Selasa, 14 OKTOBER 2025 • 04:06 WIB

Cerita Rakyat Maluku dari Pulau Buru, Ular Siluman Gunung Tarawesi

Author

Ilustrasi ular. (Pete Linforth/Pixabay)

MALUKU-Setidaknya terdapat 37 cerita rakyat Maluku dari Pulau BuruKali ini yang dibahas dari cerita legenda Pulau Buru, mengisahkan Ular Siluman Gunung Tarawesi.

Plot ceritanya mengandung nilai-nilai edukasi dan pendidikan karakter untuk anak-anak. Cerita ini juga sangat direkomendasikan untuk siswa dan siswi demi mengenal lebih jauh jati diri mereka. Berikut cerita legenda “Ular Siluman Gunung Tarawesi” yang dinukil dari artikel Nurfia dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Buru.

Dikisahkan pada zaman dahulu, ada seorang saudagar kaya yang berasal dari Pulau Tidore tiba di kampung Ubung, Pulau Buru.

Baca juga: Bagian Kedua 20 Kosakata Bahasa Melayu Ambon Abjad A

Ditemani pengawalnya, sang saudagar kemudian mengitari kampung untuk melihat kemungkinan pengembangan usahanya. Tanpa berpikir panjang, saudagar itu pun memilih menetapkan beberapa bulan di kampung Ubung.

Lokasi yang dipilih kala itu, sekitar kaki gunung. Di Tempat itu pula terdapat sebuah gua yang digunakan tempat berteduh. Mereka merapikan bagian dalam gua agar dipakai sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal.

Suatu hari, saudagar dan para pengawalnya kesusahan mencari makanan. Mereka selanjutnya turun ke kampung Ubung.

1. Bertemu Wanita Cantik Laksana Bidadari

Namun di tengah perjalanan, sang saudagar bertemu dua wanita cantik laksana bidari. Dia pun terpesona dan memerintah para pengawal untuk mencari tahu keberadaan keduanya. Mereka pun tiba di rumah kepala kampung dan terkejut. Ternyata di dalam ada dua wanita cantik yang mereka cari-cari bernama Hartini dan Susima sedang duduk bercengkerama.

Usut punya usut, ternyata kedua wanita itu anak dari kepala kampung. Mereka kembali menemui sang saudagar untuk menyampaikan informasi keberadaan kedua wanita cantik itu.

Baca juga: 22 Kosakata Bahasa Melayu Ambon untuk Menyapa, Pelancong Wajib Tahu !

Dengan wajah serius, sang saudagar mendengar detail laporan pengawalnya. Saudagar kaya itu tak sabar lagi.

Ia ingin melamar kedua perempuan cantik itu. Untuk itu, ia segera kembali ke tempat tinggal mereka di kaki gunung.

2. Menyusun Rencana Lamaran

Di tempat tinggalnya, sang saudagar bersama pengawalnya menyusun rencana lamaran. Setelah segala persiapan telah siap, saudagar bersama pengawalnya kembali ke kampung.

Mereka pun menuju rumah kepala kampung. Di rumah itu, kedua perempuan cantik itu berada. Tiba di rumah kepala kampung, saudagar menyampaikan niatnya untuk melamar Hartini dan Susima.

Kepala Kampung yang merupakan orang tua kedua perempuan cantik itu, menerima lamaran saudagar kaya itu. Keesokan harinya, sang saudagar memerintahkan para pengawalnya untuk segera mempersiapkan acara pernikahan.

Baca juga: Bagian Satu Kosakata Bahasa Melayu Ambon Abjad A, Bikin Aksen Otentik

3. Acara Pernikahan Berlangsung Meriah

Setelah semuanya siap, acara pernikahan sang saudagar dan kedua wanita cantik itu dilaksanakan dengan sangat meriah. Warga kampung ikut memeriahkan pesta perkawinan itu. Tengah malam, acara pesta selesai. Sang saudagar lantas mengajak Hartini dan Susima ke kaki gunung. Di situ, sang saudagar selama ini bertempat tinggal. Dari hari ke hari, kehidupan rumah tangga sang saudagar berjalan aman, rukun, dan bahagia. Tiada perselisihan di antara mereka walau mempunyai dua istri. Kehidupan sang saudagar diliputi sejuta kebahagiaan. Seiring berjalannya waktu, saudagar kaya itu merasa ada yang aneh dengan pada sikap kedua istrinya. 

