Banda Neira Festival (Humas/Adpim)
MALUKU - Banda Neira merupakan salah satu wilayah di Maluku yang namanya tercatat kuat dalam sejarah dunia. Kepulauan kecil ini pernah menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa Eropa karena kekayaan rempah-rempahnya, terutama cengkih dan pala. Dari Banda, rempah-rempah bernilai tinggi dikirim ke berbagai penjuru dunia dan memicu ekspedisi, kolonialisme, hingga perebutan kekuasaan global. Seluruh jejak sejarah itu kini dihidupkan kembali melalui Banda Neira Festival.
Festival Banda Neira digelar sebagai ruang nostalgia untuk merekam perjalanan panjang Kepulauan Banda dalam sejarah perdagangan rempah dunia. Melalui festival ini, pengunjung tidak hanya diajak menikmati hiburan, tetapi juga menelusuri kisah masa lalu yang membentuk identitas Banda sebagai salah satu pusat sejarah penting di Nusantara.
Sejarah Banda Neira tidak dapat dilepaskan dari kisah cengkih dan pala yang membuat Maluku dikenal sebagai Kepulauan Rempah. Pada masa lalu, rempah-rempah dari Banda menjadi komoditas paling berharga di pasar Eropa. Nilainya begitu tinggi hingga mendorong bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris berlomba-lomba menguasai Banda. Persaingan ini melahirkan berbagai konflik, perjanjian, dan penguasaan wilayah.
Baca juga: Taman Pattimura, Ruang Hijau Ikonik di Jantung Kota Ambon
Salah satu kisah paling terkenal dari Banda adalah cerita tentang Pulau Rhun, sebuah pulau kecil yang menjadi bagian dari Kepulauan Banda. Pulau ini pernah ditukar dengan Manhattan oleh Belanda dan Inggris melalui Perjanjian Breda. Peristiwa tersebut menjadi bukti betapa strategis dan berharganya Banda di mata dunia, bahkan melebihi wilayah yang kini menjadi pusat ekonomi global.
Banda Neira Festival dikemas sebagai ajang wisata sejarah yang mengedepankan perjalanan bangsa Eropa di Banda. Berbagai situs bersejarah menjadi bagian penting dari rangkaian festival. Benteng-benteng peninggalan kolonial, bangunan tua, serta lanskap alam Banda yang masih terjaga menjadi latar utama kegiatan, menciptakan pengalaman wisata yang edukatif sekaligus emosional.
Salah satu slogan yang diusung dalam festival ini adalah “Jangan Mati Sebelum ke Banda”. Kalimat yang pernah diucapkan oleh Sutan Sjahrir ini memiliki makna mendalam tentang kekayaan alam, sejarah, dan pengalaman batin yang dapat dirasakan di Banda. Slogan tersebut menjadi ajakan reflektif bagi siapa pun untuk menyaksikan langsung Banda sebagai ruang sejarah hidup, bukan sekadar destinasi wisata biasa.
Ikon utama Banda Neira Festival adalah Lomba Belang atau Kora-kora, sebuah tradisi bahari yang sarat nilai sejarah. Belang merupakan perahu panjang tradisional yang pada masa lalu digunakan sebagai kapal perang oleh masyarakat Maluku. Perahu ini didayung oleh sekitar 30 hingga 33 orang, mencerminkan kekuatan kolektif, kekompakan, dan semangat perlawanan terhadap penjajahan.
Tradisi kora-kora hingga kini tetap dijaga oleh masyarakat Banda sebagai warisan budaya maritim. Dalam festival, lomba belang digelar dalam kategori Belang Adat dan Belang Nasional. Lomba dayung ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga pertunjukan budaya yang memperlihatkan identitas masyarakat Banda sebagai bangsa pelaut yang tangguh.
Baca juga: Taman Pattimura, Ruang Hijau Ikonik di Jantung Kota Ambon
Selain lomba kora-kora, Banda Neira Festival juga dimeriahkan dengan karnaval budaya. Karnaval ini menampilkan beragam busana adat, tarian tradisional, serta ekspresi seni yang merepresentasikan kekayaan budaya Banda dan Maluku secara luas. Arak-arakan budaya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena menghadirkan suasana meriah sekaligus sarat makna.
Bagi pecinta wisata bahari, festival ini turut menghadirkan lomba foto bawah laut. Perairan Banda dikenal memiliki keindahan bawah laut kelas dunia dengan terumbu karang yang masih terjaga dan biota laut yang beragam. Melalui lomba ini, keindahan bawah laut Banda tidak hanya dinikmati oleh penyelam, tetapi juga dipromosikan kepada khalayak luas melalui karya visual.
Salah satu pertunjukan yang paling dinantikan dalam Banda Neira Festival adalah tarian kolosal yang digelar di Benteng Belgica. Benteng peninggalan kolonial ini menjadi panggung megah bagi pertunjukan seni yang memadukan sejarah, budaya, dan kreativitas. Tarian kolosal di Benteng Belgica menyuguhkan narasi visual tentang perjalanan Banda, mulai dari masa kejayaan rempah hingga semangat pelestarian budaya.
Baca juga: Benteng Victoria, Saksi Bisu Sejarah Kolonial di Jantung Kota Ambon
Festival ini juga memberikan ruang besar bagi pelaku UMKM lokal. Pergelaran UMKM menjadi wadah bagi masyarakat Banda untuk memperkenalkan produk-produk lokal, seperti olahan pala dan cengkih, kerajinan tangan, hingga kuliner khas Banda. Kehadiran UMKM tidak hanya menghidupkan suasana festival, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat.
Tak kalah menarik, Banda Neira Festival turut dimeriahkan dengan live concert yang menampilkan artis-artis lokal Maluku. Musik menjadi medium pemersatu yang menghadirkan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Penampilan musisi lokal juga menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas generasi muda Maluku.
Lebih dari sekadar hiburan, Banda Neira Festival merupakan upaya pelestarian sejarah dan budaya. Festival ini mengingatkan bahwa Banda Neira bukan hanya tentang masa lalu kolonial, tetapi juga tentang ketahanan budaya, semangat juang, dan kekayaan alam yang terus dijaga. Melalui festival ini, Banda Neira kembali menegaskan posisinya sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang memiliki nilai penting bagi Indonesia dan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eventdaerah.kemenparekraf.go.id