Legenda raja buangan jadi penguasa
MALUKU – Di balik lebatnya hutan dan pegunungan Pulau Seram, tersimpan sebuah kisah legenda yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat, yakni tentang Kerajaan Sahulau. Kerajaan yang terletak di wilayah Seram Selatan ini diyakini memiliki asal-usul yang unik, penuh keajaiban, sekaligus sarat nilai sejarah dan budaya.
Menurut cerita para tetua adat, Kerajaan Sahulau lahir dari situasi konflik besar yang terjadi di Kerajaan Nunusaku, sebuah pusat peradaban tua masyarakat Maluku. Perang saudara yang berkecamuk kala itu memicu perpecahan dan perpindahan kelompok-kelompok masyarakat, yang kemudian menjadi awal berdirinya sejumlah negeri, termasuk Sahulau.
Kisah Kerajaan Sahulau tidak dapat dilepaskan dari sosok rajanya yang legendaris. Ia dikenal dengan gelar panjang Hena Mese Ina Nusa Nusa Rata Sahulau Samasuru Amalatu Kabasaran. Namun di balik kebesarannya sebagai raja, tersimpan kisah pilu yang mengawali perjalanan hidupnya.
Sang raja konon bukan berasal dari Pulau Seram, melainkan seorang pendatang dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Ia disebut sebagai anak dari Sultan Buton yang diasingkan dari kerajaannya sendiri. Penyebabnya bukan karena kesalahan atau pemberontakan, melainkan kondisi fisiknya yang dianggap tidak sempurna.
Sejak lahir, ia memiliki ekor panjang menyerupai ular. Keadaan ini membuat keluarganya merasa malu, hingga akhirnya memutuskan untuk mengusirnya. Ironisnya, justru dari ekor itulah tersimpan kekuatan dan kesaktian yang luar biasa.
Setelah diusir, sang pangeran menjalani kehidupan penuh penderitaan. Ia mengembara tanpa arah, bahkan harus berenang dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya tiba di Pulau Seram. Di pulau inilah ia menemukan harapan baru.
Melihat kondisi alam yang mendukung, ia memilih menetap di sebuah tempat sunyi di wilayah pegunungan. Di sana, ia melakukan pertapaan dengan penuh kesabaran untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Usahanya tidak sia-sia. Perlahan, ia berhasil kembali berwujud seperti manusia normal. Ekor yang dimilikinya dapat disembunyikan dan hanya digunakan dalam keadaan tertentu, terutama saat menghadapi bahaya.
Suatu hari, ketenangan hidupnya terusik oleh kabar adanya konflik di wilayah sekitar. Tanpa ragu, ia mendatangi lokasi tersebut dan menemukan dua saudara yang tengah bertikai dalam sebuah duel. Dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya, ia berhasil melerai pertikaian itu dan mencegah perang besar yang lebih luas.
Tindakan heroiknya membuat masyarakat setempat memberikan penghormatan tinggi. Sebagai bentuk rasa terima kasih, ia diberikan izin untuk membuka sebuah kampung baru sekaligus diangkat sebagai pemimpin.
Pangeran dari Buton itu kemudian memilih wilayah pegunungan Sahulau sebagai pusat pemerintahannya. Dari sanalah ia membangun sebuah kerajaan yang kelak dikenal luas sebagai Kerajaan Sahulau.
Seiring waktu, Kerajaan Sahulau berkembang pesat. Kabar tentang keberadaan sang raja pun sampai ke negeri asalnya. Sanak saudara dari Buton mulai berdatangan, bahkan menetap di Sahulau. Hal ini membuat komposisi penduduk kerajaan tersebut banyak berasal dari Buton.
Tidak hanya itu, Kerajaan Sahulau juga dikenal aktif menjalin hubungan dengan pihak luar. Dalam perkembangannya, kerajaan ini bahkan melakukan perjanjian perdagangan dengan bangsa asing, termasuk Belanda. Hubungan tersebut juga diwujudkan dalam ikatan pela, yakni bentuk persahabatan khas masyarakat Maluku yang memiliki nilai sakral dan sosial tinggi.
Hingga kini, cerita tentang Kerajaan Sahulau masih dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari warisan leluhur. Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah bahwa keturunan Buton yang pernah tinggal atau berdagang di wilayah Sahulau akan memperoleh keberuntungan.
Kepercayaan ini diyakini sebagai berkah dari sosok raja pertama Sahulau, sang pangeran buangan yang berhasil mengubah nasibnya dari seorang yang terasing menjadi pemimpin besar yang disegani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah