Selasa, 27 JANUARI 2026 • 11:03 WIB

Tradisi Jalan Aiwat hingga Tunggu Batal, Ini Uniknya Ramadan di Kampung Geser Maluku

Author

Kampung Geser Maluku dan Tradisi Ramadan yang Unik (Humas / ADPIM)

MALUKU - Kampung Geser yang terletak di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih menjaga kuat tradisi keagamaan berbasis budaya lokal. Setiap memasuki bulan suci Ramadan, suasana kampung ini berubah menjadi lebih hidup dan sarat makna. Beragam tradisi turun-temurun dijalankan oleh masyarakat sebagai bentuk penyambutan sekaligus penghayatan terhadap bulan penuh berkah tersebut.

Bagi masyarakat Kampung Geser, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum mempererat hubungan sosial, memperkuat nilai kebersamaan, serta menjaga harmoni antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai tradisi yang masih lestari hingga kini.

Baca juga: Masjid Raya Al Fatah Ambon Terbesar di Maluku Ternyata Dibangun Sejak Era Soekarno

Jalan Aiwat, Tradisi Kebersamaan Menyambut Ramadan

Menjelang datangnya bulan Ramadan, masyarakat Kampung Geser melaksanakan tradisi tahunan yang dikenal dengan sebutan “Jalan Aiwat”. Tradisi ini menjadi salah satu penanda bahwa bulan puasa akan segera tiba. Seluruh warga kampung, tanpa memandang usia, ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, warga berjalan bersama mengelilingi kampung sambil melantunkan doa dan zikir. Jalan Aiwat dimaknai sebagai simbol pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum menjalani ibadah puasa. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan serta mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Suasana kebersamaan begitu terasa selama prosesi berlangsung. Warga saling menyapa, berjalan beriringan, dan menumbuhkan semangat persaudaraan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai religius dan sosial berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Kampung Geser.

Baca juga: Ramah Tamah Purna Bhakti, Kapolda Maluku Ajak Pensiunan Polri Terus Jadi Teladan di Masyarakat

Masjid sebagai Pusat Aktivitas Ramadan

Memasuki bulan Ramadan, masjid di Kampung Geser berperan sebagai pusat berbagai aktivitas keagamaan. Selain menjadi tempat pelaksanaan salat lima waktu secara berjamaah, masjid juga menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat.

Setiap hari, warga datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah dengan penuh khidmat. Kehadiran jamaah yang konsisten menciptakan suasana religius yang kuat. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan warga Kampung Geser selama Ramadan.

Tradisi Tunggu Batal Menjelang Berbuka Puasa

Salah satu tradisi unik yang selalu dinantikan saat Ramadan di Kampung Geser adalah “Tunggu Batal”. Tradisi ini dilakukan menjelang waktu berbuka puasa. Warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, berkumpul di luar pagar masjid atau di beberapa titik tertentu di kampung.

Baca juga: Wakil Gubernur Maluku Ajak Siswa Jadi Contoh Teladan, Kenapa ?

Mereka menunggu datangnya waktu maghrib dengan penuh antusias. Kebersamaan terasa kental ketika seluruh warga berkumpul dan berbincang sambil menanti azan maghrib. Saat bedug maghrib ditabuh, warga secara serempak mengucapkan kalimat khas, “batal ee, batal ee”, sebagai tanda bahwa waktu berbuka puasa telah tiba.

Setelah itu, warga segera kembali ke rumah masing-masing untuk menikmati hidangan berbuka yang telah disiapkan. Tradisi Tunggu Batal tidak hanya menjadi penanda waktu berbuka, tetapi juga menciptakan suasana Ramadan yang hangat, sederhana, dan penuh kebahagiaan.

Hadrat, Cara Tradisional Membangunkan Sahur

Tak kalah menarik, masyarakat Kampung Geser juga memiliki tradisi khas untuk membangunkan warga saat waktu sahur, yaitu “Hadrat”. Tradisi ini dilakukan oleh sekelompok pemuda yang berkeliling kampung pada dini hari sambil memainkan alat musik tradisional seperti rebana dan melantunkan zikir.

Suara rebana dan lantunan zikir yang menggema di sepanjang kampung menjadi penanda waktu sahur bagi warga. Selain berfungsi sebagai pengingat, tradisi Hadrat juga menjadi sarana pelestarian seni budaya Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca juga: Athan Australia-Kodam Pattimura Bahas Rencana Latihan Bersama di Morotai Maluku Utara

Bagi masyarakat Kampung Geser, Hadrat bukan sekadar rutinitas Ramadan, melainkan bentuk kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Para pemuda berperan aktif dalam menjaga tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya Islam di lingkungan mereka.

Semangat Gotong Royong dan Kepedulian Sosial

Bulan Ramadan di Kampung Geser juga diwarnai dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tinggi. Menjelang Ramadan, warga secara bersama-sama membersihkan masjid dan lingkungan sekitar kampung. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci dengan lingkungan yang bersih dan nyaman.

Baca juga: Dedikasi Aipda Safrijal Bangun Jembatan Hubungkan Tiga Dusun di Seram Bagian Barat Diganjar Penghargaan

Selain itu, masyarakat Kampung Geser juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti mengumpulkan dan membagikan makanan berbuka puasa kepada keluarga yang kurang mampu. Kepedulian terhadap sesama menjadi nilai utama yang terus dijaga, terutama selama Ramadan.

Melalui kegiatan berbagi tersebut, warga tidak hanya menjalankan ajaran agama, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Ramadan menjadi momentum untuk saling membantu dan mempererat ikatan kekeluargaan.

Harmoni Islam dan Budaya Lokal

Beragam tradisi Ramadan yang dijalankan masyarakat Kampung Geser mencerminkan harmonisasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Tradisi-tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama, justru memperkaya cara masyarakat dalam memaknai Ramadan.

Semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial menjadi inti dari perayaan Ramadan di Kampung Geser. Di tengah arus modernisasi, masyarakat setempat tetap mampu menjaga identitas budaya dan nilai religius secara seimbang.

Dengan tradisi yang masih lestari hingga kini, Kampung Geser menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya dirayakan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui praktik sosial dan budaya yang memperkuat persaudaraan. Inilah yang menjadikan Kampung Geser sebagai salah satu daerah di Maluku dengan tradisi Ramadan yang unik dan penuh makna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkotkampungmaluku.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU