Hitu dibangun lewat diplomasi, bukan perang
MALUKU – Menggali sejarah Maluku seolah membuka kotak pandai yang penuh dengan intrik, kearifan lokal, dan strategi politik tingkat tinggi. Jika sebelumnya kita mengenal versi Imam Rijali, kali ini kita akan membedah "Ceritera Orang Kaya Hila". Versi ini memberikan detail yang lebih kaya, nama-nama tokoh yang lebih spesifik, serta kisah "perang saraf" yang melibatkan kecerdikan para leluhur di Jazirah Leihitu, Pulau Ambon.
Pulau Ambon, khususnya wilayah Hitu, telah lama menjadi titik temu berbagai peradaban. Menurut Orang Kaya Hila dan Imam Hasan Soleman (Raja Hila bergelar Orang Kaya Bulan), kedatangan para leluhur di Ambon terbagi dalam gelombang-gelombang besar yang membawa misi politik dan pencarian tempat tinggal baru.
Berbeda dengan versi umum, rombongan kedua yang berasal dari Tuban, Jawa Timur, dipimpin oleh seorang nakhoda bernama Pati Kawa. Rombongan ini membawa tiga orang bersaudara yang memiliki ambisi besar. Perjalanan mereka adalah misi pencarian wilayah kekuasaan yang terencana:
Gelombang ketiga dalam versi ini memberikan perspektif berbeda mengenai sosok Perdana Djamilu. Menurut Orang Kaya Hila, Djamilu bukanlah penduduk asli, melainkan putra sulung dari Raja Jailolo di Maluku Utara yang bermigrasi sekitar tahun 1425.
Kisah ini berawal dari rasa kecewa. Saat Djamilu dan dua adiknya sedang bersenang-senang di Pulau Bacan, sang ayah justru mengangkat putra bungsunya sebagai Raja Jailolo. Merasa dikhianati dan diperlakukan tidak adil, ketiga pangeran ini bersumpah tidak akan kembali ke Jailolo.
Mereka berlayar ke selatan, menuju Pulau Seram. Di sana, mereka berpencar:
Kehadiran tiga kelompok besar di Hitu kelompok Seram, kelompok Tuban, dan kelompok Jailolo memicu ketegangan. Perselisihan kecil antar pengikut Pati Kawa dan Pati Selang Binaur akhirnya meletus menjadi peperangan dahsyat.
Di sinilah peran Perdana Djamilu sebagai diplomat ulung muncul. Kedua pihak yang bertikai secara diam-diam meminta bantuan militer kepada Djamilu. Alih-alih memihak salah satu, Djamilu menjalankan siasat "Pintu Terbuka":
Ia menjanjikan bantuan kepada Pati Kawa, namun di saat yang sama, ia membocorkan rencana serangan itu kepada Pati Selang Binaur. Ia menyarankan Selang Binaur untuk membuka semua pintu masuk negeri agar musuh bisa "dikurung". Namun, saat pasukan Pati Kawa masuk, mereka tidak disambut oleh pedang, melainkan oleh kehadiran Djamilu yang sudah berdiri di tengah-tengah.
Sebelum pertumpahan darah terjadi, Djamilu berteriak, "Jangan kita saling menyerang! Lebih baik kita duduk makan bersama dan menyelesaikan semua perselisihan ini." Kata-kata ini meredam emosi kedua belah pihak. Mereka akhirnya berunding di atas meja makan, dan sejak saat itu, kedamaian abadi tercipta di antara para pendiri Hitu.
Rombongan keempat dipimpin oleh Patih Gorom bernama Mata Liam. Perdana Djamilu yang cerdik ingin mengikat Mata Liam dalam aliansi kekuasaan dengan cara menikahkannya dengan putrinya. Namun, Djamilu ingin menguji apakah Mata Liam benar-benar pria yang bijaksana atau hanya pria biasa yang mudah tertipu.
Djamilu menukar posisi putrinya:
Djamilu berpikir, jika Mata Liam memilih yang berbaju mewah, maka Mata Liam adalah orang yang dangkal dan mudah dikendalikan. Namun, Mata Liam mendapatkan firasat bahwa ini adalah jebakan. Ia mengunyah pinang dan berdoa memohon petunjuk Tuhan. Ia melemparkan sepah pinang tersebut, dan atas kuasa ilahi, pinang itu jatuh tepat di tubuh perempuan yang sedang menyapu halaman (Putri Djamilu yang asli). Djamilu pun terpaksa menepati janjinya, dan Mata Liam resmi menjadi bagian dari keluarga besar penguasa Hitu.
Kisah ini ditutup dengan pelajaran tentang etika kepemimpinan. Sepuluh tahun setelah pemukiman stabil, seorang saudara Pati Kawa dari Tuban datang dan diangkat menjadi Raja. Namun, sebuah pertanda buruk terjadi: saat ia sedang duduk di kursi kebesarannya, sebuah sepah pinang jatuh tepat di atas kepalanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah