MALUKU – Maluku tidak pernah habis dengan cerita kepahlawanannya. Di balik keindahan alam "Bumi Raja-Raja", tersimpan jejak-jejak bisu perjuangan yang terkadang terlupakan oleh zaman. Salah satu yang paling menggetarkan hati adalah kisah dari Seram Barat, tentang sebuah benteng yang kini tinggal puing, namun mewariskan sumpah yang dijaga hingga berabad-abad kemudian.
Inilah kisah Benteng Hattu, jejak legendaris Kapitan Mata Empat, dan sejarah migrasi besar yang melahirkan Negeri Hattu di Pulau Ambon.
Jika Anda berkunjung ke Kota Piru, ibu kota Kabupaten Seram Barat, sempatkanlah menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer menuju area dekat Pelabuhan Hattu. Di sana, di antara deburan ombak pesisir yang tenang, berdirilah sisa-sisa kejayaan masa lalu yang dikenal sebagai Benteng Hattu.
Meski kini hanya tersisa puing-puing batu yang mulai tertutup lumut dan semak belukar, lokasi ini dulunya adalah pusat pertahanan yang sangat strategis. Dari titik ini, cakrawala laut terlihat jelas, menjadikannya benteng pertahanan utama sekaligus kediaman bagi seorang pemimpin besar yang namanya melegenda: Kapitan Hattu, atau yang lebih dikenal dengan gelar Kapitan Mata Empat.
Dalam catatan lisan masyarakat Seram Barat, Kapitan Mata Empat bukanlah sosok sembarangan. Gelar tersebut bukan sekadar nama, melainkan simbol kecerdikan dan ketangguhan yang luar biasa. Ia dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kewaspadaan tinggi, seolah-olah memiliki mata di depan dan di belakang kepalanya untuk memantau pergerakan musuh.
Selama bertahun-tahun, Benteng Hattu menjadi simbol kedaulatan rakyat setempat. Berbagai kekuatan musuh mencoba menaklukkan benteng ini, namun selalu menemui jalan buntu. Kapitan Mata Empat selalu selangkah lebih maju dalam taktik perang, membuat musuh-musuhnya frustrasi. Bagi rakyatnya, ia adalah pelindung; bagi lawannya, ia adalah mimpi buruk yang mustahil dikalahkan dalam pertarungan terbuka.
Kekalahan seorang pahlawan besar seringkali bukan datang dari kelemahan fisiknya, melainkan dari pengkhianatan dan tipu muslihat. Hal inilah yang dialami oleh Kapitan Mata Empat. Setelah menyadari bahwa menyerang Benteng Hattu secara langsung adalah kesia-siaan, para kapitan musuh berkumpul dan menyusun rencana yang licik.
Mereka mengetahui rute perjalanan yang biasa dilalui oleh Sang Kapitan. Di jalan setapak yang strategis, musuh memerintahkan rakyat mereka untuk menaburkan daun atap (rumbia) secara merata. Daun atap yang kering dan bertumpuk memiliki sifat yang sangat licin jika diinjak dengan terburu-buru.
Pada hari yang naas itu, Kapitan Hattu sedang melintas tanpa kecurigaan. Tiba-tiba, rentetan tembakan musuh memecah kesunyian dari arah persembunyian. Dalam upaya refleks untuk berlindung dan melarikan diri dari kepungan peluru, Kapitan Hattu tergelincir di atas hamparan daun atap yang sengaja disiapkan musuh. Di saat posisi Sang Kapitan sedang goyah dan jatuh itulah, musuh merangsek maju dan menyerangnya secara bertubi-tubi hingga akhirnya sang pelindung Negeri Hattu Piru itu gugur sebagai syuhada.
Gugurnya Kapitan Mata Empat seketika meruntuhkan mental rakyat di Benteng Hattu. Tanpa pemimpin utama, kepanikan massal melanda. Pasukan musuh mulai merangsek masuk, memaksa penduduk untuk menyelamatkan diri dengan cara apa pun.
Karena desakan waktu dan posisi yang terpojok di tepi pantai, rakyat Hattu tidak sempat menyiapkan perahu yang layak. Dalam kepasrahan dan semangat untuk bertahan hidup, mereka menggunakan benda apa saja yang bisa terapung di dekat pantai. Cerita rakyat menyebutkan mereka menggunakan kimming kelapa (selubung pelepah), sabut kelapa, hingga potongan kayu kayu apung untuk tetap bertahan di atas air.
Eksodus besar-besaran ini membawa mereka mengarungi lautan meninggalkan tanah kelahiran di Seram Barat. Setelah perjuangan panjang melawan ombak, para pengungsi ini akhirnya mendarat di pesisir Pulau Ambon. Di sanalah mereka membangun pemukiman baru yang kemudian diberi nama Hattu, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat abadi akan asal-usul mereka di Hattu Piru.
Penyatuan batin antara Negeri Hattu di Ambon dengan tanah leluhur mereka di Piru disimbolkan melalui sebuah pohon. Di Desa Hattu (Ambon), tumbuh sebuah pohon Kolang Susu atau Kamboja yang konon dibawa langsung dari Hattu Piru saat pelarian tersebut.
Legenda mengatakan, agar pohon tersebut tetap hidup selama perjalanan dan setelah ditanam, masyarakat menyiramnya dengan air Kasturi. Hingga saat ini, pohon tersebut dianggap sebagai simbol ingatan, keteguhan hati, dan keberanian rakyat Hattu yang berhasil selamat dari tragedi berdarah di masa lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah