Menyusuri Jejak Leluhur di Tanah Weda: Pesona Wisata Budaya Jere Legae di Halmahera Tengah
MALUKU - Kabupaten Halmahera Tengah di Maluku Utara tak hanya dikenal dengan lanskap alamnya yang memukau, tetapi juga kekayaan warisan budaya yang masih dijaga hingga kini. Di balik rimbunnya hutan tropis, hamparan danau yang tenang, serta aliran sungai yang jernih, tersimpan jejak spiritual masyarakat adat Weda dalam bentuk jere situs keramat yang menjadi tempat penghormatan kepada leluhur.
Salah satu kawasan yang menyimpan jejak itu adalah sekitar Danau Nusliko. Di area ini, berdiri beberapa jere yang bukan hanya menjadi simbol spiritualitas masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata budaya dan religi. Jere-jere tersebut antara lain Jere Legae Loi Luteng, Jere Legae Wosel, Jere Legae Mon Celek, Jere Legae Remow, hingga Jere Legae Aer Babunyi.
Menelusuri situs-situs ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin menyelami kepercayaan, legenda, dan kearifan lokal masyarakat Halmahera Tengah.
Jere Legae Loi Luteng: Tete Batu Api di Kawasan Danau Nusliko
Jere Legae Loi Luteng atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Tete Batu Api merupakan salah satu jere paling dihormati di Halmahera Tengah. Lokasinya berada di kawasan Danau Nusliko, sebuah area yang kini dikenal sebagai bagian dari ekowisata dan wisata budaya di Weda.
Bagi masyarakat setempat, Tete Batu Api bukan sekadar situs bersejarah. Diyakini sebagai tempat persemayaman leluhur yang memiliki kekuatan spiritual dan menjadi penjaga wilayah. Karena itu, jere ini dikeramatkan dan dijadikan tempat ziarah, terutama pada momen-momen tertentu ketika masyarakat memanjatkan doa atau memohon keselamatan.
Untuk mencapai Jere Legae Loi Luteng, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer dari Kota Weda. Aksesnya cukup unik karena memadukan jalur darat dan air. Dari pusat kota, wisatawan dapat menggunakan motor atau mobil menuju titik tertentu, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan perahu ketinting dengan tarif sekitar Rp50.000.
Perjalanan menggunakan ketinting menyusuri perairan Nusliko menjadi pengalaman tersendiri. Di sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi panorama alam yang asri hutan hijau yang memantul di permukaan air, suara burung yang bersahutan, serta angin sepoi-sepoi yang membawa ketenangan. Semua itu seolah menjadi pengantar sebelum tiba di situs sakral yang sarat makna.
Jere Legae Wosel: Tete Batu yang Berdiri Teguh
Tak jauh dari Jere Legae Loi Luteng, sekitar 250 meter jaraknya, terdapat Jere Legae Wosel yang oleh masyarakat biasa disebut Tete Batu. Meski berdekatan, setiap jere memiliki cerita dan makna tersendiri bagi masyarakat adat.
Untuk mencapai Jere Legae Wosel, pengunjung juga harus menggunakan perahu ketinting dengan tarif sekitar Rp50.000. Akses yang hanya bisa ditempuh melalui jalur air membuat suasana perjalanan terasa eksklusif dan sakral. Seolah-olah, tidak semua orang dapat dengan mudah menjangkau tempat ini tanpa niat dan kesungguhan.
Secara fisik, jere ini berdiri sederhana namun sarat simbolisme. Batu yang menjadi penanda jere dipercaya sebagai representasi kehadiran leluhur yang tetap menjaga keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Tradisi ziarah di tempat ini biasanya dilakukan dengan penuh penghormatan, mengikuti tata cara yang telah diwariskan turun-temurun oleh para tetua adat.
Jere Legae Mon Celek: Dijaga Tetua, Dirawat Tradisi
Masih berada di kawasan ekowisata Nusliko, sekitar 1 kilometer dari Nusliko Park, berdiri Jere Legae Mon Celek. Lokasi ini menjadi salah satu titik penting dalam jaringan situs budaya di wilayah tersebut.
Jere Legae Mon Celek dikenal sebagai salah satu jere yang dijaga langsung oleh para tetua adat di Halmahera Tengah. Peran tetua sangat penting dalam memastikan kelestarian situs, baik secara fisik maupun nilai-nilai yang menyertainya. Mereka menjaga agar tata cara ziarah, ritual, dan norma adat tetap dihormati oleh siapa pun yang datang berkunjung.
