MALUKU - Pada zaman dahulu, hiduplah seorang lelaki yang menggantungkan hidupnya dengan mencari kayu bakar di hutan. Suatu hari, ia berlayar menggunakan perahu dan tiba di pesisir Latuhalat, tepatnya di kawasan Tanjung Latuhalat, Dusun Waimahu. Dari pantai, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, mendaki bukit, menuruni lembah, hingga akhirnya mencapai puncak gunung untuk mengumpulkan kayu.
Hari semakin sore dan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Saat hendak kembali ke pantai, kegelapan telah menyelimuti hutan. Menyadari perjalanan turun terlalu berisiko, ia memutuskan bermalam di tempat itu.
Saat mencari lokasi untuk beristirahat, pandangannya tertuju pada sebuah area yang tampak sangat bersih dan lapang. Malam itu bulan purnama bersinar terang, menerangi sekeliling hutan. Meski demikian, ia kesulitan tidur karena diganggu oleh serangga kecil seperti nyamuk dan agas, bahkan hewan melata seperti ular. Tiba-tiba, seekor ular besar datang dan menelannya, lalu memuntahkannya kembali. Seketika terdengar suara gemuruh dahsyat, seakan-akan bumi terbelah. Tubuhnya gemetar, bulu kuduknya berdiri ketakutan.
Tak lama kemudian, muncullah sosok seorang lelaki tua bertubuh tinggi dan besar. Ketika ia menoleh ke belakang, ia hanya melihat satu batang pohon bulu yang tumbuh di tempat itu. Dengan nada marah, lelaki tua tersebut bertanya, siapa dirinya dan dari mana asalnya. Dengan suara bergetar, lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Yongker, berasal dari Manipa dan tinggal di Benteng.
Orang tua itu kembali bertanya mengapa Yongker berani memasuki wilayah petuanannya dan merusak hutan di daerah tersebut. Dengan penuh rasa takut, Yongker bersujud dan memohon ampun. Ia menjelaskan bahwa dirinya hidup sebatang kara tanpa orang tua, dan mencari kayu di hutan hanyalah cara untuk bertahan hidup.
Mendengar penjelasan itu, hati sang lelaki tua luluh. Dengan nada lebih lembut, ia bertanya apa yang diinginkan Yongker. Yongker menjawab bahwa apa pun yang diberikan akan ia terima dengan penuh syukur. Seketika, lelaki tua itu mengambil sepotong bulu, lalu menusukkannya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki Yongker, kemudian mencabutnya kembali. Sejak saat itu, Yongker merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Ia dianugerahi ilmu kekebalan untuk melindungi diri dari binatang buas dan niat jahat manusia.
Ketika Yongker kembali menoleh, ia melihat pohon bulu berdiri tegak, dan tujuh helai daunnya terlepas dari tangkai. Ajaibnya, daun-daun itu tidak jatuh ke tanah, melainkan terbawa angin menuju laut. Di tengah laut, ketujuh daun tersebut berubah menjadi tujuh pulau kecil yang kini dikenal sebagai Pulau Tujuh. Bersamaan dengan itu, pohon bulu dan sosok lelaki tua tersebut menghilang tanpa jejak.
Sejak peristiwa itu, tempat Yongker bermalam tetap terjaga kebersihannya hingga sekarang. Masyarakat Latuhalat, khususnya warga Dusun Waimahu, meyakini lokasi tersebut sebagai tempat sakral. Pohon bulu itu kemudian dikenal dengan sebutan Bulu Pamali, karena kemunculan dan kepergiannya yang misterius. Konon, pohon ini hanya dapat terlihat oleh orang-orang tertentu yang memiliki hak petuanan di wilayah tersebut.
Kisah Bulu Pamali tidak hanya menyimpan cerita mistis, tetapi juga mengajarkan nilai kehidupan. Bambu atau bulu memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, seperti dijadikan bubu untuk menangkap ikan, dimanfaatkan sebagai tali alami saat masih muda, digunakan sebagai alat musik tradisional, hingga tunasnya yang dapat diolah menjadi sayuran.
Melalui cerita ini, masyarakat diingatkan untuk tidak memasuki wilayah petuanan orang lain tanpa izin, serta menjaga hutan dan lingkungan sekitar agar tetap aman, sehat, rapi, dan indah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ambon.go.id