Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 17:45 WIB

Sultan Hua dari Tanah Seberang: Jejak Raja Arab di Nunusaku dan Asal-Usul Ambon Luak

Sultan Hua dari Tanah Seberang: Jejak Raja Arab di Nunusaku dan Asal-Usul Ambon LuakSultan Hua dari Tanah Seberang

MALUKU - Indonesia dikenal sebagai negeri kepulauan yang kaya akan sejarah, legenda, dan kisah-kisah besar yang diwariskan secara turun-temurun. Di antara sekian banyak cerita rakyat dari Timur Indonesia, Maluku menyimpan kisah menarik tentang sosok pemimpin dari “tanah seberang” yang dikenal dengan nama Sultan Hua.

Legenda ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Seram, terutama di kalangan keturunan Alifuru, sebagai bagian dari narasi panjang tentang asal-usul, migrasi, dan percampuran budaya di bumi Nunusaku.

Ketika bangsa Belanda berhasil menguasai Maluku, situasi sosial dan politik di wilayah tersebut berubah drastis. Penjajahan yang diberlakukan tidak hanya menyasar pusat-pusat perdagangan rempah, tetapi juga menjangkau masyarakat pedalaman, termasuk bangsa Alifuru di Pulau Seram. Tekanan kolonial membuat banyak keluarga tercerai-berai. Anak cucu masyarakat adat terpaksa meninggalkan kampung halaman untuk menyelamatkan diri.

Di tengah kisah getir penjajahan itulah, cerita tentang leluhur besar seperti Sultan Hua tetap dikenang. Sosok ini dipercaya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah panjang masyarakat Alifuru di Seram, jauh sebelum masa kolonial datang.

Menurut penuturan lisan yang berkembang, Sultan Hua adalah bagian dari rombongan kedua yang tiba di Pulau Seram pada abad ke-13. Namun jauh sebelum itu, rombongan pertama disebut telah menginjakkan kaki di pulau ini sekitar tahun 237 sebelum Masehi. Kedatangan dua gelombang ini diyakini sebagai tonggak penting dalam pembentukan struktur masyarakat awal di Seram.

Sultan Hua sendiri digambarkan sebagai seorang raja dari negeri Ud di tanah Arab. Kisah ini memperlihatkan adanya hubungan imajiner maupun simbolik antara Maluku dengan dunia luar, khususnya kawasan Timur Tengah. Dalam banyak tradisi lisan Nusantara, tokoh dari “tanah seberang” kerap dihadirkan sebagai pembawa perubahan, pengetahuan, atau sistem pemerintahan baru.

Ia datang ke Pulau Seram tidak sendirian. Sultan Hua membawa serta istrinya, Fatima, yang disebut sebagai putri dari Raja Dama. Kehadiran Fatima memperkuat citra bangsawan dan legitimasi kekuasaan Sultan Hua sebagai sosok pemimpin yang memiliki garis keturunan terpandang.

Setibanya di Nunusaku wilayah yang dalam kosmologi masyarakat Seram dianggap sebagai pusat asal-usul kehidupan Sultan Hua membangun pemerintahan. Nunusaku sendiri diyakini sebagai kawasan sakral yang menjadi titik pertemuan tiga sungai besar dan simbol persatuan masyarakat Seram.

Pendirian pemerintahan di sana menandai lahirnya tatanan baru. Sultan Hua tidak hanya hadir sebagai pendatang, tetapi juga sebagai pemimpin yang melebur dengan masyarakat setempat. Ia kemudian menikah lagi dengan tiga perempuan dari Nunusaku: Siti Kiem Makahalat, Siti Hagar, dan Alas Kuling Besi.

Perkawinan ini memiliki makna lebih dari sekadar hubungan keluarga. Dalam konteks adat dan politik tradisional, pernikahan dengan perempuan lokal merupakan simbol integrasi, penguatan aliansi, dan penerimaan oleh masyarakat setempat. Melalui ikatan tersebut, Sultan Hua memperkuat posisinya sekaligus menyatukan unsur pendatang dan pribumi dalam satu garis keturunan.

Setelah menikah dengan perempuan-perempuan dari Nunusaku, Sultan Hua memperoleh gelar baru: Sultan Ambon Luak. Gelar ini mencerminkan perluasan pengaruhnya serta pengakuan atas kepemimpinannya di wilayah tersebut.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Sultan Hua membangun istana di Buano. Pulau Buano dikenal sebagai salah satu wilayah strategis di Maluku, baik secara geografis maupun kultural. Pembangunan istana di sana menunjukkan bahwa kekuasaan Sultan Hua tidak hanya terpusat di pedalaman Seram, tetapi juga menjangkau wilayah pesisir.

Buano kemudian menjadi simbol kejayaan dan pusat aktivitas pemerintahan Sultan Ambon Luak. Dari sanalah ia mengatur wilayah, menjalin hubungan dengan masyarakat, serta memperkuat struktur sosial yang telah dibangunnya.

Sultan Hua menghabiskan sisa hidupnya di Buano hingga akhirnya wafat di sana. Makamnya disebut berada di atas Gunung Hatumahu. Keberadaan makam di tempat tinggi seperti gunung sering kali memiliki makna simbolik dalam tradisi Nusantara. Gunung dipandang sebagai tempat suci, dekat dengan langit, dan menjadi penghubung antara dunia manusia dan alam spiritual.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sultan Hua dari Tanah Seberang: Jejak Raja Arab di Nunusaku dan Asal-Usul Ambon Luak

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!