Kerajaan Orang-Orang Alifuru di Nunusaku
MALUKU - Maluku bukan hanya dikenal sebagai negeri kepulauan yang kaya rempah, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan legenda-legenda tua penuh simbol dan misteri. Salah satu kisah yang paling menarik adalah tentang Kerajaan Orang-Orang Alifuru, bangsa yang konon mendiami pusat bumi di kawasan Nunusaku, Pulau Seram.
Dalam tradisi lisan masyarakat Seram, orang Alifuru digambarkan sebagai komunitas tangguh yang hidup di wilayah sakral yang disebut Tanah Bungsu, sebuah tempat yang dipercaya sebagai pusat alam semesta.
Menurut cerita turun-temurun, wilayah orang Alifuru berada di pusat bumi yang dinamakan Tanah Bungsu. Tempat ini juga dikenal dengan sebutan Keramat Kalam Alam Masyhur Alam Jadi. Nama tersebut menggambarkan betapa sakral dan agungnya wilayah itu dalam kosmologi masyarakat setempat.
Orang-orang Alifuru juga menyebut tanah mereka dengan nama panjang penuh makna: Gunung Maha Tinggi Alam Jadi Se Ulat Kau Lainito Nunu Saku Sufi-Sufi Putih Lala Nunu Saku Nusa Soleman Alam Kasturi. Penyebutan ini memperlihatkan betapa wilayah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simbol pusat kehidupan dan kekuatan spiritual.
Dalam kepercayaan mereka, Nunusaku bukan hanya lokasi geografis, melainkan pusat asal-usul manusia dan peradaban.
Bangsa Alifuru dikenal terbuka terhadap pendatang. Mereka senang menerima tamu, asalkan orang tersebut berhati baik dan jujur. Namun, jika pendatang memiliki niat buruk seperti menipu, mencuri, atau berdusta, hukuman yang diberikan sangat keras.
Konon, mereka akan membunuh pendatang yang dianggap berkhianat. Kepala musuh kemudian dimasukkan ke dalam kamboti, tas anyaman daun kelapa, dan digantung di rumah adat yang disebut Baileu.
Tradisi ini dalam konteks legenda menggambarkan ketegasan hukum adat dan pentingnya kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat. Baileu sendiri dikenal sebagai pusat kegiatan adat dan simbol persatuan masyarakat Maluku.
Dalam kehidupan sehari-hari, suku Alifuru kerap digambarkan sering berperang satu sama lain maupun melawan musuh dari luar. Karena itu, dalam setiap kelompok biasanya terdapat dua kapitan atau panglima perang.
Kedua panglima tersebut disebut Hulubalang Maha Tinggi Alam Jadi dan Hulubalang Maha Tinggi Alam Masyhur. Mereka memimpin peperangan bersama rakyat jelata dan menjadi simbol kekuatan militer bangsa Alifuru.
Keberadaan dua hulubalang ini menunjukkan sistem kepemimpinan kolektif dan pembagian peran dalam struktur sosial mereka.
Salah satu bagian paling mistis dalam legenda ini adalah kisah tentang daun mujarab milik orang Alifuru. Daun tersebut dipercaya memiliki kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan luka potong dalam waktu singkat.
Bahkan, jika ada bagian tubuh yang terpotong akibat tebasan parang, daun ini konon mampu menyambungkannya kembali seperti semula. Namun, keberadaan daun tersebut sangat dirahasiakan. Pohonnya dijaga ketat dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahui lokasi serta cara penggunaannya.
Kisah ini mencerminkan pengetahuan tradisional masyarakat terhadap tumbuhan obat yang diwariskan secara turun-temurun, meski dalam cerita dibalut unsur magis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah