MALUKU – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Dr. H. Rizal Marsaoly, SE., MM, menghadiri sekaligus menjadi narasumber dalam diskusi publik yang diselenggarakan Solidaritas Aksi Mahasiswa untuk Rakyat Indonesia (Samurai) Maluku Utara. Kegiatan tersebut berlangsung di Pusat Interaksi Ide dan Gagasan (Pigas), Kelurahan Kalumata, Kota Ternate, Jumat (6/3/2026) malam.
Diskusi yang mengangkat tema “Responsive Man: Problematika Kota dan Urgensi Kepemimpinan yang Responsif” ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah daerah dan kalangan mahasiswa. Forum tersebut dimanfaatkan untuk membahas berbagai isu strategis yang tengah berkembang di Kota Ternate sekaligus mendorong lahirnya ide-ide konstruktif demi pembangunan kota yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Kehadiran Sekda dalam forum tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Ternate dalam membuka ruang komunikasi dengan generasi muda, khususnya mahasiswa, sebagai bagian penting dari elemen masyarakat yang kritis terhadap arah pembangunan daerah.
Dalam diskusi tersebut, Samurai Maluku Utara menyoroti sejumlah persoalan yang menjadi perhatian publik di Kota Ternate. Beberapa isu yang dibahas antara lain pengelolaan sampah, penataan pasar higienis dan pasar tradisional, pengembangan kawasan Barito, hingga aktivitas pertambangan galian C yang dinilai perlu pengawasan lebih ketat.
Berbagai persoalan tersebut menjadi bahan diskusi yang cukup dinamis antara mahasiswa dan pemerintah daerah. Mahasiswa menyampaikan pandangan kritis sekaligus harapan agar pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang responsif serta solutif terhadap berbagai tantangan perkotaan.
Menanggapi hal tersebut, Sekda Kota Ternate menegaskan bahwa pemerintah selalu terbuka terhadap masukan dari masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa.
“Forum seperti ini sangat penting karena dapat menjadi ruang bertukar gagasan. Mahasiswa memiliki perspektif yang kritis dan konstruktif untuk melihat persoalan kota,” ujarnya.
Mengawali pemaparannya, Rizal Marsaoly juga berbagi cerita mengenai perjalanan kariernya sebelum bergabung dalam birokrasi pemerintahan. Ia mengungkapkan bahwa sebelum menjadi bagian dari aparatur sipil negara, dirinya sempat berkarier di sektor perbankan.
Namun, ia akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri dalam dunia birokrasi karena melihat adanya kebutuhan akan kerja-kerja pemerintahan yang membutuhkan dedikasi tinggi.
“Saya masuk birokrasi karena melihat ada sesuatu yang membutuhkan kerja ekstra. Saat itu saya tertarik dengan kepemimpinan Samsir Andili yang santai tetapi dekat dengan aparatur sipil negara,” ungkapnya.
Menurutnya, kepemimpinan yang mampu membangun kedekatan dengan aparatur merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan birokrasi yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda juga menjelaskan bahwa pembangunan Kota Ternate tidak berjalan secara terpisah dari satu periode ke periode lainnya. Setiap masa kepemimpinan memiliki peran penting dalam membangun fondasi pembangunan yang berkelanjutan.
Ia menyebutkan bahwa konsep pembangunan di Kota Ternate telah melalui beberapa fase penting. Pada masa kepemimpinan Samsir Andili, pembangunan kota diarahkan melalui konsep Ternate Madani. Kemudian pada periode kepemimpinan Wali Kota Hi. Burhan Abdurrahman, pembangunan dilanjutkan melalui konsep Bahari Berkesan.
Saat ini, pembangunan Kota Ternate berada dalam visi Ternate Andalan yang diusung oleh Wali Kota Ternate Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si.
“Setiap periode kepemimpinan memiliki tahapan pembangunan yang saling melanjutkan. Apa yang kita capai hari ini merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya,” jelasnya.
Menurut Rizal, kesinambungan pembangunan menjadi hal penting agar program-program strategis daerah dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Salah satu isu yang turut dibahas dalam diskusi tersebut adalah penataan pasar di Kota Ternate. Sekda menilai bahwa kawasan pasar menjadi salah satu titik penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat, namun juga sering menimbulkan persoalan kemacetan dan ketidakteraturan arus kendaraan.
Oleh karena itu, menurutnya diperlukan penataan akses yang lebih baik agar aktivitas perdagangan tetap berjalan lancar tanpa menimbulkan gangguan lalu lintas.
Ia bahkan mengungkapkan gagasan pembangunan flyover yang menghubungkan kawasan Bandara Babullah dengan area pasar. Gagasan tersebut bertujuan untuk mengurai kemacetan sekaligus menata arus kendaraan di kawasan tersebut.
“Tujuannya agar arus kendaraan lebih tertata. Pengunjung pasar bisa menggunakan akses tertentu, sementara kendaraan lain dapat melintas melalui jalur flyover,” jelasnya.
Meski masih sebatas gagasan, ide tersebut menunjukkan upaya pemerintah untuk terus mencari solusi inovatif dalam menghadapi tantangan tata kota yang semakin kompleks.
Selain persoalan pasar, isu pengelolaan sampah juga menjadi topik penting dalam diskusi tersebut. Sekda menegaskan bahwa penanganan sampah di Kota Ternate masih menjadi tantangan yang memerlukan keterlibatan semua pihak.
Ia menekankan bahwa lurah harus menjadi garda terdepan dalam merespons berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat, termasuk dalam hal pengelolaan sampah.
Menurutnya, kepemimpinan di tingkat kelurahan memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat.
“Lurah harus responsif terhadap persoalan di wilayahnya, termasuk dalam penanganan sampah. Kepemimpinan yang cepat merespons masalah masyarakat sangat dibutuhkan,” katanya.
Saat ini, Pemerintah Kota Ternate juga tengah menginisiasi penyusunan Peraturan Wali Kota yang mengatur tata kelola sampah secara lebih terstruktur dan sistematis.
Regulasi tersebut diharapkan dapat menjadi landasan kebijakan dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Kota Ternate sehingga lebih efektif dan berkelanjutan.
Di akhir diskusi, Rizal Marsaoly menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Samurai Maluku Utara yang telah menggelar forum diskusi tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pembangunan daerah.
“Diskusi seperti ini menjadi pengingat bagi pemerintah agar terus melakukan perbaikan dan bekerja lebih baik lagi,” ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sebagai bentuk kolaborasi nyata, Sekda bahkan mengajak mahasiswa Samurai Maluku Utara untuk bersama-sama menggelar aksi bersih-bersih lingkungan setelah perayaan Idulfitri.
Menurutnya, kerja sama antara pemerintah dan generasi muda sangat penting untuk menciptakan kota yang bersih, tertata, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Ke depan kita perlu bergandengan tangan untuk mewujudkan Ternate yang bersih, tertata, kreatif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ternatekota.go.id