Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 08:19 WIB

Sejarah Kota Ambon: Dari Benteng Portugis hingga Lahirnya Sebuah Kota Pesisir Bersejarah

Author

Ilustrasi Sejarah Kota Ambon

MALUKU - Kota Ambon dikenal sebagai salah satu kota tertua di kawasan timur Indonesia. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan rempah-rempah menjadikan wilayah ini sejak lama menarik perhatian bangsa-bangsa asing. Namun, sebelum berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, Ambon lebih dahulu tumbuh dari kumpulan komunitas lokal yang hidup di sekitar benteng kolonial. Proses panjang inilah yang kemudian membentuk identitas Kota Ambon seperti yang dikenal saat ini.

Jejak awal sejarah Kota Ambon dapat ditarik ke tahun 1575. Pada masa itu, bangsa Portugis mulai membangun sebuah benteng di kawasan Pantai Honipopu. Benteng tersebut dikenal dengan nama Benteng Kota Laha atau Ferangi, dan dalam catatan sejarah Portugis disebut sebagai Nossa Senhora de Anunciada. Pembangunan benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pertahanan, tetapi juga menjadi titik awal terbentuknya permukiman yang terorganisir di wilayah Ambon.

Keberadaan benteng Portugis mendorong masyarakat dari berbagai negeri di sekitarnya untuk menetap di kawasan tersebut. Penduduk dari Kilang, Ema, Soya, Hutumuri, Halong, Hative, Seilale, Urimessing, Batu Merah, dan wilayah lainnya terlibat langsung dalam aktivitas pembangunan benteng maupun kegiatan ekonomi pendukung. Dari sinilah kemudian terbentuk kelompok-kelompok masyarakat yang dikenal sebagai soa.

Soa-soa tersebut berkembang menjadi komunitas yang memiliki struktur sosial jelas dan ikatan geneologis yang kuat. Dalam perkembangannya, komunitas ini tidak lagi sekadar kelompok pekerja benteng, tetapi tumbuh menjadi masyarakat teritorial yang menetap secara permanen. Pola kehidupan yang teratur, aktivitas ekonomi yang terus berjalan, serta interaksi antar-soa menjadi fondasi awal terbentuknya kehidupan perkotaan di Ambon.

Baca juga: Pasar Mardika Ambon, Pusat Perdagangan dan Aktivitas Ekonomi Rakyat Maluku

Dinamika Migrasi dan Pertumbuhan Permukiman

Pertumbuhan permukiman di sekitar Benteng Kota Laha semakin pesat seiring meningkatnya arus migrasi. Salah satu faktor penting adalah peristiwa kekalahan Portugis di Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah. Kekalahan tersebut memaksa banyak orang Portugis meninggalkan Ternate dan mencari wilayah baru yang lebih aman, termasuk Ambon.

Tidak hanya bangsa Eropa, para pedagang Nusantara dari berbagai daerah juga berdatangan ke Ambon. Mereka memanfaatkan posisi Ambon sebagai pelabuhan alami dan pusat distribusi rempah-rempah. Akibatnya, kawasan sekitar benteng semakin padat dan aktivitas sosial-ekonomi kian beragam. Permukiman yang awalnya terbatas berkembang menjadi kawasan hunian yang lebih luas dan kompleks.

Kondisi ini memenuhi syarat utama sebuah wilayah untuk berkembang menjadi kota, yakni adanya penduduk tetap, aktivitas ekonomi berkelanjutan, serta sistem sosial yang terorganisir. Oleh karena itu, tahun 1575 kemudian dipandang sebagai tonggak awal lahirnya Kota Ambon dari perspektif sejarah perkotaan.

Ambon dan Perjuangan Politik Masyarakat

Perjalanan Kota Ambon tidak berhenti pada fase pembentukan fisik dan sosial. Memasuki abad ke-20, Ambon mulai memainkan peran penting dalam dinamika politik kolonial. Salah satu peristiwa bersejarah terjadi pada 7 September 1921, ketika masyarakat Kota Ambon memperoleh hak yang setara dengan pemerintah kolonial Belanda.

Pemberian hak ini memungkinkan warga Ambon untuk terlibat langsung dalam pemerintahan kota melalui lembaga Gemeenteraad atau Dewan Kota. Keputusan tersebut merupakan hasil perjuangan panjang rakyat Maluku, yang kala itu dipimpin oleh tokoh pergerakan Alexander Yacob Patty. Dari sudut pandang politik nasional, peristiwa ini menjadi simbol pengakuan terhadap aspirasi rakyat sekaligus menandai kekalahan politis kolonialisme di Ambon.

