Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 24 FEBRUARI 2026 • 20:41 WIB

Negeri Tomalehu Barat di Pulau Manipa: Jejak Kapitan Jongker dan Kearifan Lokal yang Tetap Bersinar

Negeri Tomalehu Barat di Pulau Manipa: Jejak Kapitan Jongker dan Kearifan Lokal yang Tetap BersinarNegeri Tomalehu Barat (Humas)

MALUKU - Di gugusan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, berdiri sebuah negeri adat yang masih teguh memelihara warisan leluhur. Namanya Tomalehu Barat, atau yang juga dikenal dengan sebutan Henakanama yang dimaknai sebagai “negeri pertama”.

Bukan sekadar desa biasa, Tomalehu Barat menyimpan kisah heroik yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Dari tanah inilah dipercaya lahir seorang jawara legendaris Maluku yang namanya pernah menggema hingga ke Negeri Kincir Angin, Belanda: Kapitan Jongker.

Bagi masyarakat Pulau Manipa, Kapitan Jongker bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol keberanian, keteguhan, dan perlawanan terhadap penjajahan.

Dalam tradisi tutur yang masih kuat di Pulau Manipa, Kapitan Jongker digambarkan sebagai sosok heroik yang tak terkalahkan. Sebagian masyarakat bahkan meyakini ia tidak pernah benar-benar wafat, melainkan menghilang dan menjelma menjadi seekor burung. Misteri tentang wajah dan sosok aslinya pun hingga kini tidak pernah benar-benar terungkap.

Nama Kapitan Jongker tercatat dalam sebuah akta tahun 1664 dengan sebutan “Joncker Jouwa de Manipa”. Catatan ini menguatkan keyakinan bahwa ia memang berasal dari Pulau Manipa, tepatnya dari Tomalehu Barat.

Keberaniannya begitu melegenda hingga pada masa kolonial, hampir tidak ada nama lain yang lebih dimitoskan oleh serdadu Belanda selain dirinya. Kisah tentangnya diwariskan secara turun-temurun, membentuk identitas kolektif masyarakat Tomalehu Barat sebagai negeri para pejuang.

Tomalehu Barat berada di Kecamatan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Untuk mencapai negeri ini dari Kota Ambon, perjalanan laut menggunakan speed boat memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam.

Sementara dari Kecamatan Kepulauan Manipa menuju Kota Piru ibu kota Kabupaten Seram Bagian Barat perjalanan menggunakan kapal feri memakan waktu sekitar 4 jam.

Meski aksesnya membutuhkan waktu dan kesabaran, perjalanan menuju Tomalehu Barat akan terbayar dengan panorama laut biru, perbukitan hijau, serta suasana desa yang masih alami dan tenang.

Tomalehu Barat memiliki luas wilayah sekitar 32 km², dengan kawasan hutan mencapai 29 km². Hutan-hutan ini menjadi sumber kehidupan sekaligus penyangga ekosistem desa.

Di dalamnya tumbuh berbagai sumber daya alam bernilai ekonomi tinggi seperti damar, minyak kayu putih, sagu, kelapa, pala, kopi, kakao, cengkeh. Selain itu, masyarakat juga membudidayakan tanaman produksi seperti kenari, durian, langsat, manggis, mangga, jeruk, dan berbagai tanaman perkebunan lainnya.

Hasil lautnya pun tidak kalah menjanjikan. Perairan sekitar Manipa kaya akan ikan layang, ikan dasar, dan berbagai biota laut bernilai ekonomi tinggi. Ekosistem laut yang masih terjaga menjadi harapan besar bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Dengan jumlah penduduk sekitar 1.473 jiwa yang terdiri dari 297 kepala keluarga, kehidupan masyarakat Tomalehu Barat masih terbilang tradisional.

Dalam hal konsumsi pangan, warga masih mengandalkan makanan lokal seperti sagu, singkong, dan umbi-umbian. Pola hidup ini bukan hanya soal tradisi, tetapi juga bentuk kearifan dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Maluku.jadesta.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Negeri Tomalehu Barat di Pulau Manipa: Jejak Kapitan Jongker dan Kearifan Lokal yang Tetap Bersinar

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!