Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 04 MARET 2026 • 09:51 WIB

Ritual Eik Bet-Bet, Tradisi Injak Tanah Warisan Leluhur Masyarakat Weda

Ritual Eik Bet-Bet, Tradisi Injak Tanah Warisan Leluhur Masyarakat WedaIlustrasi Upacara Eik Bet-Bet

MALUKU - Maluku Utara tak hanya kaya akan panorama alam dan sejarah kesultanan, tetapi juga menyimpan tradisi adat yang sarat makna filosofis. Salah satu ritual yang masih lestari hingga kini adalah Eik Bet-Bet, upacara penyambutan tamu kehormatan yang menjadi kebanggaan masyarakat Weda, Kabupaten Halmahera Tengah.

Ritual Eik Bet-Bet atau yang juga dikenal sebagai upacara “injak tanah” bukan sekadar seremoni adat. Ia merupakan simbol penghormatan kepada tamu, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus doa untuk keselamatan dan keberkahan dalam setiap fase kehidupan baru.

Secara harfiah, Eik berarti injak dan Bet-Bet berarti tanah. Dalam bahasa masyarakat Weda, tanah disebut sebagai “nono betbet” atau ibu tanah. Tanah dipandang sebagai rahim kehidupan, tempat manusia berasal sekaligus sumber segala kekayaan alam yang menopang kehidupan.

Kepercayaan ini berakar dari pandangan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Oleh karena itu, setiap pijakan pertama di suatu tempat harus diawali dengan penghormatan. Ritual injak tanah menjadi simbol kesadaran manusia atas asal-usulnya, sekaligus bentuk penghargaan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.

Eik Bet-Bet biasanya dilaksanakan saat menyambut tamu kehormatan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di suatu wilayah. Upacara ini menjadi pembuka dari berbagai acara resmi, terutama kegiatan yang menghadirkan tamu kenegaraan maupun tokoh kesultanan.

Menariknya, tradisi injak tanah tidak hanya dikenal di Weda. Di berbagai wilayah Maluku Utara, ritual ini memiliki penyebutan berbeda sesuai bahasa lokal setempat. Di Ternate dikenal dengan sebutan joko kaha, di Tidore disebut joko hale, di Kepulauan Sula dikenal sebagai baka yab hai, sementara di Weda disebut Eik Bet-Bet.

Perbedaan istilah tersebut menunjukkan betapa luasnya pengaruh tradisi ini dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara. Meski berbeda nama, esensinya tetap sama, yakni penghormatan terhadap tamu dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Ritual ini merupakan bentuk akulturasi nilai-nilai religius dan adat yang berkembang di masyarakat. Unsur keagamaan dan budaya berpadu harmonis, menjadikan Eik Bet-Bet bukan hanya tradisi adat, tetapi juga ekspresi spiritualitas.

Eik Bet-Bet tidak terbatas pada penyambutan tamu kenegaraan atau pejabat. Dalam praktiknya, ritual ini juga dilakukan dalam momentum penting kehidupan seseorang.

Salah satunya adalah bagi bayi laki-laki yang telah dikhitan atau disunat. Ketika bayi berusia 44 hari dan siap keluar rumah untuk pertama kalinya, ritual injak tanah dilakukan sebagai bentuk doa dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Secara esensial, Eik Bet-Bet diperuntukkan bagi siapa pun yang akan memulai fase atau periode baru dalam hidupnya. Baik itu tamu yang memasuki wilayah baru, anak yang memulai perjalanan hidup di luar rumah, maupun individu yang memulai peran sosial baru di tengah masyarakat.

Ritual ini menjadi simbol harapan agar perjalanan hidup yang baru tersebut senantiasa diberkahi dan dilindungi.

Eik Bet-Bet tidak dapat dipisahkan dari nilai dasar fagogoru tiga negeri atau gamrange yang menjadi sumber adat istiadat masyarakat Weda. Nilai fagogoru menjadi pedoman dalam memuliakan tamu dan menjaga harmoni sosial.

Ada empat nilai utama dalam fagogoru, yaitu:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Https://ejournal.unsrat.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ritual Eik Bet-Bet, Tradisi Injak Tanah Warisan Leluhur Masyarakat Weda

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!