Perjalanan menuju Legae Mon Celek membawa pengunjung melewati lanskap alami yang masih terjaga. Pepohonan rindang dan udara yang segar menciptakan atmosfer yang mendukung kontemplasi. Di sinilah wisata budaya bertemu dengan wisata spiritual memberikan pengalaman yang bukan hanya menyenangkan mata, tetapi juga menyentuh batin.
Jere Legae Remow: Destinasi Ziarah Masyarakat Weda
Dari Legae Mon Celek, perjalanan dapat dilanjutkan sekitar 1,7 kilometer menuju Jere Legae Remow. Lokasinya masih satu arah, sehingga sering dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan wisata budaya.
Berbeda dengan beberapa jere yang harus ditempuh melalui jalur air, Jere Legae Remow dapat diakses menggunakan transportasi darat, baik mobil maupun motor. Hal ini menjadikannya lebih mudah dijangkau oleh masyarakat yang ingin berziarah.
Bagi warga Weda, Legae Remow memiliki makna penting sebagai tempat memanjatkan doa, mengenang leluhur, serta memohon perlindungan. Tradisi ziarah ke jere menjadi bagian dari identitas budaya yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan industri di Halmahera Tengah, keberadaan jere seperti Legae Remow menjadi pengingat bahwa akar budaya tetap harus dijaga. Ia menjadi ruang di mana generasi muda dapat belajar tentang sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang.
Jere Legae Aer Babunyi: Jejak Leluhur di Bawah Air Terjun
Dari seluruh jere di kawasan Weda, Jere Legae Aer Babunyi bisa dibilang paling unik. Letaknya berada tepat di bawah jatuhnya air terjun, menciptakan pemandangan yang dramatis sekaligus sakral.
Menurut kepercayaan masyarakat, sosok leluhur yang bersemayam di tempat ini berwujud buaya putih. Dalam banyak tradisi di Maluku dan wilayah timur Indonesia, buaya kerap dianggap sebagai simbol kekuatan, penjaga, sekaligus leluhur yang memiliki hubungan spiritual dengan manusia.
Jere Legae Aer Babunyi terletak di Weda Selatan, sekitar 23 kilometer dari Kota Weda. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh menggunakan kendaraan darat, baik motor maupun mobil. Namun, setibanya di titik tertentu, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 100 meter dan menyeberangi aliran sungai untuk mencapai jere.
Tantangan perjalanan ini justru menjadi bagian dari pengalaman spiritual. Deru air terjun, percikan air yang menyegarkan, serta suasana alam yang masih alami menciptakan nuansa magis yang sulit ditemukan di tempat lain. Bagi sebagian orang, momen berada di bawah air terjun sambil menyaksikan jere di hadapan mata menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Keberadaan jere-jere di kawasan Danau Nusliko menunjukkan bahwa Halmahera Tengah memiliki potensi wisata budaya yang besar. Tidak hanya mengandalkan keindahan alam, daerah ini juga menawarkan kekayaan spiritual dan sejarah yang autentik.
Wisata budaya seperti ini memiliki karakter berbeda dari wisata massal. Pengunjung diharapkan datang dengan sikap hormat, menjaga kebersihan, serta mematuhi aturan adat yang berlaku. Di sinilah pentingnya peran masyarakat lokal dan pemerintah daerah dalam mengelola situs secara berkelanjutan.
Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan jere dapat menjadi destinasi unggulan yang mendukung ekonomi masyarakat tanpa menghilangkan nilai sakralnya. Transportasi ketinting, jasa pemandu lokal, hingga pengembangan ekowisata di sekitar Nusliko dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
Lebih dari itu, wisata budaya juga berfungsi sebagai media edukasi. Generasi muda dapat belajar tentang sejarah leluhur, sistem kepercayaan tradisional, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam yang selama ini dijaga oleh masyarakat adat Weda.
Di tengah derasnya arus globalisasi, situs-situs seperti Jere Legae Loi Luteng, Legae Wosel, Mon Celek, Remow, dan Aer Babunyi adalah pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh hilang. Mereka adalah penanda sejarah yang hidup bukan hanya batu atau lokasi geografis, tetapi simbol hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Berkunjung ke jere-jere di Halmahera Tengah bukan sekadar berwisata. Ia adalah perjalanan menyelami jejak leluhur, mendengarkan cerita yang diwariskan secara lisan, serta merasakan harmoni antara alam dan spiritualitas.
Bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman berbeda saat menjelajahi Maluku Utara, menyusuri jejak jere di kawasan Danau Nusliko dan Weda Selatan bisa menjadi pilihan. Di sana, Anda tidak hanya menemukan panorama indah, tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga warisan budayanya dengan penuh hormat dan cinta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Baronda.haltengkab.go.id