MALUKU - Jika berbicara tentang jejak sejarah kolonial di Maluku, nama Benteng Victoria tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Kota Ambon. Berdiri kokoh tepat di pusat kota, benteng ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu pergulatan kekuasaan, perdagangan rempah-rempah, dan perlawanan rakyat Maluku terhadap penjajahan. Hingga kini, Benteng Victoria masih menyimpan cerita tentang bagaimana Ambon pernah menjadi pusat perhatian dunia karena kekayaan alamnya.
Benteng Victoria merupakan benteng tertua di Ambon yang dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1575. Pembangunannya tidak lepas dari kepentingan Portugis untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah yang saat itu menjadi komoditas paling berharga di dunia. Letak Ambon yang strategis menjadikan wilayah ini incaran bangsa-bangsa Eropa yang berlomba-lomba menguasai Maluku.
Baca juga: Pantai Natsepa, Pesona Pasir Putih Favorit Keluarga di Ambon dengan Tiket Masuk Super Murah
Seiring berjalannya waktu, kekuasaan Portugis di Ambon melemah. Benteng Victoria kemudian jatuh ke tangan Belanda yang selanjutnya menjadikannya sebagai pusat pemerintahan kolonial. Di bawah kekuasaan Belanda, benteng ini memiliki peran yang sangat strategis. Dari sinilah berbagai kebijakan kolonial dijalankan, termasuk eksploitasi besar-besaran terhadap hasil bumi Maluku, terutama rempah-rempah seperti cengkih dan pala.
Pada masa pemerintahan Belanda, Benteng Victoria tidak hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan, tetapi juga sebagai pusat administrasi kolonial. Tepat di depan benteng terdapat pelabuhan yang menjadi jalur utama perhubungan laut antar pulau di Maluku. Melalui pelabuhan ini, kapal-kapal Belanda mengangkut hasil rempah-rempah untuk kemudian didistribusikan ke berbagai negara di Eropa. Aktivitas perdagangan yang padat menjadikan kawasan sekitar benteng sebagai pusat ekonomi pada masanya.
Tak jauh dari benteng, terdapat pasar yang berfungsi sebagai tempat bertemunya para pedagang pribumi. Pasar ini menjadi ruang interaksi antara masyarakat lokal dengan sistem perdagangan kolonial yang dikendalikan Belanda. Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, tersimpan kisah pahit tentang penderitaan rakyat Maluku yang dipaksa tunduk pada monopoli perdagangan dan berbagai kebijakan penindasan.
Benteng Victoria juga berperan sebagai pusat pertahanan Belanda dari berbagai serangan dan perlawanan masyarakat pribumi. Sepanjang sejarahnya, benteng ini menjadi saksi berbagai bentuk perlawanan rakyat Maluku terhadap penjajahan. Salah satu peristiwa paling kelam dan membekas dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia terjadi tepat di depan benteng ini. Di tempat inilah Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura digantung oleh pemerintah kolonial Belanda pada 6 Desember 1817, setelah memimpin perlawanan besar rakyat Maluku.
Baca juga: Masjid Wapauwe: Jejak Tujuh Abad Sejarah Islam di Jazirah Leihitu, Maluku
Peristiwa tersebut menjadikan Benteng Victoria bukan hanya simbol kekuasaan kolonial, tetapi juga monumen ingatan akan keberanian dan pengorbanan rakyat Maluku dalam memperjuangkan kebebasan. Hingga kini, kisah Pattimura masih hidup dalam ingatan masyarakat Ambon dan menjadi bagian penting dari sejarah nasional Indonesia.
Dari segi arsitektur dan koleksi sejarah, Benteng Victoria memiliki keistimewaan tersendiri. Di dalam kawasan benteng, pengunjung dapat menemukan sisa-sisa meriam berukuran raksasa yang dahulu digunakan sebagai alat pertahanan. Meriam-meriam ini menjadi bukti betapa pentingnya benteng tersebut dalam menjaga kekuasaan kolonial di Maluku.
Selain itu, di beberapa ruangan terdapat patung berukir yang terbuat dari kayu pilihan, menampilkan seni ukir khas masa kolonial. Pengunjung juga dapat melihat peta perkembangan Kota Ambon dari abad ke-17 hingga abad ke-19. Peta-peta ini memberikan gambaran bagaimana kota Ambon tumbuh dan berkembang seiring perubahan kekuasaan dan dinamika sejarah. Tak ketinggalan, terdapat pula koleksi lukisan para administratur Belanda yang pernah memerintah di Maluku, memperkuat nuansa historis di dalam benteng.
Melalui peninggalan-peninggalan tersebut, Benteng Victoria menjadi ruang belajar sejarah yang hidup. Pengunjung tidak hanya diajak melihat bangunan tua, tetapi juga memahami proses lahir dan berkembangnya Kota Ambon sebagai salah satu pusat penting di kawasan timur Indonesia.
Keindahan Benteng Victoria juga didukung oleh lokasinya yang strategis. Di sisi depan benteng terdapat ruas jalan yang dikenal dengan nama Boulevard Victoria. Jalan ini menghubungkan langsung kawasan benteng dengan bibir Pantai Honipopu. Dari titik ini, wisatawan dapat menikmati panorama Teluk Ambon yang memukau, terutama saat senja. Pemandangan matahari terbenam dengan latar laut yang tenang menciptakan suasana yang kontras dengan kisah kelam kolonialisme yang pernah terjadi di tempat ini.
Akses menuju Benteng Victoria pun sangat mudah. Benteng ini terletak di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Karena berada tepat di pusat kota, pengunjung bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki. Dari Terminal Mardika, terminal angkutan umum utama di Ambon, pengunjung hanya perlu berjalan sekitar 300 meter ke arah timur untuk tiba di lokasi.
Dengan segala nilai sejarah, budaya, dan panoramanya, Benteng Victoria menjadi destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi saat berada di Ambon. Benteng ini bukan hanya pengingat masa lalu, tetapi juga ruang refleksi tentang perjalanan panjang Maluku dalam menghadapi penjajahan dan mempertahankan jati diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ambon.go.id