MALUKU – Di balik sunyinya pedalaman Pulau Seram, tersimpan sebuah legenda yang sarat makna tentang asal-usul kepemimpinan di sebuah negeri kecil bernama Iha Luhu. Kisah ini dikenal sebagai cerita tentang lahirnya Raja Iha, yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat setempat.
Legenda ini bukan sekadar cerita rakyat, tetapi juga mencerminkan nilai spiritual, kepercayaan terhadap tanda alam, serta pentingnya kepemimpinan yang bijaksana.
Pada masa lampau, masyarakat Iha hidup tanpa seorang raja. Para tetua adat mengalami kesulitan dalam menentukan siapa yang layak memimpin negeri. Sosok yang diharapkan bukan sekadar pemimpin biasa, melainkan raja yang bijaksana dan mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.
Berbagai cara telah dilakukan untuk menemukan pemimpin tersebut, termasuk melalui ritual ramalan yang dikenal sebagai mawe. Namun, usaha itu belum juga membuahkan hasil.
Keadaan ini membuat masyarakat diliputi kesedihan dan keputusasaan. Mereka pun terus memohon petunjuk dari roh-roh leluhur agar diberikan tanda tentang siapa yang pantas menjadi raja.
Suatu hari, seorang lelaki pergi berburu di hutan lebat. Setelah berjalan cukup jauh, ia merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat di atas batang pohon tumbang.
Sambil duduk, ia mengunyah sirih pinang seperti kebiasaan masyarakat setempat. Namun, saat hendak meludah, ia terkejut karena batang pohon yang didudukinya tiba-tiba bergerak.
Setelah diperhatikan lebih dekat, ternyata batang tersebut adalah tubuh seekor ular besar. Dengan refleks, lelaki itu bersiap menebas ular tersebut menggunakan senjatanya.
Namun sebelum serangan dilakukan, terdengar suara misterius dari ular itu yang memohon agar tidak dibunuh. Ular tersebut mengatakan bahwa jika ia mati, maka negeri itu tidak akan pernah memiliki seorang raja.
Ia pun meminta lelaki tersebut untuk pulang dan kembali ke tempat itu keesokan harinya.
Mendengar hal itu, lelaki tersebut segera kembali ke kampung dan menceritakan kejadian aneh tersebut kepada para tetua adat.
Keesokan harinya, ia bersama para tetua kembali ke lokasi. Namun, ular besar itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, di tempat tersebut telah tumbuh sebatang pohon kelapa yang tinggi dan besar.
Ketika mereka melihat ke atas, tampak seorang anak laki-laki telanjang duduk di antara daun-daun kelapa. Warga pun terkejut sekaligus heran melihat kejadian tersebut.
Dengan penuh hati-hati, mereka membujuk anak itu agar turun. Menggunakan isyarat tangan, mereka memanggilnya hingga akhirnya anak tersebut turun dan mendekati mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah