MALUKU - Perayaan Paskah bukan sekadar momentum religius dalam kalender umat Kristiani. Di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Provinsi Maluku, Paskah menjadi momen yang sarat nilai budaya lokal, kebersamaan masyarakat, dan ekspresi ketaatan religius yang khas. Nusantara dikenal dengan ragam tradisi yang kaya, dan cara orang Maluku merayakan Paskah adalah salah satu yang menarik untuk disimak penuh makna spiritual, sarat simbolisme lokal, sekaligus menjadi panggung komunitas untuk merayakan kebangkitan Kristus secara bersama‑sama.
Bagi banyak komunitas di Maluku, Paskah adalah saat berkumpulnya keluarga, tetangga, dan saudara dalam satu suasana yang lebih dari sekadar ibadah. Ini adalah waktu untuk memperkuat hubungan sosial dan spiritual. Pendalaman iman, refleksi akan pengorbanan Yesus Kristus, serta kegembiraan menyongsong kebangkitan-Nya menjadi inti dari perayaan yang dirayakan dengan penuh sukacita dan kekhidmatan. Suasana hangat ini terasa saat jemaat berkumpul di gereja, saling menyapa setelah masa Pra‑Paskah yang penuh persiapan rohani. Paskah di Maluku bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga perayaan solidaritas keluarga dan komunitas.
Momen Paskah dimulai jauh sebelum Hari Kebangkitan Yesus itu sendiri. Pekan Suci adalah serangkaian hari penting yang diperingati secara penuh, yang biasanya meliputi:
Minggu Palma, di mana jemaat membawa daun palma untuk mengenang kedatangan Yesus ke Yerusalem simbol kemenangan dan pengharapan. Kamis Putih, saat liturgi pembasuhan kaki dilakukan sebagai tanda kerendahan hati dan pelayanan kasih. Jumat Agung, puncak refleksi penderitaan Kristus yang diikuti dengan prosesi Jalan Salib. Sabtu Suci, masa hening dan doa menjelang hari kebangkitan. Minggu Paskah, hari kemenangan Kristus atas maut yang dirayakan dengan ibadah penuh sukacita.
Di Maluku, gereja‑gereja di kota maupun kampung saling mengadakan ibadah khusus dan doa bersama, menarik jemaat dari berbagai usia untuk mengikuti rangkaian suci ini dengan penuh penghayatan.
Salah satu tradisi paling mencolok di Maluku adalah pawai obor. Di beberapa kampung seperti Kampung Warabal dan Kampung Watran, pawai obor diadakan pada malam sebelum Paskah atau pada Jumat Agung, di mana umat Kristen berjalan beriringan membawa obor menyala sambil menyanyikan lagu rohani dan memancarkan simbol cahaya Kristus yang mengalahkan kegelapan. Tradisi ini bukan sekadar parade ia sarat makna spiritual cahaya obor melambangkan harapan, kemenangan atas dosa, dan sinar kebangkitan yang menyinari kehidupan umat Kristiani.
Selain pawai obor, prosesi Jalan Salib juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Jumat Agung di banyak kampung dan kota di Maluku. Umat berjalan bersama di titik‑titik pemberhentian yang menggambarkan perjalanan Yesus menuju penyaliban, sambil berdoa, merenung, dan menghayati makna pengorbanan yang mendalam.
Pawai obor bahkan merambah perkotaan seperti di Ambon dan Langgur, di mana ratusan hingga ribuan umat ikut serta dalam prosesi yang dimulai dini hari dan berjalan melalui ruas‑ruas jalan sambil bernyanyi dan bersukacita menyambut Hari Paskah.
Tiada perayaan Paskah yang lengkap tanpa simbol telur Paskah yang secara historis melambangkan kehidupan baru dan kebangkitan. Tradisi ini telah menyebar luas dan diterima di berbagai komunitas, termasuk di Maluku. Anak‑anak berlomba mencari telur berwarna cerah yang disembunyikan di taman atau halaman gereja, sekaligus belajar tentang makna simbolisnya dalam konteks iman Kristiani.
Di beberapa gereja dan komunitas, kegiatan anak‑anak juga mencakup lomba menghias telur, paduan suara anak sekolah minggu, serta permainan tradisional yang menguatkan rasa kekeluargaan dan keterlibatan generasi muda dalam perayaan Paskah.
Perayaan Paskah di Maluku tidak hanya dipenuhi doa dan prosesi, tetapi juga momentum makan bersama yang mempererat ikatan keluarga. Hidangan khas lokal seperti kue sagu dan olahan ikan menjadi bagian tak terpisahkan dari jamuan Paskah di kampung‑kampung seperti Kampung Rutah. Kue sagu dibuat dari sagu, gula aren, dan kelapa, memberikan cita rasa khas yang berbeda dari makanan sehari‑hari, sementara ikan segar menjadi hidangan utama yang menggambarkan kaya akan bahan lokal dan tradisi laut setempat.
Tradisi kuliner ini tidak hanya menjadi bentuk perayaan, tetapi juga simbol solidaritas keluarga dan tetangga yang berkumpul untuk berbagi makanan, cerita, dan kebersamaan menguatkan nilai kebersamaan yang telah diajarkan sepanjang masa.
Di beberapa kampung, perayaan Paskah turut melibatkan peran aktif perempuan dan pemuda dalam persiapan dan pelaksanaan tradisi. Misalnya, di Kampung Hitu, perempuan berperan besar dalam menghias gereja, mengatur jalur prosesi, dan mendukung prosesi jalan salib, sambil melibatkan anak‑anak dalam berbagai aktivitas rohani.
Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal bukan sekadar ritual religius, tetapi fasilitas penguatan nilai sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari generasi tua hingga generasi muda untuk meneruskan warisan budaya dan spiritual mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber