik yang dapat diperkenalkan lebih luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dispar.malukuprov.go.id