Momentum 7 September 1921 tidak hanya penting secara administratif, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat. Untuk pertama kalinya, masyarakat Ambon memiliki ruang resmi untuk menentukan arah pemerintahan kotanya sendiri. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu landasan utama dalam penetapan tanggal lahir Kota Ambon.

Baca juga:  LeGreen Office Ambon, Coworking Space Modern di Jantung Kota Ambon

Penelusuran Akademik Penentuan Hari Jadi Kota Ambon

Meski Ambon telah lama berkembang sebagai kota, penetapan hari jadinya baru dilakukan secara resmi pada awal 1970-an. Inisiatif ini digagas oleh Wali Kota Ambon ke-9, almarhum Letnan Kolonel Laut Matheos H. Manuputty. Ia menilai bahwa Kota Ambon memerlukan pijakan sejarah yang jelas sebagai identitas daerah.

Pada 10 Juli 1972, Wali Kota Ambon mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan Panitia Khusus Sejarah Kota Ambon. Panitia ini bertugas menelusuri sumber-sumber sejarah dan menentukan hari lahir kota secara ilmiah. Beberapa waktu kemudian, tugas tersebut diserahkan kepada Fakultas Keguruan Universitas Pattimura untuk menyelenggarakan seminar sejarah.

Seminar Sejarah Kota Ambon dilaksanakan pada 14–17 November 1972 dan melibatkan sekitar 200 peserta. Peserta seminar berasal dari berbagai unsur, mulai dari akademisi, sejarawan, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga aparat pemerintah daerah Kota Ambon dan Provinsi Maluku. Forum ini menjadi ruang diskusi ilmiah untuk mengkaji berbagai fakta sejarah yang berkaitan dengan lahirnya Kota Ambon.

Sejumlah pakar sejarah nasional dan daerah turut menjadi pemakalah. Mereka mempresentasikan hasil kajian berdasarkan arsip kolonial, sumber lisan, serta data sejarah lokal. Pembahasan utama berfokus pada pembangunan Benteng Kota Laha, pembentukan permukiman soa, serta dinamika politik masyarakat Ambon pada masa kolonial.

Baca juga: Makam Sultan Baabullah, Jejak Sang Penguasa 72 Pulau di Lereng Gamalama

Hasil Seminar dan Penetapan Hari Lahir Kota Ambon

Dari hasil analisis berbagai sumber sejarah, seminar menyimpulkan bahwa tahun 1575 merupakan titik awal terbentuknya Kota Ambon. Tahun tersebut menandai dimulainya pembangunan benteng Portugis di Honipopu serta terbentuknya komunitas masyarakat yang menetap secara permanen dan terorganisir.

Sementara itu, tanggal 7 September dipilih dengan merujuk pada peristiwa politik tahun 1921. Pada tanggal tersebut, masyarakat Kota Ambon secara resmi memperoleh hak pemerintahan yang setara dengan kolonial Belanda berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal. Dari sudut pandang yuridis dan politik, tanggal ini dianggap sebagai awal keterlibatan aktif Kota Ambon dalam sistem pemerintahan modern.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, seminar sejarah menetapkan Hari Lahir Kota Ambon jatuh pada 7 September 1575. Penetapan ini menggabungkan dua dimensi penting, yakni dimensi historis pembentukan kota dan dimensi politik perjuangan rakyat Ambon.

Setelah penetapan resmi hasil seminar, Hari Lahir Kota Ambon untuk pertama kalinya diperingati pada 7 September 1973. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi agenda tahunan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sebagai sarana refleksi atas perjalanan panjang kota.

Sejarah lahirnya Kota Ambon menunjukkan bahwa kota ini tumbuh dari keberagaman. Sejak awal, Ambon telah menjadi ruang pertemuan berbagai etnis, budaya, dan kepentingan. Interaksi antara masyarakat lokal, pedagang Nusantara, dan bangsa asing membentuk karakter Ambon sebagai kota pesisir yang terbuka dan dinamis.

Lebih dari sekadar angka tahun, 7 September 1575 merepresentasikan proses panjang pembentukan identitas Kota Ambon. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa Ambon dibangun melalui kerja kolektif masyarakatnya, perjuangan melawan ketidakadilan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Kini, sebagai ibu kota Provinsi Maluku, Ambon terus berkembang menghadapi tantangan modernitas. Namun, akar sejarahnya tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan kota. Memahami sejarah Kota Ambon berarti memahami perjalanan masyarakatnya dalam merawat persatuan, identitas, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ambon.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU