Selasa, 24 MARET 2026 • 08:10 WIB

Legenda Anak Raja Jailolo: Awal Mula Kepemimpinan di Jazirah Leihitu Ambon

Author

Legenda pangeran Jailolo bangun kekuasaan baru

MALUKU – Sejarah dan legenda di Maluku tak pernah lepas dari kisah-kisah kerajaan besar yang membentuk identitas masyarakat hingga hari ini. Salah satu cerita yang masih hidup secara turun-temurun di Pulau Ambon, khususnya di Jazirah Leihitu, adalah kisah tentang Anak Raja Jailolo.

Cerita ini tidak hanya mengandung unsur legenda, tetapi juga diyakini memiliki keterkaitan dengan asal-usul kepemimpinan dan sistem pemerintahan tradisional di wilayah Hitu, Ambon.

Dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan besar di Maluku Utara yang dikenal sebagai Kesultanan Jailolo. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang sultan yang memiliki empat orang putra dari beberapa permaisuri.

Di antara keempat putra tersebut, anak bungsu menjadi sosok yang paling dimanjakan. Ibunya memiliki pengaruh besar terhadap sang sultan, bahkan lebih dominan dibandingkan istri-istri lainnya. Dengan ambisi yang kuat, sang ibu terus mendesak agar anaknya dijadikan sebagai pewaris tahta.

Desakan yang terus-menerus akhirnya membuat sang sultan luluh. Ia pun memutuskan untuk menobatkan putra bungsunya sebagai penerus kekuasaan.

Momentum penobatan dilakukan secara diam-diam. Saat itu, ketiga putra lainnya sedang menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh Sultan Bacan, kerajaan tetangga. Ketidakhadiran mereka dimanfaatkan untuk melantik sang adik menjadi Sultan Jailolo.

Setelah kembali dari Bacan, ketiga kakak tersebut terkejut dan marah ketika mengetahui bahwa tahta telah diberikan kepada adik mereka. Mereka pun segera menghadap ayahnya untuk meminta penjelasan.

Menghadapi situasi tegang itu, sang sultan memberikan penjelasan yang bijaksana. Ia menyebut bahwa putra bungsunya memiliki fisik yang lemah dan tidak mampu menjalani ekspedisi perang untuk memperluas wilayah kekuasaan.

Sebaliknya, ketiga kakaknya dikenal sebagai sosok yang kuat, tangguh, dan cakap dalam peperangan. Oleh karena itu, sang sultan justru memberikan mereka kesempatan untuk meraih kekuasaan sendiri dengan menaklukkan wilayah baru.

“Pergilah dan jadilah sultan di negeri yang kalian taklukkan,” kira-kira pesan sang ayah.

Penjelasan tersebut akhirnya diterima. Ketiga putra itu pun memilih untuk meninggalkan Jailolo dan memulai perjalanan mereka masing-masing.

Setelah meninggalkan Jailolo, ketiga pangeran tersebut berpisah dan menjelajahi wilayah yang berbeda untuk membangun kekuasaan baru.

Salah satu di antaranya adalah seorang pangeran bernama Jamillu. Ia berlayar hingga tiba di Pulau Ambon. Di sana, ia mulai membuka perkampungan dan membangun pengaruh di tengah masyarakat setempat.

Seiring waktu, Jamillu tidak hanya menjadi pemimpin biasa, tetapi juga berperan penting dalam struktur pemerintahan tradisional di wilayah tersebut.

Di Jazirah Leihitu, Jamillu kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sistem pemerintahan adat yang disebut Empat Perdana Hitu.

Sistem ini merupakan bentuk kepemimpinan kolektif yang membagi kekuasaan ke dalam beberapa pemimpin utama. Keberadaan sistem ini menjadi fondasi penting dalam sejarah sosial dan politik masyarakat Hitu di Ambon.

Legenda ini pun dipercaya sebagai salah satu asal-usul terbentuknya tatanan pemerintahan adat tersebut.

Hingga kini, kisah Anak Raja Jailolo masih sering diceritakan oleh para orang tua di wilayah Leihitu. Cerita ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai kehidupan.

Nilai kebijaksanaan, keadilan, serta pentingnya usaha dan keberanian untuk meraih masa depan menjadi pesan utama yang terkandung dalam legenda ini.

Selain itu, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana konflik keluarga dapat diselesaikan dengan pendekatan yang bijak, tanpa harus menimbulkan perpecahan yang berkepanjangan.

Meski sarat dengan unsur cerita rakyat, legenda Anak Raja Jailolo diyakini memiliki keterkaitan dengan sejarah migrasi dan penyebaran kekuasaan kerajaan-kerajaan Maluku di masa lampau.

Perpindahan tokoh seperti Jamillu dari Jailolo ke Ambon mencerminkan dinamika hubungan antarwilayah di Maluku, sekaligus memperlihatkan bagaimana pengaruh politik dan budaya berkembang lintas pulau.

Cerita ini menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu tertulis dalam prasasti atau dokumen resmi, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Di tengah modernisasi, legenda seperti ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Maluku yang patut dilestarikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU