Ike Waemese, S.Pd Mengabdi Lewat Pendidikan dan Nilai Adat (Muzni)
MALUKU - Di kawasan pedalaman Pulau Buru, di sekitar Danau Rana yang kerap diselimuti kabut, pendidikan tumbuh bersama nilai adat dan spiritualitas. Wilayah yang dikenal sebagai “negeri di atas awan” ini bukan hanya menyimpan panorama alam yang memukau, tetapi juga cerita pengabdian seorang guru yang memilih tetap tinggal dan berjuang di tanah kelahirannya.
Sosok tersebut adalah Ike Waemese, S.Pd, Guru Pendidikan Agama Kristen pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru. Ia merupakan putra asli negeri adat Danau Rana yang telah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan di wilayah terpencil Pulau Buru.
Alih-alih meninggalkan kampung halaman demi kenyamanan kota, Ike justru kembali ke daerah asalnya dengan membawa ilmu dan semangat pengabdian. Baginya, Danau Rana bukan sekadar tempat bertugas, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga melalui pendidikan.
Baca juga: Banda Neira Festival, Menyusuri Jejak Rempah dan Sejarah Dunia di Kepulauan Banda
Sebagai warga adat Desa Waemite, Dusun Kaktuan, Kecamatan Fena Leisela, Ike tumbuh dengan nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai tersebut kemudian ia bawa ke ruang kelas sebagai fondasi dalam mendidik generasi muda.
Ike mengajar di SMP Negeri 28 Buru, sebuah sekolah yang berada jauh dari pusat kota dengan akses terbatas. Medan yang sulit dan keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang. Justru kondisi itulah yang menguatkan tekadnya untuk terus hadir bagi anak-anak di wilayah pedalaman.
Menurutnya, anak-anak di Danau Rana memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di wilayah perkotaan. Yang mereka butuhkan adalah kepercayaan diri, ruang belajar yang aman, serta pendampingan agar berani bermimpi dan tetap bangga dengan jati diri sebagai anak adat.
Dalam proses belajar-mengajar, Ike tidak hanya berfokus pada penyampaian materi Pendidikan Agama Kristen. Ia juga menanamkan nilai-nilai karakter seperti kasih, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan hidup rukun dalam keberagaman. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan filosofi hidup masyarakat adat Danau Rana yang menjunjung tinggi harmoni kehidupan.
Baca juga: Taman Pattimura, Ruang Hijau Ikonik di Jantung Kota Ambon
Danau Rana sendiri dikenal sebagai danau terbesar di Provinsi Maluku yang berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Bagi masyarakat setempat, kawasan ini dipandang sakral dan memiliki nilai spiritual yang kuat. Karena itu, aktivitas pendidikan di wilayah ini juga menuntut kepekaan terhadap adat dan tradisi yang berlaku.
Ike Waemese memahami betul peran tersebut. Ia hadir sebagai penghubung antara pendidikan formal dan nilai-nilai adat, tanpa menghilangkan ruh lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pendekatan inilah yang membuat proses belajar terasa lebih dekat dan relevan bagi para siswa.
Meski namanya tidak banyak tercatat dalam data atau penghargaan nasional, jejak pengabdian Ike hidup dalam karakter generasi muda Danau Rana. Anak-anak yang ia didik tumbuh dengan semangat belajar, keberanian menatap masa depan, serta kecintaan terhadap tanah kelahiran mereka.
Salah satu tokoh masyarakat setempat menyebut Ike sebagai contoh nyata bahwa perubahan besar sering kali berawal dari ketulusan dan kesetiaan pada kampung halaman. Dari ruang kelas sederhana di pedalaman Pulau Buru, Ike Waemese terus menyalakan cahaya pendidikan dan harapan bagi generasi penerus negeri di atas awan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Maluku.kemenag.go.id