MALUKU - Di tengah padatnya permukiman warga di Negeri Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris terlupakan. Tak banyak yang menyadari, di balik dinding-dinding kusam dan struktur yang mulai rapuh itu, tersimpan jejak panjang sejarah kolonial di Maluku. Bangunan tersebut dikenal sebagai Benteng Middleburg, salah satu peninggalan penting dari masa kekuasaan Portugis dan Belanda di wilayah timur Indonesia.
Benteng Middleburg bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu dari perebutan kekuasaan, strategi militer, hingga dinamika sosial masyarakat Maluku pada masa lampau. Sayangnya, keberadaan benteng ini kini semakin terpinggirkan, baik dari perhatian publik maupun pemerintah.
Sejarah Benteng Middleburg bermula dari kedatangan bangsa Portugis di Maluku pada abad ke-16. Sebagai wilayah penghasil rempah-rempah yang sangat bernilai, Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa. Portugis menjadi salah satu yang pertama menancapkan pengaruhnya di wilayah ini, termasuk di kawasan Passo.
Benteng ini pertama kali dibangun oleh Portugis sebagai bagian dari upaya memperkuat kontrol mereka atas jalur perdagangan dan wilayah strategis. Pembangunan benteng ini juga melibatkan masyarakat pribumi setempat, yang pada masa itu sering dijadikan tenaga kerja dalam proyek-proyek kolonial.
Keberadaan benteng ini menjadi penanda awal dominasi Portugis di wilayah Passo, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini dalam jaringan perdagangan rempah-rempah dunia.
Namun, kekuasaan Portugis di Maluku tidak berlangsung lama. Pada awal abad ke-17, Belanda melalui VOC mulai memperluas pengaruhnya di wilayah ini. Sekitar tahun 1610, Benteng Middleburg jatuh ke tangan Belanda seiring masuknya mereka ke Negeri Passo.
Setelah menguasai benteng tersebut, Belanda tidak hanya mengambil alih, tetapi juga melakukan renovasi besar-besaran. Tujuannya jelas: memperkuat posisi militer dan mempertahankan dominasi mereka atas wilayah strategis di Ambon.
Renovasi benteng ini berlangsung cukup lama dan baru selesai sekitar tahun 1700. Sejak saat itu, Benteng Middleburg menjadi salah satu titik pertahanan penting Belanda di kawasan Passo.
Secara geografis, Benteng Middleburg memiliki posisi yang sangat strategis. Benteng ini terletak di daratan sempit yang diapit oleh dua teluk, yaitu Teluk Binnen dan Teluk Baguala. Lokasi ini memungkinkan pengawasan terhadap aktivitas yang menghubungkan wilayah Leihitu dan Leitimur—dua kawasan penting di Ambon pada masa itu.
Selain itu, berdasarkan peta peninggalan Belanda, kedua teluk tersebut dahulu dihubungkan oleh sebuah kanal yang menjadi akses penting menuju benteng. Kanal ini memperkuat fungsi benteng sebagai pusat pengawasan dan kontrol jalur transportasi laut.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi geografis kawasan ini mengalami perubahan. Proses sedimentasi menyebabkan garis pantai bergeser, sehingga kini jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi benteng. Perubahan ini turut mempengaruhi fungsi strategis benteng yang dahulu begitu vital.
Ironisnya, meskipun memiliki nilai historis tinggi, lokasi Benteng Middleburg saat ini justru tersembunyi di tengah permukiman warga. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati halaman rumah penduduk, baik dari arah depan maupun belakang. Hal ini membuat benteng sulit terlihat dari jalan raya dan semakin terpinggirkan dari perhatian publik.
Jika melihat kondisi fisiknya saat ini, Benteng Middleburg bisa dibilang berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Struktur bangunan yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari bentuk aslinya.
Benteng ini memiliki denah dasar berbentuk segi empat dengan ukuran bagian dalam sekitar 5 x 5 meter. Dindingnya tersusun dari batu bata tanpa lapisan plester, dengan ketebalan sekitar 50 cm—menunjukkan kekuatan konstruksi pada masanya.
Namun kini, yang tersisa hanya dua sisi dinding, yaitu dinding timur dan barat dengan ketinggian sekitar 5 meter. Pada dinding timur, masih terlihat tiga buah jendela yang menjadi salah satu ciri khas arsitektur benteng tersebut.
Sementara itu, dinding utara dan selatan hanya menyisakan bagian pondasi. Kerusakan ini menunjukkan bahwa benteng telah mengalami degradasi serius akibat usia, cuaca, dan minimnya perawatan.
Pada masa kejayaannya, Benteng Middleburg memiliki peran penting sebagai pusat pengawasan militer. Letaknya yang berada di antara dua teluk menjadikannya titik ideal untuk memantau pergerakan kapal dan aktivitas perdagangan.
Benteng ini juga berfungsi sebagai penghubung antara wilayah Leihitu dan Leitimur, dua kawasan yang memiliki peran penting dalam struktur sosial dan ekonomi masyarakat Ambon.
Dengan adanya kanal yang menghubungkan kedua teluk, benteng ini menjadi semacam “gerbang kontrol” yang memungkinkan pengawasan ketat terhadap jalur distribusi rempah-rempah dan mobilitas penduduk.
Salah satu hal yang paling disayangkan dari Benteng Middleburg adalah minimnya perhatian dari berbagai pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah setempat belum sepenuhnya menyadari potensi besar yang dimiliki benteng ini.
Padahal, jika dikelola dengan baik, Benteng Middleburg dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Ambon. Selain memberikan nilai edukasi, pengelolaan benteng ini juga berpotensi mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian situs sejarah menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kondisi benteng semakin memprihatinkan. Di sisi lain, pemerintah juga dinilai belum maksimal dalam mendata dan mengelola peninggalan kolonial di Maluku.
Di tengah tren wisata berbasis sejarah dan budaya yang semakin diminati, Benteng Middleburg sebenarnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Keunikan lokasi, nilai historis, serta kisah kolonial yang melekat padanya dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Bayangkan jika benteng ini direvitalisasi, dilengkapi dengan papan informasi sejarah, akses jalan yang memadai, serta fasilitas pendukung lainnya. Benteng Middleburg bisa menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Ambon, sejajar dengan situs-situs bersejarah lainnya di Indonesia.
Selain itu, pengembangan benteng ini juga dapat melibatkan masyarakat lokal, baik sebagai pemandu wisata, pengelola, maupun pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Dengan demikian, pelestarian sejarah dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Benteng Middleburg bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang identitas. Ia adalah bagian dari sejarah panjang Maluku yang membentuk karakter masyarakatnya hari ini.
Melestarikan benteng ini berarti menjaga warisan sejarah yang tak ternilai. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Kesadaran akan pentingnya sejarah perlu terus ditumbuhkan, terutama di kalangan generasi muda. Dengan memahami sejarah, kita tidak hanya mengenal masa lalu, tetapi juga dapat mengambil pelajaran untuk masa depan.
Keberadaan Benteng Middleburg di Negeri Passo adalah pengingat bahwa Ambon pernah menjadi pusat perhatian dunia dalam perdagangan rempah-rempah. Benteng ini menyimpan cerita tentang kekuasaan, perjuangan, dan perubahan zaman.
Namun tanpa perhatian dan upaya pelestarian yang serius, bukan tidak mungkin benteng ini akan hilang ditelan waktu. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Benteng Middleburg penting, tetapi apakah kita siap untuk menjaganya. Karena sejatinya, sejarah yang tidak dirawat adalah sejarah yang perlahan dilupakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Passo-ambon.digitaldesa.id