MALUKU – Sejarah perlawanan rakyat Maluku terhadap penjajahan menyimpan banyak kisah heroik yang jarang diketahui luas. Salah satunya adalah Perang Huamual, sebuah konflik besar yang terjadi pada abad ke-17 di wilayah Jazirah Huamual.
Perang ini tidak hanya menjadi simbol keberanian rakyat, tetapi juga menggambarkan strategi, pengkhianatan, hingga kekuatan persatuan dalam menghadapi penjajah.
Pada masa itu, wilayah Huamual dipimpin oleh seorang raja bijaksana bernama Pati Mataka. Kekuasaannya mencakup sekitar 99 negeri yang berpusat di Negeri Luhu.
Pembangunan Negeri Luhu sebagai pusat pemerintahan dilakukan secara gotong royong oleh seluruh rakyat. Dari wilayah Seri Kambelo di barat hingga Luhu di timur, masyarakat bekerja bersama sambil melantunkan kapata atau nyanyian adat sebagai penyemangat.
Selain sebagai raja, Pati Mataka juga dikenal sebagai pedagang ulung. Ia sering berlayar menggunakan perahu bernama “Bintang Siang” untuk berdagang hingga ke wilayah Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, bahkan sampai ke Tiongkok.
Komoditas utama yang diperdagangkan adalah rempah-rempah seperti cengkeh dan pala, yang ditukar dengan berbagai barang berharga melalui sistem barter.
Keunikan lain dari Pati Mataka adalah ia memiliki seekor burung nuri bernama “Petani”. Burung ini sangat cerdas dan mampu berbicara, sehingga dijadikan sebagai kurir sekaligus mata-mata.
Peran burung ini kelak menjadi sangat penting dalam mengungkap ancaman yang datang dari pihak luar.
Suatu hari, saat Pati Mataka sedang berlayar untuk berdagang, datanglah rombongan Belanda yang dipimpin oleh seorang bernama Tuan Vector. Mereka berniat membeli rempah-rempah di Huamual.
Selama tinggal di Negeri Luhu, Tuan Vector mulai tertarik kepada istri Pati Mataka. Perilakunya yang melanggar adat itu diam-diam dipantau oleh burung nuri “Petani”, yang kemudian segera terbang mencari tuannya untuk menyampaikan kabar tersebut.
Mendengar hal itu, Pati Mataka tetap tenang. Ia segera kembali ke Luhu dan menyusun rencana untuk menghukum pelanggaran tersebut sekaligus menghadapi ancaman Belanda.
Sesampainya di Luhu, Pati Mataka tidak langsung menunjukkan kemarahannya. Ia justru menyambut Tuan Vector dengan ramah dan mengundangnya makan bersama.
Namun di balik jamuan tersebut, ia telah menyiapkan rencana. Saat Tuan Vector lengah, Pati Mataka mengeksekusi hukuman dengan memenggal kepala Tuan Vector, bahkan juga menghukum istrinya sendiri karena dianggap melanggar adat.
Peristiwa ini menjadi pemicu utama pecahnya perang antara rakyat Huamual dan Belanda.
Setelah kejadian itu, Pati Mataka diangkat sebagai panglima perang dengan gelar Kapitan Ulupaha. Ia kemudian melakukan pertapaan di hutan untuk memperkuat dirinya secara spiritual.
Konon, setelah bertapa, ia memiliki kesaktian luar biasa, termasuk kemampuan melihat ke belakang tanpa menoleh, sehingga dijuluki “kapitan bermata empat”.
Dalam menghadapi Belanda, Kapitan Ulupaha juga dibantu oleh seekor burung garuda yang setia. Burung ini sering menyerang kapal-kapal Belanda yang mencoba memasuki wilayah Huamual.
Berulang kali Belanda mengalami kegagalan dalam menyerang Huamual. Untuk mengatasi serangan burung garuda, mereka kemudian memasang pisau di puncak tiang kapal.
Saat burung garuda kembali menyerang, ia terkena jebakan tersebut dan terluka parah hingga akhirnya mati. Meski kehilangan bantuan penting, semangat rakyat Huamual tidak surut.
Tidak berhasil dengan serangan langsung, Belanda menggunakan strategi licik dengan mengadu domba masyarakat. Mereka meminta bantuan dari negeri-negeri sekitar seperti Piru, Eti, Kaibobu, Asilulu, dan Larike.
Sebagai imbalan, Belanda menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil mengalahkan Kapitan Ulupaha.
Pasukan dari berbagai negeri pun bergerak dengan strategi masing-masing. Salah satu tokoh penting dalam penyerangan ini adalah Kapitan Manuputty dari Kaibobu.
Kapitan Manuputty menyusun strategi licik dengan menyebarkan daun-daun kering di sekitar pertahanan Ulupaha. Saat pertempuran terjadi, Kapitan Ulupaha terpeleset dan kehilangan keseimbangan.
Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menyerangnya hingga gugur.
Kematian Kapitan Ulupaha membuat rakyat Huamual terkejut dan kehilangan arah. Namun mereka segera menyadari bahwa konflik yang terjadi telah melibatkan sesama anak negeri.
Kesadaran itu menjadi titik balik. Rakyat Huamual akhirnya bersatu kembali dan bangkit melawan Belanda, berusaha menghindari perang saudara dan mengusir penjajah dari tanah mereka.
Perang Huamual pun menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, dan pentingnya persatuan dalam menghadapi kekuatan asing.
Kisah Perang Huamual bukan hanya cerita tentang konflik, tetapi juga tentang nilai-nilai keberanian, kecerdikan, dan solidaritas. Dari kepemimpinan Pati Mataka hingga pengorbanan Kapitan Ulupaha, semuanya menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan rakyat Maluku.
Legenda ini terus hidup sebagai pengingat bahwa kekuatan terbesar sebuah bangsa terletak pada persatuan rakyatnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah