MALUKU - Kota Ambon dikenal sebagai salah satu kota tertua di kawasan timur Indonesia. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan rempah-rempah menjadikan wilayah ini sejak lama menarik perhatian bangsa-bangsa asing. Namun, sebelum berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, Ambon lebih dahulu tumbuh dari kumpulan komunitas lokal yang hidup di sekitar benteng kolonial. Proses panjang inilah yang kemudian membentuk identitas Kota Ambon seperti yang dikenal saat ini.
Jejak awal sejarah Kota Ambon dapat ditarik ke tahun 1575. Pada masa itu, bangsa Portugis mulai membangun sebuah benteng di kawasan Pantai Honipopu. Benteng tersebut dikenal dengan nama Benteng Kota Laha atau Ferangi, dan dalam catatan sejarah Portugis disebut sebagai Nossa Senhora de Anunciada. Pembangunan benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pertahanan, tetapi juga menjadi titik awal terbentuknya permukiman yang terorganisir di wilayah Ambon.
Keberadaan benteng Portugis mendorong masyarakat dari berbagai negeri di sekitarnya untuk menetap di kawasan tersebut. Penduduk dari Kilang, Ema, Soya, Hutumuri, Halong, Hative, Seilale, Urimessing, Batu Merah, dan wilayah lainnya terlibat langsung dalam aktivitas pembangunan benteng maupun kegiatan ekonomi pendukung. Dari sinilah kemudian terbentuk kelompok-kelompok masyarakat yang dikenal sebagai soa.
Soa-soa tersebut berkembang menjadi komunitas yang memiliki struktur sosial jelas dan ikatan geneologis yang kuat. Dalam perkembangannya, komunitas ini tidak lagi sekadar kelompok pekerja benteng, tetapi tumbuh menjadi masyarakat teritorial yang menetap secara permanen. Pola kehidupan yang teratur, aktivitas ekonomi yang terus berjalan, serta interaksi antar-soa menjadi fondasi awal terbentuknya kehidupan perkotaan di Ambon.
Baca juga: Pasar Mardika Ambon, Pusat Perdagangan dan Aktivitas Ekonomi Rakyat Maluku
Dinamika Migrasi dan Pertumbuhan Permukiman
Pertumbuhan permukiman di sekitar Benteng Kota Laha semakin pesat seiring meningkatnya arus migrasi. Salah satu faktor penting adalah peristiwa kekalahan Portugis di Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah. Kekalahan tersebut memaksa banyak orang Portugis meninggalkan Ternate dan mencari wilayah baru yang lebih aman, termasuk Ambon.
Tidak hanya bangsa Eropa, para pedagang Nusantara dari berbagai daerah juga berdatangan ke Ambon. Mereka memanfaatkan posisi Ambon sebagai pelabuhan alami dan pusat distribusi rempah-rempah. Akibatnya, kawasan sekitar benteng semakin padat dan aktivitas sosial-ekonomi kian beragam. Permukiman yang awalnya terbatas berkembang menjadi kawasan hunian yang lebih luas dan kompleks.
Kondisi ini memenuhi syarat utama sebuah wilayah untuk berkembang menjadi kota, yakni adanya penduduk tetap, aktivitas ekonomi berkelanjutan, serta sistem sosial yang terorganisir. Oleh karena itu, tahun 1575 kemudian dipandang sebagai tonggak awal lahirnya Kota Ambon dari perspektif sejarah perkotaan.
Ambon dan Perjuangan Politik Masyarakat
Perjalanan Kota Ambon tidak berhenti pada fase pembentukan fisik dan sosial. Memasuki abad ke-20, Ambon mulai memainkan peran penting dalam dinamika politik kolonial. Salah satu peristiwa bersejarah terjadi pada 7 September 1921, ketika masyarakat Kota Ambon memperoleh hak yang setara dengan pemerintah kolonial Belanda.
Pemberian hak ini memungkinkan warga Ambon untuk terlibat langsung dalam pemerintahan kota melalui lembaga Gemeenteraad atau Dewan Kota. Keputusan tersebut merupakan hasil perjuangan panjang rakyat Maluku, yang kala itu dipimpin oleh tokoh pergerakan Alexander Yacob Patty. Dari sudut pandang politik nasional, peristiwa ini menjadi simbol pengakuan terhadap aspirasi rakyat sekaligus menandai kekalahan politis kolonialisme di Ambon.
Momentum 7 September 1921 tidak hanya penting secara administratif, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat. Untuk pertama kalinya, masyarakat Ambon memiliki ruang resmi untuk menentukan arah pemerintahan kotanya sendiri. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu landasan utama dalam penetapan tanggal lahir Kota Ambon.
Baca juga: LeGreen Office Ambon, Coworking Space Modern di Jantung Kota Ambon
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ambon.go.id