Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 19 FEBRUARI 2026 • 19:13 WIB

Ramadan di Kampung Namlea Maluku: Tradisi, Solidaritas, dan Hangatnya Kebersamaan di Pulau Buru

Ramadan di Kampung Namlea Maluku: Tradisi, Solidaritas, dan Hangatnya Kebersamaan di Pulau BuruKebersamaan Ramadan di Kampung Namlea Maluku (pemkotkampungmalukuid)

MALUKU - Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Di kawasan timur, tepatnya di Kampung Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, bulan suci ini terasa begitu hidup dan penuh makna. Sebagai pusat aktivitas di Pulau Buru, Namlea bukan hanya menjadi simpul ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga ruang tumbuhnya tradisi keagamaan yang sarat nilai kebersamaan.

Bagi masyarakat di Namlea, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, bulan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat iman, serta meneguhkan solidaritas sosial di tengah kehidupan kampung yang masih kental dengan budaya gotong royong.

Aktivitas Ramadan di Namlea dimulai sejak dini hari. Menjelang waktu sahur, suasana kampung sudah terasa hidup. Lampu-lampu rumah menyala, suara peralatan dapur terdengar, dan aroma masakan khas daerah mulai tercium dari setiap sudut permukiman.

Menu sahur warga biasanya sederhana namun mengenyangkan. Ikan hasil tangkapan nelayan setempat, sayur bening, sambal, hingga nasi hangat menjadi santapan utama sebelum memulai puasa. Kebersamaan keluarga sangat terasa di momen ini, karena sahur bukan hanya soal makan, tetapi juga waktu untuk berkumpul sebelum menjalani aktivitas seharian.

Usai sahur, warga berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Masjid-masjid di Namlea tersebar di berbagai sudut kampung dan selalu ramai selama Ramadan. Suasana khusyuk berpadu dengan rasa persaudaraan yang kuat. Setelah salat, sebagian jamaah melanjutkan dengan zikir atau tadarus Al-Qur’an sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Memasuki pagi dan siang hari, kehidupan di Namlea tetap berjalan seperti biasa. Pasar tradisional tetap ramai oleh pedagang dan pembeli. Aktivitas jual beli berlangsung dengan semangat, meskipun para pedagang menjalani puasa.

Para nelayan juga tetap melaut. Sejak pagi, mereka berangkat mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pasar lokal. Cuaca yang terkadang cukup terik tidak menyurutkan langkah mereka. Ramadan justru dipandang sebagai bulan penuh berkah, sehingga bekerja dengan niat ibadah menjadi motivasi tersendiri.

Di sektor lain, pegawai, guru, hingga pelajar tetap menjalankan rutinitas dengan penyesuaian waktu. Semangat produktivitas ini menunjukkan bahwa puasa bukan penghalang untuk berkarya. Justru, banyak warga meyakini bahwa kerja yang dilakukan dengan sabar selama Ramadan akan mendatangkan pahala berlipat ganda.

Menjelang sore hari, suasana di Namlea berubah menjadi lebih semarak. Lapangan kampung dan halaman masjid mulai dipenuhi warga yang mengikuti kegiatan keagamaan. Kajian Islam, ceramah, hingga tadarus Al-Qur’an menjadi agenda rutin yang digelar hampir setiap hari.

Anak-anak hingga orang dewasa duduk bersama menyimak tausiah dari ustaz setempat. Bagi generasi muda, momen ini menjadi sarana belajar sekaligus memperdalam pemahaman agama. Ramadan benar-benar dimanfaatkan sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Sementara itu, di rumah-rumah warga, para ibu mulai sibuk menyiapkan hidangan berbuka puasa. Aktivitas memasak menjadi pemandangan umum menjelang magrib. Menu berbuka biasanya terdiri dari takjil seperti kolak, es buah, atau kue tradisional, lalu dilanjutkan dengan makanan berat seperti nasi dan lauk khas daerah.

Tak jarang, makanan yang dimasak tidak hanya untuk keluarga sendiri. Banyak warga menyiapkan porsi lebih untuk dibagikan kepada tetangga atau kerabat. Tradisi saling berbagi ini menjadi salah satu ciri khas Ramadan di Namlea.

Salah satu nilai paling menonjol selama Ramadan di Namlea adalah solidaritas sosial. Komunitas pemuda, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok masjid kerap menggelar kegiatan berbagi takjil dan makanan berbuka.

Mereka membagikan makanan kepada pekerja harian, pengemudi ojek, lansia, hingga anak-anak yatim. Aksi ini biasanya dilakukan di pinggir jalan utama atau di sekitar masjid. Senyum penerima dan semangat para relawan menciptakan suasana haru sekaligus membahagiakan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkotkampungmaluku.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ramadan di Kampung Namlea Maluku: Tradisi, Solidaritas, dan Hangatnya Kebersamaan di Pulau Buru

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!