Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 03 FEBRUARI 2026 • 12:39 WIB

Gereja Tua Hila Imanuel: Jejak Awal Kekristenan dan Simbol Toleransi di Maluku

Gereja Tua Hila Imanuel: Jejak Awal Kekristenan dan Simbol Toleransi di MalukuKondisi Depan Gereja Tua Hila Imanuel (Instragram/@boyhavetogo)

MALUKU - Di Jazirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Maluku. Gereja Tua Hila Imanuel bukan sekadar tempat ibadah, melainkan monumen hidup yang merekam perjumpaan berbagai bangsa, agama, dan budaya sejak awal abad ke-16. Gereja ini dikenal sebagai salah satu gereja tertua di Maluku, bahkan di kawasan timur Indonesia, dengan usia lebih dari lima abad.

Keberadaan Gereja Tua Hila Imanuel telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat Provinsi Maluku melalui Surat Keputusan Nomor 291 Tahun 2009. Status tersebut menegaskan nilai penting gereja ini sebagai warisan sejarah dan budaya yang harus dijaga, tidak hanya oleh masyarakat setempat, tetapi juga oleh bangsa Indonesia.

Sejarah Gereja Tua Hila Imanuel bermula pada tahun 1514, dua tahun setelah bangsa Portugis mendirikan gudang rempah atau loji di wilayah Hila. Pada masa itu, Maluku merupakan pusat perdagangan pala dan cengkeh yang menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa. Portugis, sebagai bangsa Eropa pertama yang datang dan menetap di Maluku, tidak hanya membawa kepentingan dagang, tetapi juga misi penyebaran agama Katolik.

Baca juga: Menyaksikan Senja di Ujung Selatan Indonesia, Pesona Desa Eliasa di Pulau Selaru

Gereja ini awalnya dibangun sebagai gereja Katolik dan diberi nama Santo Jacobus. Bangunannya terbuat dari kayu dan didirikan untuk melayani kebutuhan rohani komunitas Portugis serta penduduk lokal yang telah memeluk agama Katolik. Kehadiran gereja ini menjadi penanda awal perkembangan Kekristenan di wilayah Hila dan sekitarnya.

Situasi berubah pada awal abad ke-17 ketika Belanda mengambil alih kekuasaan Portugis di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil merebut Ambon dan wilayah sekitarnya, termasuk Negeri Hila. Seiring dengan perubahan kekuasaan politik, terjadi pula pergeseran dalam pengelolaan institusi keagamaan.

Gereja Santo Jacobus kemudian diambil alih oleh Belanda. Meski mengalami perluasan dan perbaikan fisik, nama gereja tetap dipertahankan untuk beberapa waktu. Bangunan kayu gereja diperbesar guna menyesuaikan kebutuhan jemaat yang semakin berkembang di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Perubahan terjadi pada akhir abad ke-18, tepatnya ketika Bernardus van Pleuren menjabat sebagai Gubernur Jenderal Belanda untuk wilayah Maluku pada tahun 1780-1781. Pada masa inilah gereja tersebut resmi berganti nama menjadi Gereja Imanuel dan beralih fungsi sebagai gereja Protestan. Nama Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita”, bertahan hingga kini dan menjadi identitas yang melekat kuat pada gereja tua ini.

Baca juga: Kohu-kohu, Kuliner Khas Kota Ambon yang Sederhana tapi Kaya Rasa

Keberadaan Gereja Tua Hila Imanuel tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Negeri Hila. Gereja ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial bagi masyarakat Kristen di wilayah tersebut. Dalam konteks kolonial, gereja sering kali berfungsi sebagai ruang pertemuan dan pembinaan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari sistem administrasi kolonial.

Letaknya yang berdampingan dengan Benteng Amsterdam semakin menegaskan posisi strategis gereja ini. Benteng Amsterdam merupakan peninggalan kolonial Belanda yang berfungsi sebagai pusat pertahanan dan perdagangan. Kedekatan kedua bangunan ini mencerminkan hubungan erat antara kekuasaan politik, ekonomi, dan agama pada masa kolonial di Maluku.

Hingga kini, Gereja Tua Hila Imanuel masih digunakan sebagai tempat ibadah dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Gereja ini juga menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang hampir selalu dikunjungi wisatawan yang datang ke Benteng Amsterdam.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Gereja Tua Hila Imanuel memiliki makna sosial yang sangat kuat bagi masyarakat Maluku. Gereja ini kerap disebut sebagai simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama, khususnya di Negeri Hila dan wilayah sekitarnya.

Gereja Tua Hila Imanuel: Jejak Awal Kekristenan dan Simbol Toleransi di MalukuGereja Tua Hila Imanuel tampak dari dalam (Instragram/@kataomed (Edi M.Y)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Budaya.data.kemdikbud.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Gereja Tua Hila Imanuel: Jejak Awal Kekristenan dan Simbol Toleransi di Maluku

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!