Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 17 MARET 2026 • 17:05 WIB

Pesona Sejarah dan Budaya Maluku di Museum Siwalima Ambon

Pesona Sejarah dan Budaya Maluku di Museum Siwalima AmbonMuseum Siwalima Ambon (Humas)

MALUKU - Di tengah kekayaan alam dan budaya Indonesia bagian timur, Museum Siwalima hadir sebagai salah satu destinasi wisata edukatif yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Ambon. Terletak di kawasan Taman Makmur, Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, museum ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga ruang pembelajaran yang menghidupkan kembali jejak peradaban masyarakat Maluku dari masa ke masa.

Didirikan pada 8 November 1973 dan diresmikan pada 26 Maret 1977, Museum Siwalima berdiri megah di atas perbukitan yang langsung menghadap ke Teluk Ambon. Pemandangan laut yang membentang luas menjadi nilai tambah tersendiri bagi pengunjung. Tidak hanya belajar sejarah, wisatawan juga dimanjakan dengan panorama alam yang eksotis dan menenangkan. Perpaduan antara nilai edukasi dan keindahan alam inilah yang membuat museum ini memiliki daya tarik unik dibandingkan museum lainnya.

Nama “Siwalima” bukan sekadar identitas, melainkan mengandung nilai sejarah dan filosofi yang mendalam. Kata ini merupakan gabungan dari dua istilah, yakni “Siwa” dan “Lima”. Dalam sejarah Maluku, “Siwa” merujuk pada Ulisiwa, yaitu kelompok sembilan kerajaan yang berada di wilayah selatan Maluku. Sementara “Lima” berasal dari Patalima, yaitu kumpulan lima kerajaan di wilayah utara Maluku.

Penggabungan dua istilah tersebut mencerminkan semangat persatuan masyarakat Maluku yang sejak dahulu telah hidup dalam keberagaman. Filosofi ini juga menjadi simbol harmonisasi antara dua kelompok besar yang berbeda wilayah, tetapi tetap bersatu dalam identitas budaya yang sama. Nilai persatuan ini terasa relevan hingga saat ini, terutama dalam menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Ketika memasuki kawasan museum, pengunjung akan disambut dengan tulisan khas di pintu masuk bertuliskan “Usu Mae Upu”, yang berarti “Mari Silakan Masuk”. Ungkapan ini mencerminkan keramahan masyarakat Maluku yang terbuka terhadap siapa saja, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Seiring perkembangan waktu dan bertambahnya koleksi, Museum Siwalima kini terbagi menjadi dua bangunan utama yang masing-masing memiliki karakter dan fokus yang berbeda, yaitu Museum Kelautan dan Museum Budaya.

Bangunan pertama dikenal sebagai Museum Kelautan Siwalima. Sesuai namanya, museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan kehidupan laut masyarakat Maluku. Hal ini tidak mengherankan mengingat Maluku dikenal sebagai wilayah kepulauan dengan budaya maritim yang sangat kuat.

Salah satu koleksi paling mencuri perhatian adalah tiga kerangka ikan paus dengan panjang masing-masing sekitar 9 meter, 17 meter, dan 19 meter. Keberadaan kerangka paus ini menjadi daya tarik utama sekaligus bukti kekayaan biodiversitas laut di wilayah Maluku. Selain itu, terdapat pula berbagai jenis biota laut yang diawetkan, alat tangkap ikan tradisional, serta artefak yang menggambarkan hubungan erat masyarakat dengan laut.

Melalui koleksi ini, pengunjung diajak memahami bahwa laut bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat Maluku. Laut menjadi ruang hidup, sumber inspirasi, dan sekaligus warisan budaya yang harus dijaga.

Bangunan kedua adalah Museum Budaya Siwalima, yang menyimpan beragam koleksi terkait kehidupan sosial dan budaya masyarakat Maluku. Di sini, pengunjung dapat menemukan miniatur rumah adat, pakaian tradisional, alat pertanian, senjata tradisional, hingga perlengkapan upacara adat.

Selain itu, terdapat pula koleksi uang kuno serta berbagai guci peninggalan masa penjajahan Jepang. Benda-benda ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Maluku dalam menghadapi berbagai dinamika zaman, termasuk masa kolonialisme.

Museum Budaya Siwalima memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana masyarakat Maluku menjalani kehidupan sehari-hari, mulai dari sistem kepercayaan, struktur sosial, hingga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap koleksi memiliki cerita tersendiri yang memperkaya pemahaman pengunjung terhadap budaya lokal.

Salah satu keunggulan Museum Siwalima adalah pendekatan edukasi yang interaktif. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi secara pasif, tetapi juga dapat memperoleh penjelasan langsung dari petugas museum yang siap memberikan informasi secara rinci.

Bahkan, pengunjung dapat mengajukan permintaan khusus untuk menikmati pertunjukan budaya seperti musik tradisional, pementasan tari, hingga demonstrasi pembuatan kain tenun khas Maluku. Hal ini tentu menjadi pengalaman yang lebih mendalam dibandingkan sekadar melihat benda-benda koleksi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ambon.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Pesona Sejarah dan Budaya Maluku di Museum Siwalima Ambon

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!