Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 15:26 WIB

Tradisi Hela Kereta di Maluku: Perayaan Imlek Komunitas Tionghoa Sebagai Warisan Budaya

Tradisi Hela Kereta di Maluku: Perayaan Imlek Komunitas Tionghoa Sebagai Warisan BudayaTradisi Hela Kereta Imlek Maluku (FB/@Indonesia Masa Lampau)

MALUKU - Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia tidak hanya identik dengan lampion merah, barongsai, dan doa keluarga. Di berbagai daerah, khususnya wilayah pesisir dan kota-kota pelabuhan, Imlek berkembang dengan tradisi lokal yang khas. Salah satu tradisi unik yang pernah hidup di Maluku adalah Tradisi Hela Kereta, sebuah ritual perayaan Imlek yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa dengan mengarak anak kecil menaiki kereta keliling kampung.

Tradisi Hela Kereta menjadi bagian penting dari dinamika budaya Tionghoa di Maluku pada masa lampau. Meski kini sudah tidak lagi dilaksanakan, tradisi ini menyimpan nilai sejarah dan budaya yang memperlihatkan kuatnya hubungan sosial antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lokal Maluku.

Hela Kereta secara harfiah dapat dimaknai sebagai “menarik kereta”. Dalam tradisi ini, seorang anak kecil ditempatkan di atas kereta yang dihias sedemikian rupa, kemudian diarak mengelilingi kampung. Anak yang diarak biasanya dipilih dengan pertimbangan simbolik, sebagai lambang kesucian, harapan baru, dan keberuntungan di awal tahun.

Kereta yang digunakan tidak dibiarkan kosong atau polos. Di sekelilingnya dipasang berbagai jenis buah-buahan, seperti jeruk, pisang, dan hasil bumi lainnya. Buah-buahan tersebut memiliki makna simbolis dalam budaya Tionghoa, yang kerap dikaitkan dengan kemakmuran, kesehatan, dan kesejahteraan.

Prosesi arak-arakan dilakukan dengan penuh suka cita. Masyarakat setempat, baik dari komunitas Tionghoa maupun warga non-Tionghoa, turut menyaksikan dan menyambut tradisi ini. Dalam beberapa kesempatan, buah-buahan yang menghiasi kereta kemudian dibagikan kepada warga sebagai simbol berbagi rezeki dan harapan baik di tahun yang baru.

Keberadaan Tradisi Hela Kereta menunjukkan bahwa perayaan Imlek di Maluku tidak berlangsung secara eksklusif. Sebaliknya, tradisi ini justru menjadi ruang perjumpaan sosial antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lokal.

Maluku sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan sejarah perdagangan yang kuat. Jalur rempah-rempah menjadikan daerah ini sebagai titik pertemuan berbagai etnis dan budaya, termasuk komunitas Tionghoa. Dalam konteks tersebut, Tradisi Hela Kereta mencerminkan proses akulturasi budaya yang berlangsung secara alami.

Arak-arakan keliling kampung bukan hanya ritual keagamaan atau budaya internal, tetapi juga menjadi tontonan publik. Kehadiran masyarakat sekitar dalam menyaksikan prosesi ini memperlihatkan adanya keterbukaan dan penerimaan sosial yang cukup kuat pada masa itu.

Di balik kemeriahan arak-arakan, Tradisi Hela Kereta mengandung nilai filosofis yang mendalam. Anak kecil yang diarak melambangkan awal kehidupan dan masa depan. Sementara itu, kereta yang ditarik bersama-sama mencerminkan perjalanan hidup yang tidak dijalani sendirian, melainkan dengan dukungan komunitas.

Buah-buahan yang dibagikan kepada masyarakat juga memiliki pesan moral yang jelas, yakni pentingnya berbagi dan menjaga keharmonisan sosial. Nilai ini sejalan dengan prinsip hidup masyarakat Maluku yang menjunjung tinggi kebersamaan dan solidaritas.

Dengan demikian, Tradisi Hela Kereta bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga sarana pendidikan budaya yang menanamkan nilai kebajikan, toleransi, dan rasa syukur.

Sayangnya, Tradisi Hela Kereta tidak bertahan hingga masa kini. Tradisi ini berhenti dilaksanakan sejak munculnya isu komunisme pasca peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) pada pertengahan dekade 1960-an.

Pada masa tersebut, berbagai aktivitas budaya yang berkaitan dengan komunitas Tionghoa mengalami pembatasan. Situasi politik nasional yang penuh kecurigaan berdampak pada ekspresi budaya, termasuk perayaan tradisional seperti Hela Kereta.

Di Maluku, kondisi ini turut memengaruhi keberlangsungan tradisi Imlek yang sebelumnya berjalan terbuka. Banyak ritual dan perayaan yang akhirnya dihentikan demi menghindari stigma atau risiko sosial. Tradisi Hela Kereta pun perlahan menghilang dari ruang publik dan tidak lagi diwariskan secara turun-temurun.Meski tradisinya telah berhenti, keberadaan Hela Kereta masih dapat ditelusuri melalui dokumentasi visual. Salah satu bukti penting adalah foto Tradisi Hela Kereta di Ambon yang diperkirakan diambil antara tahun 1900 hingga 1920.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesia Masa Lampau

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tradisi Hela Kereta di Maluku: Perayaan Imlek Komunitas Tionghoa Sebagai Warisan Budaya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!