Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 31 MARET 2026 • 11:15 WIB

Hikayat Kedatangan Orang-Orang Ke Pulau Ambon: Jejak Empat Gelombang Migrasi Menurut Imam Rijali

Hikayat Kedatangan Orang-Orang Ke Pulau Ambon: Jejak Empat Gelombang Migrasi Menurut Imam RijaliKedatangan Orang-Orang Ke Pulau Ambon

MALUKU  – Pulau Ambon, yang dikenal dengan julukan "Manise", memiliki sejarah panjang yang jauh lebih dalam dari sekadar perdagangan rempah dunia. Sebelum kedatangan bangsa Eropa yang membawa bedil dan meriam, Jazirah Hitu di utara Pulau Ambon telah berkembang menjadi pusat peradaban yang kosmopolit. Berdasarkan naskah klasik Hikayat Rijali, identitas penduduk Hitu merupakan hasil dari percampuran empat gelombang migrasi besar.

Sejarah Pulau Ambon adalah potret nyata dari keterbukaan nusantara. Tidak ada satu suku pun yang mengklaim kepemilikan tunggal, karena Ambon, khususnya Hitu, dibangun di atas semangat inklusivitas. Empat kelompok besar dari penjuru angin yang berbeda datang membawa kebudayaan, keahlian, dan kepemimpinan mereka masing-masing.

Sejarah pemukiman di Pulau Ambon secara kronologis dimulai dari pesisir Teluk Tanunu, Pulau Seram. Seram, yang dalam budaya lokal dikenal sebagai Nusa Ina (Pulau Ibu), memang menjadi sumber asal-usul banyak penduduk di Maluku Tengah.

Kelompok perintis ini dipimpin oleh seorang tokoh berwibawa bernama Pati Selang Binaur. Mereka adalah kelompok pertama yang berani mengarungi selat sempit yang memisahkan Seram dan Ambon hingga mendarat di pantai Hitulama. Menariknya, naluri keamanan mereka saat itu sangat tinggi. Alih-alih menetap di pesisir yang terbuka bagi ancaman laut, mereka memilih naik ke dataran tinggi yang lebih defensif.

Mereka mendirikan pemukiman di Gunung Paunusa. Di tempat inilah, pondasi awal peradaban Jazirah Hitu diletakkan. Rombongan Pati Selang Binaur inilah yang kemudian dikenal sebagai penduduk asli atau "tuan tanah" yang membuka jalan bagi gelombang-gelombang berikutnya. Tanpa keberanian mereka membuka hutan di Paunusa, sejarah Hitu mungkin tidak akan pernah dimulai.

Gelombang kedua membawa nuansa dari Barat, tepatnya dari Kerajaan Tuban, Jawa Timur. Kedatangan mereka dipicu oleh dinamika internal kerajaan. Tiga bersaudara bangsawan Kiai Tuli, Kiai Daud, dan Nyai Mas terlibat dalam perselisihan keluarga yang tak kunjung usai. Demi menjaga kedamaian dan mencari masa depan baru, mereka memutuskan untuk meninggalkan tanah Jawa bersama para pengikut setianya.

Mereka berlayar menuju arah matahari terbit dan akhirnya membuang sauh di Pelabuhan Husekaa, Jazirah Hitu. Di sinilah terjadi fragmen sejarah yang paling unik dalam Hikayat Rijali:

  1. Taktik Kiai Tuli saat mendarat, wilayah pesisir tampak sunyi. Kiai Tuli menemukan seekor anjing liar. Ia menangkap anjing tersebut dan menggantungkan berbagai jenis buah-buahan yang mereka bawa dari Jawa pada lehernya.
  2. Logika Anjing, Anjing itu dilepaskan ke hutan dan kembali membawa jenis buah-buahan lain. Kiai Tuli menyimpulkan bahwa jika anjing itu membawa buah yang berbeda, pasti ada manusia yang memelihara atau memberinya makan di dalam hutan.
  3. Rombongan Jawa ini mengikuti anjing tersebut hingga bertemu dengan seorang pria lokal yang mengantar mereka menghadap Pati Selang Binaur. Pertemuan dua budaya besar ini (Jawa dan Seram) berakhir dengan sangat harmonis. Mereka sepakat hidup berdampingan, yang kemudian memperkaya struktur sosial di Hitu dengan tata krama dan sistem birokrasi ala kerajaan Jawa.

 
Migrasi ketiga datang dari arah Utara, yaitu Pulau Halmahera. Konflik yang memicu keberangkatan mereka adalah perebutan takhta antara dua putra Raja Halmahera. Sang adik, yang merasa tidak puas dengan pembagian wilayah kekuasaan (di mana ia hanya mendapat wilayah Bacan), memilih untuk melakukan pemberontakan.

Meskipun sang adik cukup kuat, ia memilih untuk tidak menetap di zona konflik. Ia memimpin rombongannya berlayar ke selatan menuju Pulau Ambon. Perjalanan ini merupakan sebuah misi besar yang menyebabkan penyebaran penduduk di beberapa titik:

Beberapa pengikutnya memisahkan diri dan menetap di Pulau Buru.
Sebagian lagi singgah di Pulau Seram (Negeri Lisabatta) dan menjalin hubungan pernikahan dengan penguasa lokal.

Pangeran Halmahera ini kemudian mendirikan negeri baru. Salah satu pengikut setianya yang bernama Sablat diperintahkan untuk turun di Tanjung Sial dan kemudian menjadi Orang Kaya (pemimpin) pertama di Waiputih. Kehadiran rombongan ini memberikan warna militer dan kepemimpinan yang tegas dalam tatanan masyarakat Hitu.

Gelombang terakhir yang melengkapi struktur masyarakat "Empat Perdana Hitu" berasal dari Negeri Gorom, Seram Timur. Tokoh sentralnya adalah Kiai Patih. Pada awalnya, Kiai Patih menetap secara mandiri di daerah Kaitetu, dekat Tanjung Nukuhali.

Pertemuan strategis terjadi ketika armada nelayan milik Perdana Djamilu (tokoh kunci pertahanan Hitu) bertemu dengan Kiai Patih. Perdana Djamilu, yang dikenal sebagai negarawan yang visioner, melihat potensi besar dalam diri Kiai Patih untuk memperkuat pertahanan Jazirah Hitu dari ancaman luar (terutama penjajah Barat yang mulai mengintai).

Djamilu kemudian mengajak Kiai Patih dan pengikutnya untuk bergabung secara resmi dalam federasi Hitu. Untuk mengunci aliansi politik ini, Perdana Djamilu menikahkan putrinya dengan Kiai Patih. Pernikahan ini bukan sekadar urusan domestik, melainkan perjanjian diplomatik yang menyatukan kekuatan Gorom ke dalam jantung pemerintahan Hitu. Dengan bergabungnya Kiai Patih, lengkaplah struktur kepemimpinan di Hitu yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Hikayat Kedatangan Orang-Orang Ke Pulau Ambon: Jejak Empat Gelombang Migrasi Menurut Imam Rijali

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!