4. Terkejut Melihat Istri Berubah Menjadi Ular

Pada suatu malam, sang saudagar telah tertidur lelap. Kedua istrinya masuk ke kamar dan mendekati sang saudagar. Ketika sang saudagar terbangun dari tidurnya, ia terkejut melihat kedua istrinya berubah wujud menjadi seekor ular.

Sang saudagar tidak menyangka kalau kedua perempuan cantik yang dinikahinya adalah dua siluman ular. Tempat itu yang tadi sepi berubah ramai dipenuhi para pengawal sang saudagar.

Belum sempat menjawab pertanyaan pengawalnya, tiba- tiba terlihat kedua ular siluman menerkam sang saudagar. Kedua ular siluman itu marah kepada sang saudagar.

Ular siluman itu menganggap sang saudagar telah mengganggu tempatnya. Gua yang ada di kaki gunung itu adalah rumah ular siluman. Tubuh sang saudagar semakin melemah tak berdaya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Gigi-gigi ular siluman masih menancap di leher sang saudagar. Darah menetes dari luka gigitan ular siluman. 

Baca juga: Wisata Sejarah ! Ini Rekomendasi 5 Benteng di Maluku Tengah Bagi Pelancong, Bisa Swafoto

5. Tubuh Sang Saudagar Berubah Menyerupai Manusia Ular

Ketika tubuh sang saudagar melemah, tiba-tiba terjadi keanehan pada tubuh sang saudagar. Tubuh sang saudagar yang tak berdaya berubah wujud menyerupai manusia ular.

Sang saudagar malah tampak seperti wujud siluman ular. Melihat kejadian itu, para pengawal sang saudagar terheran-heran.

Mereka ketakutan karena di depan mereka telah berdiri tiga ular siluman. Tanpa menunggu komando, para pengawal itu lari terbirit-birit meninggalkan gua di kaki gunung itu.

Setelah kepergian para pengawal, tinggallah ketiga siluman ular itu. Ketiganya menjadi penghuni gua di kaki gunung itu.

Beberapa tahun kemudian, seorang anak bernama Dula pergi ke gunung tersebut. Ia hendak mencari kayu yang akan dijual ke kota. Ketika mencari kayu, Dula melihat ketiga siluman ular tersebut. Dula terkejut dan ketakutan. Sontak ia berteriak minta tolong. Tetapi tak seorang pun yang mendengar teriakan Dula. 

Baca juga: Permainan Tradisional Seru dari Tanimbar, Bikin Anak Wanita Lupa Gadget !

6. Tiga Ular Siluman Menerkam Seorang Anak Bernama Dula

Ketiga ular siluman itu menerkam Dula. Tubuh Dula dililit oleh ketiga ular siluman itu. Saat tubuh Dula melemah, tubuh Dula diseret ke dalam gua tempat tinggal ketiga ular siluman itu.

Dula dianggap telah mengganggu tempat tinggal para ular siluman. Setelah beberapa hari tak kunjung pulang ke rumah, sang kakek memutuskan untuk mencari cucunya.

Sang kakek berjalan menyusuri gunung untuk mencari cucunya. Karena tidak menemukan cucunya, sang Kakek menangis sambil berteriak-teriak memanggil cucunya. Sang kakek terus memanggil cucunya.

Berkali-kali sang kakek memanggil-manggil nama cucunya. Suara sang kakek membahana ke seantero kaki gunung. Dari dalam gua, ular siluman merasa terganggu oleh suara sang kakek.

Tiada berapa lama, suara sang kakek hilang bersamaan dengan lenyapnya sang kakek dari kaki gunung itu.

Baca juga: 5 Pantai Hits di Pulau Ambon Bikin Takjub dan Melele, Cocok untuk Feed Instagram

7. Penduduk di Sekitar Kaki Gunung Takut ke Hutan

Dengan adanya rentetan kejadian itu, penduduk sekitar kaki gunung tidak berani lagi pergi ke hutan. Mereka khawatir menjadi korban ular siluman. Siapa saja yang masuk dan membuat keributan di kaki gunung, akan hilang dibawa ular siluman.

Akhirnya, penduduk yang menetap di sekitar kampung Ubung menyebut gunung tempat tinggal ular siluman dengan nama gunung Tarawesi. Nama Tarawesi berasal dari kata tara yang artinya jangan, dan wesi yang artinya ribut. Jadi, tarawesi artinya jangan ribut.

Demikian Itulah cerita Ular Siluman Gunung Tarawesi, cerita rakyat dari Pulau Buru. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU