MALUKU - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan cerita rakyat. Di Maluku, khususnya di kawasan pesisir Ambon dan Kepulauan Banda, hidup sebuah legenda turun-temurun yang tak hanya berkisah tentang cinta dan pengkhianatan, tetapi juga tentang asal-usul sebuah negeri. Kisah itu adalah cerita tentang Boiratan dan Boikiki, legenda yang dipercaya menjadi bagian dari sejarah lahirnya Negeri Amahusu.
Cerita ini bermula dari Kepulauan Banda, wilayah yang sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dan kekuasaan raja-raja setempat.
Dahulu kala, di Kepulauan Banda, hiduplah seorang raja bernama Lawataka bersama istrinya, Mulika Nyaira Banda Toka. Mereka dikaruniai enam orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang cantik bernama Boiratan.
Selain anak-anak kandungnya, Raja Lawataka juga memelihara seorang putra dari Raja Sahulau. Namun, setelah Raja Sahulau wafat, anak tersebut kembali ke Seram untuk menggantikan ayahnya sebagai raja.
Tak lama setelah kepergian putra Raja Sahulau, Boiratan diketahui hamil. Keenam saudara laki-lakinya murka dan saling menuduh satu sama lain. Mereka yakin tidak ada orang lain yang tinggal bersama mereka selain keluarga sendiri.
Namun, tak satu pun dari keenam saudara itu mengaku bersalah. Untuk membuktikan siapa ayah dari bayi tersebut, mereka memutuskan menunggu hingga anak itu lahir.
Boiratan pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Boikiki.
Saat Boikiki berusia satu tahun dan mulai merayap, keenam pamannya merancang sebuah ujian kejam. Mereka berdiri membentuk lingkaran sambil memegang parang, lalu menempatkan Boikiki di tengah-tengah mereka.
Keputusan telah dibuat: jika bayi itu merayap menghampiri dan memegang salah satu dari mereka, maka orang itulah yang dianggap bersalah, dan bayi tersebut harus dibunuh.
Boiratan menangis memohon belas kasihan. Ia meminta ayah dan ibunya menyelamatkan anaknya, bahkan rela menanggung malu keluarga dan pergi dari negeri asalnya.
Boikiki merayap di tengah lingkaran, berputar-putar tanpa mendekati satu pun dari keenam pria itu. Bayi itu tidak menyentuh siapa pun.
Kebenaran pun terungkap: tidak satu pun dari mereka adalah ayahnya. Boikiki pun dibiarkan hidup.
Meski demikian, hati Boiratan telah hancur. Ia tak lagi sanggup tinggal bersama saudara-saudaranya.
Boiratan memutuskan meninggalkan kampung halamannya. Ia menyiapkan padewakang, perahu tradisional Maluku, dan berlayar bersama anaknya melintasi ganasnya Laut Banda.
Tujuannya jelas Negeri Sahulau, untuk menemui Raja Sahulau yang diyakini sebagai ayah Boikiki.
Setelah berhari-hari mengarungi laut, Boiratan akhirnya tiba di Negeri Sahulau dan menghadap sang raja.
“Tuanku Raja, inilah anakmu. Saya berharap kita dapat menikah dan hidup bahagia,” ucap Boiratan penuh harap.
Namun jawaban yang diterimanya begitu menyakitkan.
Raja Sahulau menolak mengakui Boiratan sebagai istrinya. Ia merasa kekuasaannya lebih besar dari ayah Boiratan di Banda dan menganggap Boiratan tidak pantas bersanding dengannya.
Hati Boiratan remuk. Tanpa pengakuan dan tanpa perlindungan, ia kembali ke perahunya, memilih melanjutkan pelayaran.
Boiratan berlayar menyusuri pesisir Ambon, melewati Tanjung Nusaniwe, Seilale, hingga Eri. Ia akhirnya tiba di sebuah tempat bernama Batu Pasang-pasang atau Batu Anyo-anyo.
Di antara Gunung Nona dan Gunung Tola, Boiratan menancapkan sebatang bambu ke tanah. Bambu itu tumbuh dan dikenal sebagai bambu suanggi.
Tempat itu dinamai Armahusi, yang kemudian dikenal sebagai negeri lama Amahusu. Boiratan dipercaya sebagai pendiri negeri tersebut dan bergelar Boiratan Timbang Tanah.
Di sanalah Boikiki tumbuh menjadi pria perkasa.
Namun Armahusi bukan tempat yang sepenuhnya aman. Banyak musuh yang mencoba menyerang wilayah itu. Boiratan meminta bantuan dari Arusi di Nusaniwe. Dua kapitan dikirim untuk membantu: Kapitan Sounusa dan Kapitan Samajotu.
Dalam sebuah pertempuran besar, musuh berhasil dipukul mundur. Namun di tengah kelelahan dan kehausan di atas bukit karang, Boikiki melakukan sesuatu yang luar biasa.
Ia menancapkan tombaknya ke batu karang. Dari celah-celah batu itu memancar air segar.
Tempat itu kemudian dikenal sebagai Wanitu, yang berarti Air Setan.
Keajaiban tersebut semakin mengukuhkan Boikiki sebagai sosok pemimpin yang memiliki kekuatan luar biasa.
Setelah musuh dikalahkan, Boikiki diakui para kapitan sebagai raja di Armahusi. Ia menikah dengan putri Kapitan Leinussa dan memperkuat kedudukannya sebagai pemimpin.
Namun Boikiki tidak berhenti di sana. Ia dan istrinya mencari wilayah baru untuk keturunan mereka. Mereka turun ke pantai dan menetap di antara Waiila dan Waipia.
Boikiki memakai gelar Latuwakang, yang berarti raja yang datang dengan padewakang.
Wilayah itu kemudian dikenal dengan nama Amahusu.
Secara etimologis, “Ama” berarti bapak dan “Husu” berarti berjalan menyusur. Amahusu dapat dimaknai sebagai tempat yang ditemui atau dimukim oleh sang bapak yang berjalan menyusuri pantai.
Kisah Boiratan dan Boikiki bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah narasi tentang keteguhan seorang ibu, tentang pengkhianatan dan keberanian, serta tentang asal-usul sebuah negeri.
Legenda ini mencerminkan nilai perjuangan, ketabahan, dan tekad untuk bertahan hidup meski ditolak dan diasingkan. Boiratan menjadi simbol perempuan tangguh yang tak menyerah pada nasib.
Sementara Boikiki adalah gambaran pemimpin yang lahir dari penderitaan, namun mampu membawa perubahan dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Hingga kini, masyarakat Amahusu masih mengenang nama Boiratan dan Boikiki sebagai bagian dari identitas sejarah mereka.
Cerita rakyat ini menjadi bukti bahwa setiap negeri di Maluku memiliki kisah asal-usul yang sarat makna dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di balik debur ombak dan indahnya pesisir Ambon, legenda Boiratan dan Boikiki terus hidup, menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu tertulis di atas kertas, tetapi juga tersimpan dalam ingatan dan tutur masyarakatnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE